de Wolfree Part 2
Saat
para Vampire hendak menghisap darah Robert, ia tetap melawan dan Vampire
tersebut melemparnya
ke pohon disampingnya. Itu cukup untuk membuatnya pingsan, Vampire tersebut
mulai mendekat dan
akan menghisap darah Robbert. Erio melihat Robert yang tidak sadarkan diri, “ROBERT!!!”
kata Erio sambil berlari mendatangi Robert. Di tangan kiri Erio terukir tanda
‘A’(Azul) yang berarti ia bisa berubah menjadi Lycan seperti pendahulunya.
Elika dan Starla melihat Erio berubah menjadi Lycan, mereka baru sadar jika ada
rahasia dibalik nama de Wolfree. Erio dengan wujud Lycannya memunuh semua
Vampire yang mengikuti mereka. Setelah
semua Vampire dibunuhnya, Lycan Erio langsung menjauh dari mereka bertiga.
Sepertinya ia masih memiliki kesadaran akan tubuhnya. Meski begitu mereka
berdua tidak bisa
diam meratapi hal itu, “Starla, jaga Robbert sampai aku kembali.
Aku akan mengejar
Erio.” kata Elika.
“Itu
tidak mungkin, jika kau terkena gigitannya kau juga akan menjadi Lycan untuk
selamanya.” kata Starla. “Tapi kita tidak bisa membiarkan ini terjadi
meski Erio sebenarnya adalah Lycan …”
kata
Elika. “Kali ini kau benar-benar serius dengan apa yang
katakan, bukan begitu?” tanya Starla, “Ya, untuk kali ini aku ingin benar-benar
membantu kelompok ini.” Kata Elika.
“Baiklah tapi cepat, Lycan hanya akan berubah jika ada sinar Bulan, saat Bulan
tertutup Lycan akan kembali menjadi manusia lagi. Bersembunyilah dan
berhati-hati.” Kata Starla
memberi saran.
“Terima kasih.” jawab Elika, lalu menyusul Erio. Meski mutahil mengejar Lycan,
tapi Elika memaksakan diri untuk mengejar Erio. Beberapa
saat kemudian Bulan
pun tertutup oleh awan, Lycan Erio kembali ke wujud manusianya. Melihat itu
Elika bergegas menyusul Erio, dan ia berhasil menyusulnya. “Elika? Tidak, kembalilah
sebelum terlambat! Aku seorang Lycan.” kata Erio. “Tapi bagaimana denganmu? Kau
tidak menyerang kami saat menjadi Lycan, Aku rasa kau masih bisa mengendalikan
kekuatan tersebut.” jawab Elika. “Menjadi Lycan bukanlah sebuah anugrah, ini
adalah kutukan jadi cepat pergi sebelum aku berubah lagi!” kata Erio melarang
Elika. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Kau masih punya kesempatan untuk
kembali, kembali menjadi Erio yang Aku kenal!” Kata Elika
yang tetap memaksakan diri.
Bulan
yang tertutup awan mulai bersinar lagi, Erio merasakan rasa sakit yang luar
biasa karena efek perubahan fisiknya. “Elika ..! Cepat .. pergi dari sini ..!!”
kata Erio yang dalam fase perubahan, Elika tidak tega melihat Erio merasa
kesakitan seperti itu. Erio mulai kembali menjadi Lycan, Elika terlihat
ketakutan karena ia tidak berfikir panjang jika ini akan terjadi. “Erio ..”
kata Elika, namun Erio hanya menggeram seperti Lycan pada umumnya. Erio yang
telah menjadi Lycan mulai mencoba menyerang Elika, dan ia hanya bisa
menghindari serangan Erio karena tidak mau menyakiti Erio meski dalam wujud
Lycan. Karena terlalu banyak bergerak tanpa memperhatikan area sekitar, Elika
terjatuh dan perlahan-lahan Lycan Erio mendatanginya. “Erio ..” Elika
mengatakan hal yang sama, dan Erio tetap tidak merespon. “Ini bukanah dirimu,
Erio … Kau harus bisa melawannya sekuat tenagamu!” kata Elika, Erio semakin
mendekat dan siap menyerang. “Kembalilah …” kata Elika sambil meneteskan air
matanya, Lycan Erio mulai mengarahkan Cakarnya kepada Elika. “… Erio!” teriak
Elika.
Sepertinya
suara Elika dapat menyadarkan Erio lagi, Cakar Erio berhenti tepat didepan
Elika. Lycna Erio mulai bertingkah aneh, Elika tidak tau harus berbuat apa
lagi. Erio terlihat melawan sisi lain dirinya itu, dan perlahan-lahan Erio
kembali ke wujud manusianya. “Erio!” kata Elika yang langsung memeluk Erio
karena cemas, “Maaf membuatmu terlibat ini semua, Elika” kata Erio. “Tidak!
Tidak apa-apa, Erio!” kata Elika yang tidak bisa menahan ari matanya mengalir,
“Elika ..” kata Erio sambil membelai rambut Elika. “Kau tetap akan kembali,
bukan?” tanya Elika, “Aku … entahlah, aku tidak tau. Pada kenyataannya aku
seorang Lycan, penduduk desa mungkin akan langsung mengusirku atau bahkan
membunuhku.” Kata Erio dengan tidak yakin. “Jangan berbicara seperti itu! Aku
dan Starla akan merahasiakan ini semua, bahkan dari Robert sekali pun!” kata
Elika yang tidak ingin Erio pergi, “Tetapi sama saja – ..! Mungkinkah ..?!”
kata Erio. “Ada apa, Erio?” tanya Elika, “Kita harus segera kembali ke desa,
ada hal yang harus aku lakukan.” Kata Erio. “Kau tetap akan kembali!” kata
Elika, “Mungkin, tetapi semoga saja begitu.” Kata Erio. Setelah itu mereka
pergi menemui Starla dan Robert.
Sepertinya
kata-kata Elika berhasil meyakinkan Erio sehingga ia mau kembali dengan Robbert
dan Starla. “Akhirnya sampai juga.” kata Starla. “Apa Robert masih belum
sadar?” tanya Elika. “Belum, mungkin besok dia sudah sadar kembali.” Kata
Starla. “Oh tidak,
ini salahku. Aku membuat Robert menjadi seperti ini..” kata Erio dengan sedikit
panik. “Tenanglah, bukan
kau yang membuat Robbert pingsan. Vampire yang hendak menghisap darahnyalah
yang membenturkan Robert ke pohon hingga ia pingsan.” Kata
Starla. Erio sedikit
merasa lega, “Starla, kau juga melihatnya juga ‘kan? Aku mohon rahasiakan ini
dari semua orang jika Erio adalah Lycan, termasuk kepada keluargamu dan juga
Robbert.” Kata Elika.
“Memangnya ada apa? Ini memang kenyataannya, cepat atau lambat semua
orang pasti juga akan tau.”
kata
Starla. “Erio adalah teman kita, jangan sampai identitas
rahasianya itu memutuskan tali persahabatan kita.” Kata Elika, “Kau melakukannya untuk dirimu sendiri,
bukan?” kata Starla. “A-apa maksudmu? Tentu saja tidak!” kata Elika, “Dari
jawabanmu saja aku sudah tau.” Kata Starla.
“Aku tidak
mengerti kalian ini membahas apa, tetapi kita harus segera kembali ke
Markas Pusat.” Kata Erio, “Lalu apa yang akan kau katakana di sana nantinya?”
tanya Starla. “Ya, aku terpaksa harus melepas Armorku untuk menjebak para
Vampire karena kalian tidak mau.” Kata Erio, “Ya, itu luma – Apa?!” kata Starla
tidak terima. “Benar bukan? Kita bisa bilang jika Robert sudah pingsan dan
terpaksa aku menggunakan Armoku sebagai pangalihan untuk menjebak para Vampire.
Lagi pula apa kalian mau melepas –” , “Tidak perlu dilanjutkan!” kata Starla
langsung memukul Erio. “Kadang-kadang kau juga bisa menakutkan ..” kata Elika,
“Jangan memancing kesabaranku!” kata Starla. “Haha! Maaf maaf, aku hanya
menjelaskan alasanku saja ..” kata Erio, “Sudah aku bilang tidak perlu
dilanjutkan!” kata Starla. “Baik baik, santai saja! Cepat, kita harus segera
kembali ke Markas Pusat.” Kata Erio, lalu mereka segera kembali ke Markas Pusat.
Dan
sesampainya mereka di Markas Pusat, “Diaman akal sehatmu! Pergi keluar
malam-malam seperti ini hanya dengan celana saja!” kata penjaga di sana. “Aku
sudah bilang bukan, jika kami mendapat panggilan tugas.” Kata Erio, “Tugas apa
yang mewajibkan orang hanya menggunakan celana tanpa pakaian?!” kata penjaga
tersebut. “Sudahlah, ceritanya panjang. Aku malas jika harus menceritakannya
lagi untuk kesekian kali.” Kata Erio, “Kau ini ..!” kata penajaga tersebut.
“Ada apa ini?!” tanya Albus, “Ah, paman. Bisa bantu aku untuk masuk? Orang ini
benar-benar keras kepala.” Kata Erio. “Kau yang keras kepala!” kata penjaga
tersebut dengan kesal, “Sudahlah, biarkan mereka masuk. Dan juga, apa yang
terjadi dengan pakaianmu?” tanya Albus. “Tadi dalam perjalanan pulang kami
diikuti oleh para Vampire, Robert pingsan karena pertarungan sebelumnya dan aku
terpaksa menggunakan pakaianku sebagai pengalihan untuk menjebak para Vampire.
Tidak mungkin bukan jika aku meminta para –” , “Tidak perlu dilanjutkan!” kata
Starla memeotong
pembicaraan.
“Begitu
rupanya.” Kata Albus, “Kau ..! Kau adalah orang ditugaskan untuk memata-matai
Istana Vampire?!” kata penjaga tersebut tidak percaya. “Ya, benar.” Jawab Erio,
“Dan kau bisa kembali dengan selamat?!”
kata penjaga tersebut. “Ya ampun, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Erio,
“T-tidak, bukan apa-apa. Maaf sudah menghalangimu.” Kata penjaga tersebut
mempersilahkan Erio dan teman-temannya masuk. “Permisi.” Kata Elika yang masuk
bersama teman-temannya, “Y-ya silahkan.” Kata penjaga tersebut. “Aneh, apa yang
sebenarnya terjadi?” tanya Erio, “Kau merupakan salah satu orang yang berhasil
kembali dengan selamat setelah dari Istana Vampire, tidak banyak orang yang
sepretimu.” Kata Albus. “Jadi orang sepertiku lebih disegani?” kata Erio
sedikit menyombongkan diri, “Jangan senang terlebih dahulu, jika bukan karena
kami yang memasang perangkap kau tidak akan ada di sini sekarang.” Kata Starla.
“Hanya itu, kau tidak tau rasanya menjadi umpan bagi para Vampire.” Kata Erio,
“Haha, sudahlah. Jika kalian bekerja sama, kalian akan lebih mudah
menyelesaikan masalah.” Kata Albus. “Dengar itu, Erio.” Kata Elika, “Ya ya, aku
tau.” Kata Erio. Lalu Erio membawa Robert ke tempat dimana para Ksatria dirawat
karena cedera.
Setelah
masalah Robert terselesaikan, Erio pulang bersama pamannya. “Sampai jumpa besok, Erio.” Kata Elika, “Ya,
sampai jumpa besok.” Jawab Erio. “Sudahlah, kau tidak perlu menahannya.” Kata
Starla dalam perjalanan pulangnya bersama Elika, “A-apa maksudmu?” tanya Elika.
“Aku rasa Erio sendiri tau jika kau suka padanya.” Kata Starla memanas-manasi suasana,
“Jangan keras-keras! Kita masih belum jauh!” kata Elika sedikit malu. “Aku rasa
kau sudah memiliki penggemar.” Kata Albus, “Entahlah.” Kata Erio. “Kau sendiri
tau jika aku tidak akan langsung percaya dengan alasanmu itu, bukan begitu?”
kata Albus, “Paman, apakah kau juga bisa berubah menjadi Lycan seperti kakek
moyang kita Loupin de Wolfree?” tanya Erio. “Ada apa? Apakah kau telah berubah
juga?” tanya Albus, “B-bagaimana paman bisa tau?” tanya Erio, “Semua anak
laki-laki keturunan de Wolfree memiliki kemampuan tersebut, kau
sendiri yang harus memutuskan
menerimanya atau tidak.” Kata Albus. “Lalu apa hubungannya dengan ini?” tanya
Erio sambil menunjukan telapak tangan kirinya yang bertanda ‘A’ , “ ‘A’ ?! Azul
Wolf?!” kata Albus tidak percaya.
“Ada apa,
paman?” tanya Erio, “Garis keturunan Azul Wolf sudah mulai langka, akhirnya
sekarang garis keturunan tersebut berlanjut lagi!” kata Albus dengan senang.
“Aku masih belum paham.” Kata Erio, “Garis keturunan Azul Wolf merupakan
pemimpin keluarga ini dari generasi ke generasi, suatu saat nanti kau akan
memimpin keluarga ini, Erio.” Kata Albus. “M-memimpin?! Yang benar saja!” kata
Erio tidak percaya, “Sebagai anggota keluarga ini sekaligus pamanmu, aku akan
mengajarimu cara menggunakan kekuatan ini.” Kata Albus. “Tunggu sebentar, jadi
paman juga bisa berubah?” tanya Erio, “Ya benar, aku sudah memberitaumu bukan?
Tetapi garis keturunanku adalah Glacial (karena telapak tangannya bertanda
‘G’).” jawab Albus. “Lalu
apa yang harus aku lakukan?” tanya Erio, “Sampai saatnya latihan dimulai kau
dilarang untuk mengetahuinya.” Jawab Albus. “Apakah sedikit saja tidak boleh?”
kata Erio memaksa pamannya, “Baiklah akan aku beritau sedikit.” Kata Albus.
“Apa itu? Apa itu?” kata Erio semakin penasaran, “Sekali kau mulai, kau tidak
bisa berhenti.” Kata Albus. “A-apa?” kata Erio masih tidak paham, “Kau harus
menyelesaikan latihan ini jika kau ingin kehidupanmu seperti biasa tetap
berlanjut.” Kata Albus. “Itu bukan petunjuk atau apa ..” kata Erio sedikit
mengeluh, lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Keesokan
harinya, Erio tidak mengikuti pelatihan dan hanya meninggalkan pesan untuk
mengurus hasil pengamatan mereka tadi malam. “Aku tidak percaya dia
meninggalkan ini semua!” kata Robert dengan kesal, “Apakah ... Tidak mungkin
... !” kata Elika pada dirinya sendiri. “Ada apa denganmu?” tanya Starla,
“Aneh, tidak seperti biasanya kau sangat panik seperti ini.” Kata Robert.
Tetapi Elika tidak berani menjawab, “Apa yang terjadi semalam?” tanya Robert.
Elika juga tidak berani menjawab, “Tadi malam ada penjaga yang melarang kami
masuk karena Erio hanya menggunakan celananya saja karena –” . “Apa?! Apa saja
yang ia lakukan?!” kata Robert
memotong pembicaraan, “Dengarkan dulu sampai selesai!” kata Starla. “Baiklah baiklah, lanjutkan.” Kata Robert mengalah, “Karena kau pingsan setelah dibenturkan oleh Vampire yang menyerangmu tadi malam Erio menggunakan Armornya untuk membuat pengalihan dan mulai menghabisi para Vampire.” Kata Starla. “Tetapi –” , “Ssstt! Aku terpaksa melakukannya!” kata Starla berbisik saat menutup mulut Elika dan berbisik kepadanya.
memotong pembicaraan, “Dengarkan dulu sampai selesai!” kata Starla. “Baiklah baiklah, lanjutkan.” Kata Robert mengalah, “Karena kau pingsan setelah dibenturkan oleh Vampire yang menyerangmu tadi malam Erio menggunakan Armornya untuk membuat pengalihan dan mulai menghabisi para Vampire.” Kata Starla. “Tetapi –” , “Ssstt! Aku terpaksa melakukannya!” kata Starla berbisik saat menutup mulut Elika dan berbisik kepadanya.
Starla
terpaksa berbohong karena tidak mau membuat Elika lebih panik lagi karena
pertanyaan Robert. “Apa?!” kata Robert masih tidak terima, “Ya ampun. Kau ini
sebenarnya kenapa?!” tanya Starla. “Dia ..! Dia ...!” kata Robert, “Cepat
selesaikan apa yang ingin kau katakan!” kata Starla. “Dia bisa menghabisi para
Vampire itu tanpa Armor! Bagaimana bisa aku kalah dengannya!” kata Robert tidak
terima, “Hhh ... kau ini ..!” kata Starla bernafas lega karena hanya itu yang
Robert fikirkan.
“Lalu apa ada yang tau kemana Erio pergi?” tanya Robert, “Kau menanyakannya kepada
kami?!” kata Starla yang jelas tidak tau. “Siapa tau?” kata Robert, “Memangnya
ada apa kau menanyakan hal itu?” tanya Elika. “Ada banyak hal yang harus Erio jelaskan
kepadaku!” kata Robert.
“Memangnya
apa hubungannya denganmu?” tanya Starla, “Tentu saja ada! Dia bisa mengalahkan
banyak Vampire bahkan tanpa Armor sekalipun ..!” kata Robert semakin penasaran.
“Jika kau ingin seperti itu, berlatihlah yang serius dan jaga selalu
peralatanmu dengan baik!” kata Starla, “Memangnya kalian tidak ingin tau kemana
Erio pergi?” tanya Robert. “Itu ..” kata Elika, “Kenapa juga kami harus ingin
tau? Itu urusannya sendiri.” Kata Starla. “Kalian ini ...” kata Robert,
“Sudahlah, akui saja jika Erio lebih baik darimu!” kata Starla. “Starla!” kata
Elika, “Hm? Ada apa?” tanya Starla. “Kenapa kau juga!” kata Elika yang salah
paham, “E-eh! Ini tidak seperti yang kau fikirkan ..!” kata Starla. “Hahaha,
cinta segitiga ya!” kata Robert, “Kau ini bukannya membantu malah semakin
memanaskan suasana!” kata Starla. “Jadi kau mulai tetarik pada Erio juga?” kata
Robert semakin memanas-manasi suasana, “T-tidak mungkin!” kata Starla. “Sudah,
akui saja jika kau juga suka pada Erio.” Kata Robert, “D-diam saja kau ..!”
kata Starla. “Starla tidak boleh suka pada Erio!” kata Elika, “Sudah aku katakan
jika aku tidak tertarik pada Erio ..!” kata Starla. Dan begitulah kehidupan
teman-teman Erio saat ia tidak ada.
Beberapa
minggu kemudian, Erio telah kembali dan mulai mengikuti pelatihan lagi.
“Starla! Bukankah itu Erio?” tanya Elika, “Kau benar! Dia tidak terlalu banyak
berubah.” Kata Starla. “Ayo kita menemuinya!” kata Elika langsung menghampiri
Erio, “Tunggu!” kata Starla. Robert pun tidak mereka perhatikan, “Kemana mereka
pergi – Erio?!” kata Robert tidak yang tidak percaya langsung menghampiri Erio
juga. “Erio!” kata Elika dari jauh, “Hah? Sepertinya ada yang memanggilku?”
kata Erio sambil melihat-lihat orang disekitarnya. “Erio!” kata Elika
memanggilnya lagi, lalu Erio berlbalik karena mendengar ada yang memanggilnya
lagi. “Oh, ternyata Elika ..” kata Erio, begitu Elika sampai ia langsung
memeluk Erio karena sangat merindukannya. “..! Elika ..” kata Erio tidak tau
harus berbicara apa, “Aku senang kau seudah kembali ... Erio.” Kata Elika. “Ya
ampun, kau memintaku untuk menemui Erio hanya untuk melihatmu bermesraan
dengannya?” kata Starla, “S-Starla! I-ini tidak seperti yang kau fikirkan! Elika,
bisa lepaskan?” kata Erio sedikit malu. “Ternyata setelah kau pergi ..” kata
Robert tidak mau melanjutkan, “R-Robert! Kau salah paham! Elika tolong
lepaskan.” Kata Erio.
“M-maaf
...” kata Elika, “Jika kalian ingin bermesraan jangan di sini!” kata Robert.
“Siapa yang bermesraan?!” kata Erio tidak terima, “Buktinya tepat didepan
mataku dan bahkan ada saksi lain.” Kata Robert. “Memangnya apa urusannya
denganmu?!” kata Erio, “Aku tidak perduli, kemana saja kau ini?!” kata Robert.
“Ada apa? Kau juga rindu kepadaku?” kata Erio sedikit memancing emosi Robert,
“Untuk apa aku rindu kepadamu?!” kata Robert. “Siapa tau kau juga?” kata Erio,
“Kenyataannya dulu kau juga ingin tau kemana Erio pergi bukan?” kata Starla.
“A-apa ..?! Yang benar saja!” kata Robert tidak mau mengakuinya, “Haha!” Erio tertawa melihat ekspresi Robert. “Kehidupanmu terasa tidak ada bedanya meski kau baru saja kembali.” Kata Starla, “Haha, siapa tau. Aku tidak.” Kata Erio. “Bertanya sendiri jawab sendiri ..” kata Starla, “Setelah latihan hari ini, bisakah kami berbicara sebentar denganmu?” tanya Elika. “Baiklah, ada apa?” tanya Erio, “Nanti, Erio. Tidakkah kau mendengarnya?” kata Starla. “Ya ya, baiklah.” Kata Erio. “Ada apa ini? Masalah cinta segitiga lagi?” kata Robert memanas-manasi suasana. “A-apa maksudmu?!” kata Starla tersinggung, “Cinta segitiga? Siapa?” tanya Erio.
“Kau tau
..” kata Robert, “D-diamlah!” kata Starla sedikit malu. “Sudahlah, tidak perlu
dengarkan apa yang dikatakan Robert.” Kata Elika membela diri dan juga Starla,
“Aku tau, memangnya ada apa ini?” tanya Erio lagi. “Sebenarnya –” , “Sudahlah,
ini hanya omong kosong Robert saja.” Kata Starla. “Kalian ini seperti
menyembunyikan sesuatu dariku ..” kata Erio, “Tidak ada apa-apa, Erio. Apakah
aku harus memelukmu lagi agar kau percaya?” kata Elika. “A-apa yang –! Tidakkah
kau tau ini lingkungan umum?!” kata Erio, “Tentu saja aku tau.” Jawab Elika.
“Lalu kenapa kau – harus – aaahh!! Terserah kau saja ..” kata Erio tidak tau
harus berbicara apa, “Jangan melakukan hal-hal yang mencurigakan saat aku tidak
ada, Erio.” Kata Robert. “Kau tidak ikut?” tanya Erio, “Aku tidak mau
mengganggu saat-saat romantic kalian bertiga.” Kata Robert. “Dia saja kau!”
kata Starla sambil menutup mulut Robert, “Iya iya, maaf! Lagi pula aku hanya
bercanda ..!” kata Robert. “Bercandamu jelek.” Kata Starla, “Ada sesuatu yang
harus aku lakukan, jangan berbuat yang macam-macam.” Kata Robert. “Ya! Aku tau
itu!” kata Erio dengan yakin, “Aku pegang kata-katamu!” kata Robert. “Ya ya,
terserah kau saja.” Kata Erio, lalu mereka melanjutkan aktifitas mereka di
sana.
Setelah
mereka menyelesaikan pelatihan hari ini, Erio, Elika, dan Starla membicarakan
kemampuan Erio waktu itu. “Erio, bagaimana dengan kemampuanmu untuk beruba
waktu itu?” tanya Starla, “Sepertinya kalian masih belum atau tidak bisa
melupakan peristiwa itu.” Kata Erio. “Kami hanya ingin tau saja, Erio.” Kata
Elika, “Tidakkah mengetahui rahasia orang lain itu sedikit tidak sopan?” kata
Erio. “Apakah kami juga harus memberitau rahasia kami kepadamu?” kata Starla,
Erio sedikit berfikir yang macam-macam. “Jika kalian ingin mengatakannya, aku
tidak keberatan.” Kata Erio, “Kau ini seenaknya saja ..!” kata Starla. “Kalian
sendiri yang ingin memberitau, kenapa harus aku larang?” kata Erio, “Baiklah
kalau begitu, sebenarnya –” , “– Robert salah paham dengan cinta segitiga yang
ia katakan tadi.” Kata Starla memotong pembicaraan. “Ya, Robert sudah salah
paham dengan cinta segitiga yang tadi ia katakan.” Kata Elika menambahi, “Aku
memang tidak percaya dengan apa yang ia katakan tadi, lalu siapa yang ia
maksud?” tanya Erio. “Mana aku tau! Aku sedikit bingung dengan jalan
fikirannya.” Kata Starla, “Sekarang bisakah kau memberitau kami tentang
kemampuanmu itu?” tanya Elika.
“Baiklah
kalau begitu.” Kata Erio, lalu mereka berdua bersiap-siap mendengar jawaban
Erio. “Kalian sendiri tau jika selama beberapa minggu kemarin aku tidak
mengikuti pelatihan karena aku belajar untuk menguasai kemamp – tidak, kutukan
ini.” Kata Erio, “Haruskah kau memaksakan dirimu seperti itu?” tanya Elika.
“Mau tidak mau aku harus melakukannya.” Kata Erio, “Jadi, hasilnya?” tanya
Starla. “Untuk sekarang, aku sudah bisa mengendalikan kekuatan ini. Namun aku
harus berlatih lebih keras agar dapat mengendalikan kekuatan ini secara penuh.”
Kata Erio, “Apakah ada orang lain yang memiliki kemampuan ini?” tanya Starla.
“Aku .. aku tidak bisa memberitaumu di sini, tidak aman jika mengatakannya
sekarang.” Kata Erio, “Lalu, kapan dan dimana?” tanya Elika. “Aku rasa aku
harus membawa kalian ke kediaman keluarga de Wolfree.” Kata Erio. “Boleh juga!”
kata Starla dengan semangat, “Apa boleh?” tanya Elika. “Aku rasa begitu, akan
aku jelaskan pada semua anggota keluarga jika perlu.” Kata Erio, lalu Erio
mengajak mereka berdua ke kedeiaman keluarga de Wolfree.
“Tunggu
sebentar, kau fikir mereka siapa?”
Kata salah seorang anggota keluarga de Wolfree, “Biarkan mereka masuk, mereka
ikut denganku.” kata
Erio. “Apa ada yang salah, Erio?” tanya Elika, “Orang luar
tidak boleh masuk kemari.” Kata orang tersebut, “Sudahlah ..! Biarkan mereka ikut bersamaku, mereka
sudah mengetahui rahasia itu. Biarkan aku membawa mereka kepada keadilan.” kata
Erio. “..! Kau ..!” kata orang tersebut dengan nada mengancam pada Elika dan
Starla, “A-ada apa ini ..?” kata Elika sedikit takut. “Sudahlah, tidak
apa-apa.” Kata Starla tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi, “Semoga
nyawa kalian diampuni …” kata orang tersebut. “Itu urusan nanti.” Kata Erio,
lalu mereka memasuki kediaman keluarga de Wolfree. “Aku tidak mengerti, apa
maksud orang itu?” tanya Elika, “Ah, bukan apa-apa.” Kata Erio. “Tadi kau
bilang akan membawa kami pada keadilan, apa maksudnnya?” tanya Starla, “Karena
kalian telah mengetahui rahasiaku.” Kata Erio. “Dan kau akan mengadili kami
..?” kata Starla, “Aku hanya mengarang saja, tenanglah.” Kata Erio. “Kau ini ..
jika urusan membohongi orang lain, kau seperti tidak terkalahkan ..!” kata
Starla, “Seperti yang dikatakan Robert : ‘Penipu mau ditipu.’ .” kata Erio.
“Aku baru tau jika kau ini penipu?” kata Starla, “Haha, itu hanya kiasan saja.”
Kata Erio. “Hal seperti itu kau sebut kiasan ..” kata Starla, lalu Erio mengajak mereka menemui
paman Erio Albus de Wolfree.
“Siapa
mereka, Erio?” tanya
Albus,
“Tidak apa-apa, paman. Mereka teman-temanku.” jawab
Erio. “Oh, aku ingat. Dia yang salah satunya sangat menggemarimu itu.” Kata
Albus, “E-eh ..!
T-tidak juga …” kata Elika sedikit malu. “Dari reaksinya, pasti dia.” Kata Albus, “S-sudahlah, paman .. Jangan ikut campur dengan urusan orang lain ..” kata Erio. “Hahaha, baiklah baiklah silahkan duduk. Ada perlu apa kalian menemuiku?” tanya Albus, “Sebelumnya maaf, paman. Apakah keluarga ini menyembunyikan sesuatu dari penduduk desa?” tanya Starla. “Hm? Apa maksudmu?” tanya Albus, “Sebelum masuk kemari, Erio terpaksa membohongi penjaga di depan dengan alasan akan membawa kami kepada keadilan dan ia menjawab ‘Semoga nyawa kalian diampuni …’ .” kata Starla. “Erio, apakah mereka pernah melihatmu berubah?” kata Albus sedikit marah, “S-sejujurnya, paman. Mereka adalah yang pertama melihatku berubah, di saat kami dalam perjalanan pulang setelah memata-matai Istana Vampire.” Jawab Erio sedikit merasa takut.
T-tidak juga …” kata Elika sedikit malu. “Dari reaksinya, pasti dia.” Kata Albus, “S-sudahlah, paman .. Jangan ikut campur dengan urusan orang lain ..” kata Erio. “Hahaha, baiklah baiklah silahkan duduk. Ada perlu apa kalian menemuiku?” tanya Albus, “Sebelumnya maaf, paman. Apakah keluarga ini menyembunyikan sesuatu dari penduduk desa?” tanya Starla. “Hm? Apa maksudmu?” tanya Albus, “Sebelum masuk kemari, Erio terpaksa membohongi penjaga di depan dengan alasan akan membawa kami kepada keadilan dan ia menjawab ‘Semoga nyawa kalian diampuni …’ .” kata Starla. “Erio, apakah mereka pernah melihatmu berubah?” kata Albus sedikit marah, “S-sejujurnya, paman. Mereka adalah yang pertama melihatku berubah, di saat kami dalam perjalanan pulang setelah memata-matai Istana Vampire.” Jawab Erio sedikit merasa takut.
“Aku rasa
tidak ada pilihan lain selain memberitau kalian tentang sejarah keluarga ini.”
Kata Albus, “Apakah harus?” tanya Starla. “Sudahlah, kalian ikuti saja apa kata
pamanku.” Kata Erio, “Semua berawal dari seorang Vampire Jaeger yang membentuk
keluarga ini, Loupin de Wolfree dengan nama asli Alexandro Loupin. Ia pernah
mendapatkan tugas untuk menyerang Istana Vampire namun gagal dalam penyerangan.
Ia dan kelompoknya mencoba mundur sebelum riwayat mereka berakhir. Loupin dan
temannya Jack de Quency meminta adik perempuan Jack, Meria de Quency untuk pergi
terlebih dahulu sementara mereka berdua mengurus para Vampire yang mengejar
mereka. Namun Jack gugur di medan perang dan Loupin mendapatkan luka akibat
serangan Vampire. Ia pergi sebisanya agar selamat, hingga ia mencapai Moonface
Forest dimana ia bertemu dengan Azul Wolf.” Kata Albus. “Azul Wolf?! Tetapi
binatang tersebut hanya legenda?!” kata Starla, “Namun kenyataannya Azul Wolf
memang ada, tolong dengarkan ceritaku hingga akhir.” Kata Albus. “Maaf, paman.
Silahkan lanjutkan.” Kata Starla.
“Azul
Wolf mengalirkan darah untuk Loupin karena ia telah menilai Loupin pantas
mendapat bantuannya. Namun Loupin harus menjalani hidupnya sebagai Lycan untuk
selamanya karena hal tersebut. Dengan menahan rasa sakit yang luar biasa Loupin
berubah menjadi Lycan dan menghabisi seluruh Vampire yang mengikutinya. Keesokan
harinya ia kembali ke desa dan memberitau berita duka jika kakak Meria telah
gugur. Loupin merasa bersalah karenanya, namun ia juga harus menghawatirkan
dirinya yang telah memiliki kutukan tersebut. Ia berlatih seorang diri setiap
malamnya, hingga waktu tidak terasa jika ia telah mengendalikan kekuatan
tersebut sepenuhnya dalam tempo yang tidak sebentar. Beberapa bulan kemudian
Loupin memberanikan diri untuk memberitau Meria yang meminta Loupin untuk menikahinya.
Loupin tidak memiliki pilihan selain memberitau kebenaran yang sesungguhnya.
Meria menerima Loupin apa adanya, tidak lama kemudian mereka menikah dan
membuat keluarga baru bernama ‘de Wolfree’. Dan mereka diberi keturunan dimana
hanya para laki-laki keturunan de Wolfree atau laki-laki yang memiliki hubungan
darah dengan keluarga de Wolfree saja yang dapat berubah menjadi Lycan seperti
Loupin. Setiap Lycan memiliki tanda khusus seperti tingkatan mereka. Tingkatan
yang pertama adalah Azul sesuai nama serigala yang memberi Loupin kekuatan
merupakan tingkatan teratas sebagai pemimpin keluarga yang sah. Tingkatan
selanjutnya adalah Glacial, tingkatan selanjutnya dari Azul yang ditunjuk
sebagai pemimpin keluarga jika keturunan Azul tidak ada. Dan yang terakhir
adalah Lycorax, tingkatan terakhir yang akan ditunjuk sebagai pemimpin jika
hanya ada tingkat Lycorax dalam keluarga. Ciri dari garis keturunan atau
tingkatan Azul adalah telapak tangan kirinya bermotif ‘A’, jika Glacial
bermotif ‘G’ , dan Lycorax memiliki motif ‘L’ pada tangan kirinya.” Kata Albus
menyelesaikan ceritanya
“Jadi masuk akal jika Erio bisa
menjadi Lycan, pendahulunya saja bisa maka – Tunggu sebentar apakah paman
juga bisa menjadi Lycan?” tanya Elika. “Seperti yang aku ceritakan tadi, hanya
laki-laki keturunan dari keluarga de Wolfree atau memiliki hubungan darah
dengan keluarga de Wolfree yang bisa menjadi Lycan.” jawab Albus. “Jadi selama
ini kalian bersembunyi di antara kami dan tidak seorang pun yang tau rahasia di
balik nama tersebut?” kata
Starla menyimpulkan. “Biasanya
kami hanya mempercayakan rahasia ini dengan sesama keluarga saja, orang luar yang
mengetahui hal ini ia
tidak akan bertahan lama.” kata Albus. “Jadi semua orang yang mengetahui
rahasia ini akan dibunuh ..?”
tanya Erio. “Demi keluarga, Erio … Demi keluarga.” Kata Albus. “Anda tidak berfikir untuk
membunuh kami ‘kan,
paman?” tanya Elika.
“Tidak, jangan bunuh mereka paman. Aku tidak mau kehilangan teman, sudah buruk
hampir kehilangan aku tidak mau itu benar-benar terjadi.” kata Erio memohon
supaya mereka tidak di bunuh. Albus sedikit berfikir mengingat itu ucapan dari
keluarganya sendiri.
“Baiklah, aku memaafkan mereka.”
Kata Albus, mereka
bertiga merasa lega. “Tetapi jika masyarkat tau rahasia ini, mereka berdua yang
akan pertama kali aku salahkan dan harus menerima hukuman dari seluruh anggota
keluarga.” kata Albus. “Kenapa seluruh anggota keluarga? Hanya kau yang
mengetahuinya.” kata Starla. “Karena membocorkan rahasia ini, sama dengan
membocorkan rahasia seluruh anggota keluarga.” jawab Albus.
“Anda tidak perlu khawatir, paman. Kami akan menutup rapat-rapat rahasia ini
dari masyarakat.” Kata Elika, “Mereka selalu menepati kata mereka, paman. Aku
yakin Elika dan Starla tidak akan memberitau siapa pun tentang rahasia ini.”
Kata Erio menambahi. “Hmm
… baiklah. Sepertinya
sudah saatnya benda peninggalan
Loupin menemui tuannya yang baru.” kata Albus. “Apa maksudnya paman?” tanya
Erio. “Ikuti aku.” jawab Albus, lalu
mereka pergi ke ruang bawah tanah dan masuk ke ruang khusus de Wolfree dimana
disimpan benda-benda peninggalan pendahulu mereka. “Dari sekian banyak benda
peninggalan disini, ada satu yang sangat spesial dan hanya sang Azul yang dapat
mendapatkannya.” kata Albus,
“Dan benda seperti apa itu?” tanya Erio.
Albus
lalu menunjukkan almari khusus yang terkunci oleh segel/tanda dari Azul,
“Tempelkan telapak tangan kirimu Erio, segel Azul akan membuka almari ini.”
kata Albus. “Baiklah.” Kata Erio
lalu membuka sarung tangan kirinya dan menempelkan telapak tangan kirinya ke
almari tersebut. Alamari tersebut mulai terbuka dan isinya adalah pedang dengan
ukiran kepala srigala di ujung pegangannya. “Wolf Sword!” kata Albus dengan
sedikit terkejut,
“Ada apa dengan pedang tersebut paman?” tanya Erio. “Menurut cerita, pedang
tersebut memiliki kekuatan Azul Wolf dan Loupinlah yang pertama kali
menggunakannya.” jawab Albus. “Bukankah
ini terlihat seperti pedang biasa?” kata Elika. “Hanya keturunan Azul yang mampu
merasakan perbedaannya sekaligus menggunakannya, sekali Vampire tertebas pedang
ini sama saja mendapat serangan dari Lycan.” jawab Albus. “Paman benar, ada
yang aku rasakan dari pedang tersebut, seperti aura khusus.” kata Erio. “Itu
karena pedang ini telah memilihmu untuk menjadi tuannya hingga keturunan Azul
berikutnya dipilih oleh pedang ini.” kata Albus.
Erio lalu mengambil Wof Sword, dan
sesuatu terjadi. Begitu ia memegang Wolf Sword muncul aura srigala dari tubuh
Erio, lalu terdengar lolongan srigala saat mata Erio bercahaya biru terang.
Mereka yang menyaksikan hal tersbut begitu terpanah hingga tidak tau harus
berkata apa. “Apa yang kau rasakan, Erio?” tanya Albus. “Aku merasa.. Aku
merasa luar biasa!” jawab Erio. “Jika hanya kata ‘luar biasa’ kami tidak tau
maksudnya apa.” kata Starla. “Erio lihat tangan kirimu!” kata Elika dengan
sedikit terkejut. “Ada
apa?” tanya Erio lalu melihat tangan kirinya,
“Waahh!!” kata Erio terkejut melihat iba-tiba
tangan kiri Erio menjadi cakar Lycan, “Sekarang apa yang tangan kirimu
rasakan?” tanya Albus. “Ini hanya
seperti tanganku yang biasa.” jawab Erio. Lalu Wolf Sword menghilang dari
tangan Erio dan menjadikan tangan kanannya menjadi cakar Lycan seperti tangan
kirinya. “Sepertinya Wolf Sword membantunya mengendalikan kekuatan Lycan.” kata
Starla. “Untuk mengendalikan kekuatan Lycan perlu latihan yang tidak mudah dan
sebentar, tidak semudah ini kekuatan Lycan bisa dikendalikan oleh sebuah
pedang.” kata Albus sedikit menjelaskan. “Aku rasa seperti itu paman, lihat..”
kedua tangan Erio kembali seperti semula dan Wolf Sword kembali ke tangannya.
“Aku rasa kita harus ke perpustakaan untuk mencari jawaban misteri ini. Lalu
mereka pergi ke parpustakaan de Wolfree dan mencari tau tentang Wolf Sword
milik Loupin ini.
“Disini
dijelaskan bahwa
Wolf Sword adalah pedang Loupin yang ikut tercampur dengan darah Azul Wolf,
sehingga terdapat ukiran kepala srigala di ujung pegangnanya.” kata Albus
sambil membaca tulisan di salah satu buku di sana. “Itu menjelaskan jika Erio
mempu mengendalikan kekutan Lycan lebih mudah menggunakan pedang tersebut.” kata
Starla menyimpulkan. “Mungin juga begitu, jika memang pedang ini juga memiliki
kekuatan Azul Wolf maka setiap tebasan pedang ini tidak akan membuat Vampire
beregenerasi.” Kata Elika
menambahkan. Tidak lama kemudian datang salah satu anggota keluarga de Wolfree,
“Albus! Bangsa Vampire datang menyerang desa.” . “Apa?!” Albus sedikit
terkejut. “Ini kesempatan untuk mencoba kekuatan pedang ini!” kata Erio. “Tidak! Aku
mohon jangan!” kata
Elika melarang Erio. “Memangnya kenapa?”
tanya Erio. “Jika kau berubah, maka rahasia keluargamu akan terbongkar. Dan
juga .. aku
tidak ingin melihatmu yang seperti itu ..” jawab Elika. “Wolf Sword mampu mampu
menggagalkan sistim regenerasi mereka bukan? Itu berarti Erio tidak harus
menjadi Lycan untuk melawan mereka.” Kata Starla menambahi. “Baiklah, periapkan
seluruh keluarga
untuk berperang! Semuanya harus
juga akan ikut membantu. Persiapkan diri kalian untuk perang yang sesungguhnya
anak-anak.” kata Albus,
“Bagaimana dengan Robert?” tanya Starla. “Ia pasti sudah bergabung
melawan bangsa Vampire lebih dulu.” jawab Erio, Lalu mereka mulai mempersenjatai
diri mereka dan bersiap untuk berperang.
Mungkin
mereka dan keluarga de Wolfree akan
sedikit terlambat ikut dalam medan perang. “Ini
menyebalkan!” kata Robert ditengah-tengah pertarungan, “Sudahlah! Fokus pada
musuhmu!” kata Ksatria Vampire Jaeger. Para Vampire menyerang desa karena tidak
bisa menerima kenyataan jika daerah mereka telah diketahui oleh kelompok Erio
dulu. Vampire yang menyerang mulai semakin banyak, “Ini tidak akan mudah ..!”
kata Robert sedikit mengeluh karena pedangnya tidak akan tajam lagi setelah ini
berakhir. Lalu Erio, Starla, Elika, dan para anggota keluarga de Wolfree sampai
di medan perang. Erio dan yang lain mulai membantu melawan para Vampire, “Kemana saja kalian?” tanya
Robert sambil melawan Vampire. “Kau tau, membaca buku.” jawab Starla. Bangsa
Vampire tidak henti-hentinya mengirimkan pasukan, mereka bisa kalah jika
seperti ini. “Paman, mereka semakin banyak, apa kita tidak harus melakukannya?”
tanya Erio. “Untuk sementara kita hanya bisa mengandalkan pedangmu ini, kau
harus menyerang tepat di dada mereka. Kami akan melanjutkan serangan jika
tebasanmu belum membunuh mereka, jangan kecewakan kami.” jawab Albus.
Dengan semangat dan percaya diri
Erio menebas semua Vampire yang ia hadapai. “Bagus Erio!” kata salah
satu Ksatria Vampire Jaeger, “Bagaimana … Bagaiman bisa kemampuannya semakin
jauh denganku?!” kata Robert tidak mau menerima kenyataan. “Jangan hanya bicara disaat
nyawamu menjadi taruhannya!” kata Erio, “Sudahlah, bagaimana pun juga ia tetap
temanmu.” Kata Starla.
Mereka menunjukan perlawanan yang tidak mudah kepada bangsa Vampire, namun jumlah Vampire terus bertambah
dan mereka mulai
sedikit kewalahan. “Albus, jika di bandingkan dengan satu Wolf Sword seperti
ini kita bisa kalah.” kata salah satu anggota keluarga, “Ia benar paman, sepertinya kita
harus mengambil resiko tersebut.” kata Erio menambahi. “Hhh
… Sepertinya tidak
ada pilihan lain. Katakan pada semua anggota keluarga, Erio.” kata Albus. Erio
lalu pergi ke tempat yang lebih tinggi dan berteriak sambil mengangkat Wolf
Swordnya “DE WOLFREE!!!”, “Apa yang dilakukannya?” tanya Robert, “Entahlah.” Kata
Starla. Bulan pun
memperlihatkan sinarnya yang tertutup awan, semua anggota keluarga mulai
berubah menjadi Lycan.
“Untuk
inilah kutukan ini ada pada kita ..” kata Albus, “Ya, ayo kita akhiri semua ini
untuk selamanya!” kata salah satu anggota keluarga. Dan mereka mulai menghabisi bangsa Vampire yang
menyerang desa tanpa menyisakan satu Vampire yang masih hidup. Semua ksatria yang meilihat peristiwa tersebut
sampai tidak bisa mengayunkan pedangnya kembali melihat perlawanan keluarga de
Wolfree yang luar biasa. “I-ini …” para Ksatria tidak tau harus berkata apa,
“Apakah .. apakah ini keluarga de Wolfree yang kita kenal ..?!” kata
Robert tidak percaya. “Sejujurnya begitu, kami masih belum bisa memberitaumu
kebenarannya hingga mereka akhirnya menunjukan diri mereka sendiri.” Kata
Starla, “Erio …” kata Elika mengkhawatirkannya. Setelah bangsa Vampire yang menyerang desa di bunuh
habis-habisan, mereka tau jika penduduk desa yang menjadi target penyerangan
selanjutnya. Tetapi Erio berbicara dengan para Lycan menggunakan bahasa mereka
untuk tidak menyerang penduduk. “Tenang, kami tidak akan menyerang kalian.”
kata Erio,
“Ini adalah
keluarga de Wolfree yang sesungguhnya!” kata salah satu penduduk desa.
Albus
kembali kewujud manusianya dan berkata “Kami memang sengaja menyembunyikan ini
semua dari kalian, sejak pertama kali keluarga ini di bentuk.” . “Mereka
monster, dan kita memelihara mereka?!” kata penduduk desa, “Mungkin kami monster, tetapi kami yang melindungi kalian
dari serangan Vampire!”
kata Erio. “Para Kstaria Vampire Jaeger yang telah milindungi kami bukan
kalian!” kata salah satu Ksatria Vampire Jaeger, “Loupin juga seorang Ksatria
Vampire Jaeger, dan seorang Lycan.” jawab Albus. “Yang kami inginkan hanyalah
hidup normal
seperti kalian, tetapi kutukan ini
merupakan takdir kami yang tidak bisa kami ubah ..” kata Erio menambahi, “Sekarang Vampire telah kalian
basmi, kalian sudah cukup melayani kami!” kata salah satu penduduk. “MELAYANI?!” kata Albus albus
tidak terima dan para Lycan mulai menggeram, “Kami bukan pelayan kalian! Jika
kami tidak memiliki hati kami sudah membunuh kalian lebih dulu jauh-jauh hari!”
kata Albus. “Aku sudah tidak tahan dengan semua ini! Jika mereka menginginkan kita
pergi, itu akan terkabulkan. Tetapi mereka akan menanggung sendiri resiko dari
kepergian kita. Semuanya! Aku sebagai keturunan selanjutnya dari Azul
Wolf telah memutuskan jika kita akan pergi meninggalkan orang-orang yang tidak
bisa menerima keberadaan kita ini!”
kata Erio.
“Tidak Erio, jangan pergi.” kata
Elika,
“Kita berbeda, kita tidak bisa bersama-sama lagi.” jawab Erio. “Lalu bagaimana
dengan semua teman-temanmu yang ada disini?” kata Elika dengan sedikit bersedih,
“Yang aku rasakan dari di sini dulunya adalah kepercayaan dan kasih sayang.
Tetapi sekarang sebagain besar kepercayaan dan kasih sayang tersebut telah
menjadi kebencian. Selamat Tinggal Elika dan semua yang telah mengenal kami
dengan baik. Dan terima
kasih
untuk semua moment yang telah kita alami bersama.” kata Erio. “Robbert lakukan sesuatu.” kata Starla. “Ini
diluat kemampuan kita
untuk menahan
kepergian mereka, maaf.” jawab Robbert. Memang tidak mudah bagi mereka
bertiga merelakan sahabat mereka pergi, Elika sepertinya yang paling merasa
sedih. Lalu Erio berubah menjadi Lycan dan pergi meninggalkan desa bersama para
Lycan untuk selamanya. Perdamaian sedikit terasa setelah keluarga de Wolfree
menghabisi bangsa Vampire di sana, para penduduk memulai kehidupan
yang baru setelah kepergian keluarga de Wolfree. Dan dunia mengenal bangsa
Lycan dengan nama yang berbeda. Nama
yang diambil dari salah satu tokoh ternamanya, yaitu William Erio de Wolfree.
Diambil dari nama
tersebut William Erio de Wolfree
menjadi ‘Werewolf’’.
~THE END~
Next :
de Wolfree 2 : Rise Of The Night’s Wing
Credits
:
Written by :
HarunAl Rosyid
|
Official FB :
H-runio Ell Rosyido
|
Story by :
Harun Al Rosyid
|
Official LS : K0uShinRYou
|
Certia ini
hanya fantasi penulis, dan tidak bermaksud untuk merugikan pihak lain
|
Official
Elsword : HiSEiN, K0uShinRYou
|
Comments
Post a Comment
Terima Kasih telah berkunjung ke Blog saya, silahkan tinggalkan komentar anda dengan sopan.