de Wolfree II : Rise Of The Night’s Wing Part 1

“Kita berbeda, kita tidak bisa bersama-sama lagi.” . Itu adalah kata terakhirku yang aku William Erio de Wolfree ucapkan kepada orang terakhir, atau lebih tepatnya manusia terakhir yang mau mengakui keberadaanku sebagai seorang Lycan atau Werewolf  kata mereka. Setelah meninggalkan desa, seluruh anggota keluarga de Wolfree yang tersisa hidup di dalam Gua yang terletak jauh dari desa.


Memang jauh berbeda dari kediaman de Wolfree di desa dulu, tetapi ini adalah pilihan terbaik yang bisa kami lakukan. Tidak perlu khawatir, di sana cukup pencahayaan baik siang maupun malam, di tambah lagi di sana merupakan jalur sungai bawah tanah. Setiap siang selalu terang akan cahaya matahri dan malam di terangi sinar bulan. Dengan kemampuan kami sebagai Werewolf (Manusia Serigala), kami masih bisa bertahan hidup dengan berburu binatang di sekitar Gua.



Namun seperti dulu, kami tidak sendiri berada di sana. Ada klan yang bernama Black Wing atau sering di sebut Night’s Wing. Disebut Night’s Wing karena mereka tidak akan terlihat saat terbang di malam hari disebabkan sayap mereka yang berwarna hitam membuat mereka berkamuflase di langit malam. Akan tetapi ada beberapa Black Wing yang hidup sendiri bahkan membuat wilayah tersendiri untuk alasan tertentu.

Kepemimpinan sekarang berada pada Pamanku Albus de Wolfree, beliau dipilih karena saat di desa dulu ia juga yang memimpin klan, meski ia hanya seorang Glacial sedangkan aku seorang Azul tetapi aku belum siap untuk hal tersebut. “Erio, aku tidak akan selamanya ada untukmu dan keluarga ini. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, aku rasa hal itu yang telah menentiku tidak lama lagi.” kata Albus. “Ada apa paman? Paman tidak terlihat sakit dan paman masih sehat seperti biasa.” jawab Erio. “Jika hari itu datang, kamulah yang akan mewarisi kepemimpinan akan keluarga ini.” jawab Albus. “Tapi....” jawab Erio dengan sedikit ragu. “Garis keturunan Azul kini hanya milikmu, terakhir kali ada seorang Azul adalah Fenrir de Wolfree dan ia telah lama meninggal karena di buru oleh manusia. Bahkan mayatnya pun tidak di temukan, aku berharap lebih padamu, Erio.” kata Albus dengan memberi harapan pada Erio. Erio hanya merasa tertekan karena kepemimpinan akan jatuh kepadanya, lalu ia pergi untuk merenungkan tindakan selanjutnya yang akan ia lakukan.

Entah seberapa jauh ia pergi, bahkan pagi harinya pun Erio belum kembali ke Gua de Wolfree. Di saat Erio tertidur di tengah hutan, ada yang menemukannya yaitu salah satu Guarder di Conqueron. “Yudai, kami menemukannya di tengah hutan dengan pedang ini bersamanya. Tampaknya ia bukan dari Conqueron.” kata salah satu Guarder yang menukan Erio. “Setidaknya kita akan merawatnya meski hanya sementara, mungkin ia prajurit yang tersesat.” jawab Yudai . “Baiklah.” jawab Guarder itu pula. Erio dibawa oleh Guarder tersebut menuju rumah sakit di Conqueron untuk mendapat pertolongan pertama. Karena Yudai sedang memiliki waktu luang, ia memilih untuk menemani Erio meski ia mengenalnya. Dan beberapa saat kemudian Erio terbangun.

Saat Erio terbangun, ia tidak tau berada dimana. “Seperti di desa dulu, apa ini mimpi?” kata Erio dengan sedikit kagum. “Jadi kau sudah sadar?” kata Yudai yang menunggunya. Karena terkejut dengan keberadaan Yudai, Erio pun terjatuh dari tempatnya. “Apa kau tidak apa-apa?” tanya Yudai, “Ya, aku tidak apa-apa. Dimana aku?” tanya Erio. “Jadi kau memang bukan Emylier dari sini, disini adalah Conqueron. Lebih tepatnya kau sedang berada di rumah sakit Conqueron,  tempat bagi para Emylier yang berada di bawah perintahku. Namaku Yudai, Leadro atau pemimpin di sini. Siapa kau, orang asing?” tanya Yudai. “Aku William Erio de Wolfree” jawab Erio. “Dari mana asalmu?” tanya Yudai lagi. “Aku rasa aku datang dari arah Baradaya.” jawab Erio. “Baiklah Erio, kau baru bangun pagi ini lebih baik kau sarapan terlebih dahulu.” sambil memberikan makanan pada Erio. “Terima kasih, tetapi aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus kembali ke keluargaku.” jawab Erio. “Aku tau, habiskan dulu sarapanmu, setidaknya terimalah pemberian dari orang meski kau tidak menyukainya.” kata Yudai.  “Terima kasih, Yudai.” jawab Erio lagi. “Tidak masalah, aku akan menyuruh beberapa Guarder untuk menemani perjalananmu.” kata Yudai. “Tidak usah repot-repot, aku bisa kembali sendiri.” jawab Erio. “Baiklah jika kau memaksa.” jawab Yudai pula. “Apa kau tahu pedangku?” tanya Erio.”Pedang itu milikmu? Ada di pojok ruangan jika kau mencarinya.” jawab Yudai. Setelah Erio menghabiskan sarapannya, ia segera pergi meninggalkan Conqueron agar tidak di ikuti oleh orang-orang dari Conqueron.

Pamannya, Albus de Wolfree khawatir karena Erio tidak ada saat sarapan bersama seluruh keluarga de Wolfree. Lalu siang harinya Erio baru sampai di Gua de Wolfree, dengan di sambut Albus dengan raut muka yang marah. “Dari mana saja kau selama ini?!” tanya Albus dengan sedikit marah kepada Erio. “Aku pergi menjernihkan pikiranku.” jawab Erio dengan agak ketakutan. “Memangnya waktu satu malam tidak cukup untuk membuat pikiranmu lurus?!” jawab Albus. Erio hanya bisa terkejut sesaat dan kemudian diam. “Aku berharap kau bisa menjadi pemimpin yang dapat memimpin keluarga ini dengan baik.” kata Albus. “Aku tau jika paman berharap seperti itu kepadaku, tetapi itu tidak bisa di lakukan semudah mengatakannya. Paling tidak bairkan aku melatih diriku sendiri terlebih dahulu, sebelum aku memimpin keluarga ini.” jawab Erio. Albus hanya bisa terkejut mendengar jawaban Erio, ia kira Erio berniat meninggalkan seluruh keluarga seperti Fenrir. “Kau sudah mengalami hari yang panjang, kenapa tidak beristirahat terlebih dahulu?” kata Albus dengan ramahnya. Erio kira pamannya akan menghukumnya karena meninggalkan Gua lebih dari 1 malam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti saran pamannya tadi. Erio merasa ia akan bisa menjadi pemimpin seperti Yudai, Erio bermaksud untuk kembali ke Conqueron lagi untuk menemui Yudai.

Setelah Erio meniggalkan Conqueron, Yudai pergi menemui salah satu Emylier sekaligus teman baiknya di Conqueron. “Pagi, Harunio.” kata Yudai. “Pagi.” jawab Harunio dengan singkat. “Kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja terjadi.” kata Yudai sambil tersenyum dan sedikit tertawa. “Memangnya ada apa?” tanya Harunio dengan penasaran. “Masih pagi-pagi seperti ini saja langsung ada laporan orang asing yang tidur di hutan.” jawab Yudai. “Memangnya aku akan tertarik degan hal semacam itu?” kata Harunio sedikit mengeluh. “Haha, sudahlah. Aku ingin kau dan timu segera datang ke ruanganku, ada tugas baru untuk kalian.” kata Yudai. “Ini baru pagi dan kau sudah menyibukan kami dengan tugas lagi?” keluh Harunio. “Aku bilang segera, jika bisa secepatnya.” kata Yudai. “Ya ya, baiklah.” jawab Harunio. “Baiklah, sampai nanti.” kata Yudai. “Sampai nanti.” jawab Harunio.

Tidak lama kemudian datang seseorang dari rumah Harunio, “Siapa itu tadi, Harunio?” kata Miho (pasangan/kekasih Harunio). “Oh, tadi Yudai kemari meminta semua anggota untuk ke ruangannya. Ada tugas baru katanya.” jawab Harunio. “Tapi bukankah beberapa anggota tim juga masih dalam tugas dan belum kembali?” tanya Miho. “Aku kira Kurnia dan lainnya akan lebih cepat kembali. Jika mereka belum kembali maka hanya kita berdua yang akan berangkat.” jawab Harunio. “Ia, baiklah.” kata Miho, lalu mereka berdua memasuki rumah untuk sarapan.

Beberapa saat kemudian, Harunio dan Miho mendatangi Yudai terlebih dahulu karena rekan-rekan mereka belum kembali dari tugas mereka. “Baiklah, apa yang kita punya sekarang?” tanya Harunio. “Kita mendapat informasi tentang ada jelmaan yang masyarakat sekitar yakini sebagai utusan Tuhan. Ia bisa menumbuhkan tanaman seperti gandum tanpa benih sekalipun. Aku ingin kau mengumpulkan informasi tentangnya, ini bisa membantu pertanian di Darko Tera.” kata Yudai sambil menjelaskan tugas mereka. “Aku kira kita bisa memberikan bantuan dari sini langsung.” kata Harunio. “Jika kita terus menerus memberikan cadangan dari Conqueron, lama kelamaan kita akan kehabisan stock untuk kita sendiri. Dengan kata lain, kita bisa memanfaatkan lahan terbuka di Darko Tera sebagai penopang pertanian di sana.” jawab Yudai. “Begitu rupanya.” Kata Harunio, “Lalu kenapa hanya kalian berdua yang datang kemari?” tanya Yudai. “Kurnia dan lainnya masih belum kembali, jadi aku kira hanya kami yang akan menjalankan tugas ini.” jawab Harunio. “Jika kalian bisa melakukannya tidak masalah, tetapi akan aku beri toleransi untuk menunggu Kurnia dan lainnya kembali dari tugas mereka.” kata Yudai. “Baiklah, paling lambat kami akan berangkat besok.” jawab Harunio. “Ya, sekarang kalian boleh kembali.” kata Yudai. Setelah itu Harunio dan Miho kembali pulang.

Setelah semua kembali normal, Albus mengajak Erio bicara. “Jadi, apa kau sudah siap untuk menjadi pemimpin keluarga ini?” tanya Albus. “Tolong beri aku waktu, aku menemukan orang yang juga seorang pemimpin di daerahnya.” jawab Erio. “Mungkin itu dapat memberimu kepercayaan diri dengan latihan langsung dari ahlinya.” kata Albus. “Ya mungkin juga.” jawab Erio. “Lalu di mana kau bisa menemukan orang seperti itu?” tanya Albus lagi. “Sebelumnya aku minta maaf, paman. Saat aku terlambat pulang waktu itu, pada malam harinya aku pergi entah kemana. Lalu aku tertidur di hutan, ada penjaga yang menemukanku di hutan lalu membawaku ke desa mereka.” kata Erio. “Lalu apa yang terjadi?” tanya Albus. “Mereka menjagaku sampai aku bangun pagi harinya, dan aku bertemu dengan pemimpin di sana.” jawab Erio. “Baguslah jika kau dapat menemukan sumber inspirasimu sendiri, ini juga akan melatih kemandirianmu.” kata Albus. “Aku senang paman bisa mengerti.” kata Erio.

Sementara itu, di Conqueron Harunio masih menunggu Kurnia dan rekan satu timnya kembali dari tugas mereka. “Tidak seperti biasanya Kurnia dan yang lain menjalankan tugas selama ini.” keluh Harunio. “Tenanglah Harunio, mungkin mereka sedang dalam perjalanan pulang.” kata Miho menenangkan Harunio. Lalu Harunio mencoba menghubungi Kurnia dengan de Order miliknya (alat komunikasi bagi para Emylier). “Kurnia, laporkan posisimu.” kata Harunio. “Kurnia di sini, kami masih dalam perjalanan pulang menuju Conqueron.” kata Kurnia. “Ternyata benar.” Kata Harunio sambil mengatakannya kepada Miho, “Perkiraan waktu sampai di Conqueron?” tanya Harunio kepada Kurnia. “Beberapa jam lagi.” jawab Kurnia. “Ya ampun, cepatlah.” kata Harunio. “Kami usahakan, memangnya ada apa?” tanya Kurnia. “Tugas baru, segera kembali ke Conqueron.” kata Harunio. “Meskipun kami sampai di sana sekarang, kami tetap tidak bisa ikut. Ya kau sendiri tau kawan, setelah bertugas kami layak mendapat waktu untuk istirahat.” jawab Kurnia. “Benar juga . . .” kata Harunio dengan sedikit kehilangan semangat. “Harunio, kau tidak apa-apa?” tanya Miho. "Aku tidak apa-apa . . .” jawab Harunio. “Aku kira kali ini kau harus melaksanakannya tanpa kami, kawan.” kata Kurnia. Sambil menarik nafas dalam Harunio menjawab, “Baiklah kalau begitu . . .” .

Pada malam harinya di Gua de Wolfree, Erio akan berangkat kembali ke Conqueron. “Mafkan aku paman, karena jarak dari sini ke tempat orang itu cukup jauh. Jadi aku harus berangkat sekarang.” kata Erio. “Kau sudah melakukan apa yang kau bisa, lagi pula ini adalah latihanmu sebagai pemimpin keluarga ini, bagaimana aku bisa melarangmu.” jawab Albus. “Terimakasih paman.” kata Erio. Setelah itu Erio segera berangkat menuju Conqueron, tetapi ia meninggalkan jejak yang tanpa ia sadari mengancam seluruh keluarga de Wolfree.

Salah seorang anggota keluarga mendatangi Albus. “Ia tidak akan selamanya menjadi anak kecil di matamu.” katanya. “Ya, memang benar.” jawab Albus. Saat mereka hendak kembali ke dalam gua, ada orang lain yang datang ke gua tersebut. “Wah wah, ternyata Albus de Wolfree.” kata orang tersebut. Albus dan salah seorang anggota keluarga tersebut terkejut dengan kedatangan orang tersebut. “Franklin Jaeger!” kata Albus dengan sedikit terkejut. “Meski sudah cukup lama meniggalkan desa, kau tetap mengingatku.” kata Franklin. “Meski sudah jauh dari rumah yang tidak mau mengakui kami, tetapi kami teleh menemukan rumah baru bagi kami yang lebih baik dari dinding-dinding tua di desa.” kata Albus. “Heh, gundukan batu runcing ini kau sebut rumah? Ini lebih tepatnya disebut sarang!” kata Franklin dengan menghina Gua de Wolfree. “Kau tidak berhak menghina rumah kami!” kata anggota keluarga yang bersama Albus sambil berubah menjadi Werewolf untu menerkamnya. Tetapi Franklin tidak seorang diri, beberapa Ksatria Vampire Jaeger yang dulu juga bersamanya dengan perlengkapan untuk memburu Werewolf.

Anggota keluarga tersebut terlalu terbawa emosi sehingga jatuh ke perangkap Franklin. “Apa yang kau lakukan?!” kata Albus dengan nada mengancam. “Sederhana saja, kalian sendiri bahkan jauh lebih buas dari binatang liar di sini. Merupakan suatu ancaman bagi kami jika kalian tidak di musnahkan!” kata Franklin. “Jadi . . . ia atang kemari untuk membunuh kami semua?!” kata Albus dalam fikirannya. “Sudah cukup dengan sandiwara ini, waktunya untuk menyelesaikan semuanya sekarang. Maju! Habisi mereka!” kata Franklin memberi perintah. “Jika kau sadar betapa buasnya kami . . .” , lalu Albus berubah menjadi Werewolf dan melolong. “ . . . kau harusnya berpikir dua kali untuk datang kemari!” kata Albus. Para anggota keluarga yang telah menjadi Werewolf mulai keluar dari gua kerena mendengar panggilan Albus.

Pertempuran sengit antara kedua belah pihak berlangsung menegangkan hingga fajar tiba, begitu melihat pagi akan segera datang para Werewolf  terpaksa harus meninggalkan medan perang. Sayangnya pemimpin keluarga de Wolfree yaitu Albus de Wolfree gugur dalam pertempuran tersebut di tangan Franklin Jaeger. Para Werewolf  mulai mengalami konfik karena pemimpin mereka telah tiada, bahkan Erio pun pergi sebelum insiden tersebut terjadi. “Kita tidak bisa seperti ini, kita harus segera mencari Erio dimanapun ia berada!” kata salah satu anggota keluarga. “Jika kita mencari Erio itu akan sulit di lakukan, kita bahkan tidak tau dimana ia berada.” jawab salah satu anggota keluarga pula. “Para Vampire Jaeger pasti sedang berpesta merayakan kemenangan yang seharusnya milik kita!” . “Meskipunbegitu kita tidak bisa bertindak kegabah, mereka telah mempelajari kemampuan kita. Itu terbukti dari jebakan-jebakan yang mereka buat begitu efektif untuk menyerang kita.” . “Jadi apa yang akan kita lakukan? Jumlah kita semakin berkurang.” . “Jika Erio selamat, ia pasti akan kembali ke gua, kita hanya perlu berjaga di sekitar gua menanti kedatangannya.” . Sepertinya usulan tersebut merupakan harapan terakhir bagi anggota keluarga de Wolfree.

Pada pagi harinya pun Erio sampai di Conqueron, lalu ia berbicara pada Guarder di sana. “Aku William Erio de Wolfree, ingin menemui Yudai.” kata Erio. “Memangnya kau siapa? Pagi-pagi buta sudah membuat masalah.” kata salah satu Guarder itu. Sepertinya Erio nampak kesal, lalu Yudai datang karena  melihat ada yang aneh dari arah Baradaya. “Biarkan dia lewat, ia bersamaku.” kata Yudai. “Yudai! B-baiklah.” para Guarder terkejut karena Yudai tiba-tiba datang. Lalu Erio pergi bersama Yudai. “Sepertinya kau memiliki rasa ketertarikan terhadap tempat ini.” kata Yudai. “Bisa di bilang begitu juga.” kata Erio. “Ada apa, Erio?” tanya Yudai. “Begini Yudai, pamanku memintaku menjadi pengantinya untuk memimpin keluarga kami. Aku harap aku bisa mendapat bimbingan darimu.” kata Erio. “Untuk menjadi seorang pemimpin, kau harus bisa memimpin dirimu sendiri sebelum bisa memimpin orang lain. Dan juga, orang lain juga harus mengakuimu sebagai pemimpin mereka.” kata Yudai, “Karena itu aku datang kembali kemari.” Kata Erio

 “Kau lihat dia?” Yudai menunjuk pada Harunio yang sedang bersiap-siap untuk berangkat menjalankan tugasnya yang kemarin. “Ya, siapa dia?” tanya Erio. “Namanya Harunio, suatu hari nanti aku ingin dia menggantikanku sebagai Leadro (pemimpin) di sini. Intinya kalian berdua sama, dia memang memiliki kemampuan untuk memimpin timnya yang memiliki anggota paling banyak di bandingkan tim lain.” kata Yudai. Erio sedikit tersenyum, karena ternyata ada orang yang sama seperti dirinya. “Selamat pagi, Harunio.” kata Yudai, “Pagi, Yudai.” jawab Harunio. “Jadi, kau akan berangkat pagi ini?” tanya Yudai. “Ya, Kurnia tidak bisa ikut meski aku sudah menunggunya seharian. Siapa dia?” kata Harunio. “Perkenalkan, dia adalah William Erio de Wolfree.” kata Yudai. “Panggil saja aku ‘Erio’. ” kata Erio. “Erio, baiklah. Jadi kau orang yang tidur di hutan kemarin?” tanya Harunio. Lalu Erio sedikit terkejut sambil malu. “Harunio, kau tidak boleh menjelek-jelekan orang karena kesalahan yang telah ia perbuat.” kata Miho. “Hehehe . . .” Harunio sedikit tertawa. “Tolong maafkan Harunio, jika ia bersama orang yang baru di kenal ia suka bercanda.” kata Miho. “Tidak apa-apa … Aku memang membuat kesalahan, tetapi aku tidak akan mengulang kesalahanku untuk yang kedua kalinya.” jawab Erio. “Sepertinya kalian mulai akrab. Jadi Erio, apa yang membawamu ke sini?” tanya Yudai. “Aku sudah mengataknnya padamu, aku ingin belajar menjadi seorang pemimpin darimu.” jawab Erio. “Baiklah, aku akan membawamu melihat-lihat Conqueron sambil membermu sedikit penjelasan.” kata Yudai. “Terimakasih.” jawab Erio. “Baiklah Harunio, kami pergi dulu.” kata Yudai. “Ya, tidak masalah. Kami juga harus segera berangkat.” kata Harunio.

Lalu Harunio memanggil burung raksasa yang bernama Raska (lebih tepatnya Earthbound Imortal Waqoucha Raska) dengan semacam teknik Kuchiyose, para Black Wing yakin bahwa pendahulu mereka diselamatkan oleh Raska dengan memberinya kekuatan sehingga klan Black Wing mempunyai sayap hitam. Erio terkejut melihat hal tersebut, “A-apa ini benar?” tanya Erio dengan tidak percaya. “Sepertinya aku lupa memberi tahumu bahwa kami ini bukan manusia biasa.” kata Yudai. Lalu Erio menjadi terdiam. “Sebenarnya aku juga bisa memanggil burung besar tadi seperti Harunio, karena aku dan Harunio seorang Black Wing sedangkan perempuan tadi adalah kekasih Harunio. Namanya adalah Miho, ia seorang Gumiho. Kami yaitu Black Wing sering disebut ‘The Night’s Wing’ , sedangkan Gumiho juga disebut ‘Day’s Tail’ .” kata Yudai. “ ‘Day’s Tail’ ? Aku pernah mendengarnya dari pamanku.” kata Erio.

“Benarkah?” tanya Yudai, “Pendahulu kami atau lebih tepatnya kakek buyutku Alexandro Loupin pernah bertemu dengan Day’s Tail. Dia menyebutnya . . .” , lalu Erio membuka sarung tangannya, “. . . Azul Wolf..” sambil menunjukkan tanda di telapak tangan kirinya yang bermotif huruf ‘A’ . “Sepertinya kau juga bukan manusia biasa, Erio.” kata Yudai dengan ekspresi yang berbeda. “Ya, kami keluarga de Wolfree adalah manusia setengah serigala, kami bisa berubah jika kami melihat bulan purnama. Tetapi aku bisa berubah langsung tanpa melihat bulan purnama karena pedang ini, dan juga aku telah melatih diriku untuk melepaskan kekuatan itu dengan amarahku.” kata Erio. “Hhmmm . . . Ini semakin menarik.” kata Yudai. Erio sedikit terkejut karena tiba-tiba Yudai berkata seperti itu. “Sebelumnya aku tidak pernah menemui orang sepertimu.” kata Yudai. “Jika anda mau, anda aku persilahkan datang ke Gua de Wolfree. Kami tinggal di sana setelah meninggalkan desa.” kata Erio. “Baiklah.” kata Yudai, lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka melihat-lihat Conqueron.

Setelah mereka bersama-sama melihat Conqueron, pada sore harinya Erio hendak kembali ke Gua de Wolfree. “Terimaksih untuk semuanya, Yudai.” kata Erio. “Sama-sama, Erio. Sekarang pulanglah, aku yakin keluargamu telah menantimu.” jawab Yudai. “Ya, kalau begitu sampai jumpa lagi!” kata Erio lalu segera berangkat kembali pulang. Yudai sedikit berfikir tentang apa yang telah terjadi hari ini, “de Wolfree dan Day’s Tail memiliki suatu teka-teki yang membuatku penasaran.” Kata Yudai dalam fikirannya. Lalu Yudai menghubungi Kurnia dengan de Ordernya, “Kurnia bisakah kau menemuiku malam ini?” kata Yudai. “Baiklah, apa ada tugas baru?” tanya Kurnia. “Datang saja ke ruanganku malam ini.” kata Yudai. “Baiklah.” jawab Kurnia.

Saat Erio sampai di Gua de Wolfree, ia terkejut dan sedikit heran karena tidak seperti biasanya disana lebih tenang dan senyap dari biasanya. “Halo? Paman, aku sudah pulang.” kata Erio mencari seseorang yang ada. “Aneh, meski setiap malam berburu tetapi harusnya masih bebrapa jam lagi.” kata Erio. Lalu Erio mendengar sesuatu dari semak-semak, ia menyiapkan Wolf  Sword miliknya. Erio mendatangi semak tersebut, dan ia menemukan hewan yang terkena jebakan dengan bentuk dan ukuran yang tidak biasa. Jebakan tersebut menjerat beberapa binatang bisana, Erio lalu pergi agak jauh dari sana karena mencium bau yang berbeda. Dan ia menemukan mayat Ksatria Vampire Jaeger dan mayat Werewolf lainnya. Ia merasa sedih bercampur marah karena melihat hal tersebut, tidak lama kemudian anggota keluarga yang selamat menemui Erio. “Kami tidak tau lagi harus bagaimana, Erio.” kata salah satu anggota keluarga. “Kami sudah berusaha sebisa kami hingga pagi, tetapi mereka telah mengetahui kelemahan kita dan juga jumlah kita sekarang semakin sedikit.” . “Lalu di mana pamanku?” tanya Erio. Anggota keluarga yang lain terdiam mendengar pertanyaan Erio itu, karena mereka tidak mau membuat Erio semakin bersedih. Tetapi cepat atau lambat Erio pasti mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

“Sebelumnya aku minta maaf, Erio. Pamanmu Albus de Wolfree telah gugur di medan perang melawan Ksatria Vampire Jaeger.” . Erio terkejut mendengarnya, ia sampai tidak bisa berkata lagi. Air mata Erio tidak tertahankan lagi, “Kami turut berduka atas kematian pamanmu Erio, seperti yang ia mau kini kepemimpinan berada di tanganmu.” kata salah satu anggota keluarga. Dengan menahan tangisannya, Erio berkata “Malam ini juga . . . Kita akan membalaskan dendam kebebasan teman sekaligus keluarga kita yang tidak berdosa. Ini akan menjadi pelajaran bagi Vampire Jaeger untuk menghargai kebebasan dan kemerdekaan adalah milik semua makhluk hidup! Entah itu Hewan, Tumbuhan, bahkan Werewolf  sekalipun. Mereka telah memancing keluar buruan mereka, kini saat mereka melawan KITA!!!”  kata Erio untuk membangkitkan kembali semangat de Wolfree. Bulan yang merespon semangat Erio menampakkan sinarnya, seperti saat Erio memberi semangat kepada para anggota keluarga de Wolfree untuk melawan Vampire dulu. Lalu Erio dan seluruh anggota keluarga de Wolfree yang selamat segera kembali ke desa untuk melampiaskan dendam mereka.

“ ‘de Wolfree’ ? Sepertinya nama ini termasuk dalam nama sebuah suatu keluarga dalam sejarah.” kata Kurnia. “Ya, dan aku baru saja menemui salah satu anggota keluarga tersebut tadi pagi. Seorang pemuda dengan nama William Erio de Wolfree, katanya ia di warisi kepemimpinan atas keluarga de Wolfree dari pamannya.” kata Yudai menjelaskan. “Jadi anda ingin aku mempelajari lebih lanjut tentang masalah ini?” tanya Kurnia. “Ya, tapi ini hanya sampingan. Kau bisa melaporkannya kapan-kapan, tetapi kau sendiri tau jika lebih cepat akan lebih baik.” kata Yudai. “Ya baiklah. Lalu bagaimana dengan Harunio?” tanya Kurnia. “Dia sudah berangkat tadi pagi dengan Miho.” jawab Yudai. “Hanya berdua saja?! Apa itu tidak apa-apa?” tanya Kurnia dengan sedikit khawatir. “Tidak perlu mengkhawatirkannya, kau sendiri tau bagaimana Harunoi itu bukan?” jawab Yudai. “Ya, tapi . . . ini tugas pengamatan, meskipun sendiri maupun dengan Miho, pasti akan selesai lebih lama.” jawab Kurnia. “Tenanglah, dia sudah bukan lagi orang yang tidak bisa melakukan apa-apa sendiri. Memangnya dia kembali dengan sia-sia setelah 4 tahun bersama Darkos?” kata Yudai. “Baiklah, aku percaya Harunio telah berubah drastis setelah ia pergi saat itu.” kata Kurnia. “Baiklah, aku tidak mau mengambil waktumu lebih lama lagi. Kau boleh kembali.” kata Yudai. Lalu Kurnia kembali pulang.

Beberapa jam kemudian, Erio dan anggota keluarga de Wolfree yang selamat sampai di bukit desa lama mereka. “Bukankah ini mengingatkanmu tentang kenanganmu dulu, Erio?” tanya salah satu anggota keluarga tersebut. “Ya, kenangan mereka yang tidak mau menerima kita sebagaimana mestinya.” kata Erio dengan marah. Erio menjadi berubah drastis setelah mengetahui bahwa pamannya telah meninggal, ia begitu marahnya hingga ingin membantai seluruh warga di desa tersebut seperti saat keluarga de Wolfree dulu membantai bangsa Vampire yang menyerang desa tersebut. Kemudian, di desa tersebut terjadi peristiwa aneh. Para anjing di sana menggonggong seperti ada hewan buas yang datang. “Ada apa ini?” itu yang di katakan warga desa. Lalu terdengar suara geraman seperti hewan karnivora yang datang untuk menyerang warga desa. Suasana menjadi semakin mencekam, itulah saat mendebarkan penyerangan Werewolf dari keluarga de Wolfree. Salah satu Werewolf menerkam warga desa di sana hingga tewas. Werewolf  lain pun juga mulai menyerang warga desa di sana.

“Cepat! Para Lycan datang!” teriak salah satu Ksatria Vampire Jaeger, sepertinya mereka telah mengetahui bahwa anggota de Wolfree yang selamat akan membalas dendam pada mereka. Mendengarnya, Erio segera menerkam Ksatria tersebut agar mereka tidak sempat mempersiapkan diri. “ ‘Lycan’? Ternyata kalian masih menyebut kami dengan nama yang hina itu ..!” kata Erio sambil menjatuhkan kembali Ksatria yang baru saja ia terkam. “Franklin, para anggota keluarga de Wolfree yang selamat telah datang.” kata salah satu Ksatria yang telah mengetahui kedatangan Erio dan yang lainnya. “Mereka suah datang sampai ke sini, kita harus menyambut mereka.” kata Franklin. Setelah itu mereka mulai mempersiapkan perangkap Werwolf untuk menangkap Erio dan Werewolf  lain yang selamat.

Erio dan Werewolf  lain benar-benar tidak memberi ampun kepada para warga desa, tetapi mereka belum menemui Ksatria lain, hingga Erio bertemu dengan teman lamanya. “Erio? Apa itu benar-benar dirimu?” kata seorang wanita dari desa. Erio hanya menggeram menghadapinya, “Jika kau memang masih seperti Erio yang aku kenal, maka kembalilah ke wujud manusiamu dan kita bicarakan baik-baik.” kata wanita tersebut. Lalu Erio kembali ke wujud manusianya dan berkata, “Tidak ada yang bisa di bicarakan lagi, Elika Cloverleaf.” kata Erio dengan tatapan dingin. Ternyata wanita tersebut adalah Elika Cloverleaf, teman lama Erio dulu sebelum ia dan keluarga de Wolfree meninggalkan desa. “Engaku masih mengingatku, kau bukanlah monster.” kata Elika. “Lalu kenapa kalian memburu kami?!” kata Erio dengan marah. Beberapa Werewolf  pun datang dan juga ada warga lain yang datang. “Elika lebih baik kau segera pergi dari ” kata seorang laki-laki dari desa tersebut. “Ada apa, Robert?” tanya salah wanita yang bersamanya, tetapi ia juga terpanah karena melihat, “Erio . . .” kata mereka berdua. “Robert Vermintz. Starla Mooncleave . . .” kata Erio dengan tatapan dingin pula. Werewolf yang bersama Erio kembali ke wujud manusianya dan bertanya, “Apakah mereka juga terget kita?” .

Saat Erio hendak menjawab tiba-tiba Ksatria Vampire Jerger datang menyerang. “Oh, jadi sekarang kau yang memimpin anjing-anjing ini?” kata Franklin dengan merendahkan keluarga de Wolfree. Para Werewolf  yang tidak terima langsung melompat menerkam mereka, tetapi peralatan untuk menangkap Werewolf  mereka cukup untuk mengalahkan Erio dan yang lainnya. “Berhenti, jangan terburu-buru. Ia sengaja memancing kita.” kata Erio. “Mungkin kau sudah sedikit pintar, Erio. Tetapi itu sia-sia sekarang!” kata Franklin lalu menyerang Erio dan Werewolf  lain. Elika hendak menghentikan mereka, tetapi Robert menghalanginya. “Tidak! Jangan, Elika. Terlalu berbahaya untuk menghalangi mereka.” kata Robert. “Tetapi . . . Tetapi . . .” Elika tidak ingin Erio berakhir seperti ini. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Starla. “Kita tidak tau mana pihak yang benar atau yang salah, kita harus mengetahui alasan mereka menyerang desa.” kata Robert. “Tadi Erio bilang jika kita telah memburu mereka.” jawab Elika dengan nada sedih.

Lalu dengan sigap Starla menemui Werewolf  yang tertangkap. “Hei, kau. Kenapa kalian datang menyerang desa?” tanya Starla. “Memangnya apa urusanmu!” jawabnya. “Kau ini ingin selamat atau tidak?!”  kata Starla. Ia hanya diam  terkejut, lalu berkata “Kami hendak membalaskan dendam keluarga kami yang kalian buru kemarin malam, karena pemimpin kami Albus de Wolfree terbunuh dalam perang tersebut. Sekarang Erio adalah pemimpin kami, kami akan melaksanakan perintahnya.” jawabnya. “Jadi begitu. Terimakasih.” jawab Starla lalu pergi. “Hoi, setidaknya lepaskan aku!” katanya dengan kesal.

“Bagaimana? Kau mendapat suatu informasi?” tanya Robert. “Mereka datang kemari hanya untuk balas dendam.” kata Starla. “Tapi kenapa?” tanya Robert. “Para Ksatria telah memburu mereka dan terjadi pertarungan, paman Erio yang menjadi pemimpin waktu itu gugur di medan perang. Sekarang mereka menuntut balas.” jawab Starla. “Ini buruk! Sekarang akan lebih sulit menghadapi mereka.” kata Robert. “Di tambah lagi sekarang Erio yang menjadi pemimpin mereka.” Starla menambahkan. “Jadi kuncinya kita harus meyakinkan Erio supaya menghentikan ini semua.” kata Robert memberi perintah. “Erio . . .” kata Elika dengan cemas. Meskipun hanya  menggunakan pedang, tetapi itu bukan masalah bagi Erio, ia bisa melawan para Ksatria tanpa tergores sedikitpun. “Kenapa kalian memburu kami?!” tanya Erio. “Aku sudah menjawab pertanyaan ini, aku sedikit malas menjawabnya.” jawab Franklin. “Kurang ajar!!!” kata Erio dengan marah sekaligus mulai menyerang Franklin. Franklin pun cukup memberikan perlawanan hingga Erio kewalahan. “Ayo! Tunjukan kemampuanmu sebagai Azul Wolf!” tantang Franklin menantang Erio.

Erio tau jika ia tidak boleh bertindak gegabah, ia harus menahan emosinya untuk berubah. Perlawanan Franklin cukup mendesak Erio, ia tidak punya pilihan lain untuk melawannya dalam wujud serigalanya. “Haha! Benar-benar hebat!” kata Franklin dengan terus menantang Erio meski sudah berubah menjadi Werewolf. Erio berhasil memojokan Franklin, tetapi itu hanya jebakan sehingga Erio terperangkap. “Sudah menyerah? Atau kau masih bisa menari lagi?” Franklin terus memancing emosi Erio. Erio suah tidak mempu menahan luapan emosinya, ia tidak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi jika ia membairkan jiwa buasnya bangkit. Erio menjadi buas dan mulai mengamuk hingga Franklin mulai kesulitan dengan perlawanan Erio yang semakin brutal. Lalu Erio berhasil memojokan Franklin dan menggigit lehernya. Franklin pun tewas karena kehilangan banyak darah.

Semua Ksatria yang melihatnya mulai ketakutan karena pemimpin mereka telah mati. Erio mulai berbalik, Ksatria lain pun juga mulai ketakutan. “Hentikan, Erio!” teriak Elika. Erio hanya menggeram sambil berjalan mendatangi Elika. “Aku tau dirimu yang sesungguhnya tidak akan melukai seseorang tanpa alasan meskipun itu kau lakukan, sebenarnya kau juga tidak mau melakukannya.” kata Elika. “Apa yang dilakukannya?” tanya Starla. “Sebenarnya itu tindakan bodoh mendekati Lycan yang mengamuk, semoga saja ia bisa melakukan apa yang ia mau.” jawab Robert. “Erio . . . Kembalilah menjadi Erio yang aku kenal dulu.” sambil perlahan mencoba menyentuh Erio. Perlahan-lahan Erio kembali menjadi manusia lagi, “Meskipun aku telah selesai dengan urusanku di sini, aku tetap tidak akan kembali.” kata Erio. “Tapi . . . Kenapa?” tanya Elika. “Aku sudah muak dengan panggilan yang kalian berikan, ditambah lagi kalian semua tidak pernah mau menrima kami sejak dulu!” jawab Erio. Lalu Elika terdiam, “Bukankah kami sudah mengganti panggilan tersebut yang di ambil dari namamu seniri?” tanya Elika. “Lalu apa sebutan kalian pada kami?” tanya Erio dengan tatapan dingin. “Werewolf.” jawab Robert. Erio terkejut mendengar hal tersebut, “Bagaimana, kawan? Maukah kau memulai seperti dulu lagi?” tanya Robert dan mengajak Erio berjabatan. Dengan tersenyum Erio menjawab, “Tidak.” .

“Tapi kenapa?” tanya Elika dengan sedih. “Aku senang kalian telah mengganti sebutan untuk kami, tetapi kami tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Warga desa yang selamat akan mulai takut dengan kami meski berwujud manusia, kami akan kembali ke Gua de Wolfree memulai awal yang baru lagi.” jawab Erio. “Kemarilah sebentar, Robert.” kata Erio. Robert menghadap kepada Erio layaknya penobatan Ksatria. “Dengan meninggalnya Franklin Jaeger, aku nyatakan kepemimpinan Vampire Jaeger kini di tanganmu, Robert Vermintz.” kata Erio. “Tidak ada anak buah yang buruk, melainkan pemimpinnyalah yang buruk. Aku harap kau bisa memimpin Ksatria ini lebih baik dari pada pemimpin sebelumnya.” pesan dan harapan Erio kepada Robert. “Tentu, kawan. Tentu!” jawab Robert. Para Ksatria lain pun memberikan hormat kepada Robert dengan menancapkan pedang mereka ke tanah dan membungkuk kepadanya.

“Kami harus kembali sebelum fajar nanti.” kata Erio. “Erio! Tinggalah berama kami!” kata Elika. “Aku sudah mengataknya kepadamu, Elika. Aku kira sudah cukup memberitaumu.” jawab Erio. Elika begitu sedih karena merasa kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya. Lalu Erio memeluk Elika dan berkata, “Aku tau bagaimana persaanmu kehilangan orang yang kau cintai. Karena aku juga pernah merasakannya.” . Elika tidak tau harus bagaimana, ia begitu terbawa suasana. “Ya ampun, benar-benar mengharukan. Bagaimana denganmu Robert? Kau tidak mau memelukku?” tanya Starla. Dengan memberikan ekspresi yang tidak meyakinkan Robert menjawab, “Jangan berharap.” . Tetapi Robert tetap memeluk Starla juga. Setelah itu Erio dan Werewolf  lainnya kembali ke Gua de Wolfree dan kali ini Elika tidak bersedih karena Erio pergi lagi.

Pada malam harinya, di Conqueron Kurnia sedikit kewalahan karena dokumen yang menyangkut ‘de Wolfree’ cukup banyak. “Aahh . . . Ini benar-benar melelahkan mata!” keluh Kurnia. “Lagi pula kau sendiri juga yang mau.” kata Aprilia (pasangan/kekasih Kurnia). “Waktu itu aku  kira tidak akan sebanyak ini kronologisnya. Jika Harunio yang menangani ini pasti tidak akan mampu, dan juga pasti dia akan melibatkanku juga.” kata Kurnia. “Apa karena itu Yudai memintamu melakukan tugas ini?” tanya Aprilia. “Mungkin juga, Harunio selalu mempercayaiku sebagai pengamat jika kami bertugas bersama-sama.” jawab Kurnia. “Tidak bisakah yang lain juga ikut membantu?” kata Aprilia memberi saran. “Aku belum menanyakannya, di tambah lagi aku tidak tau harus mulai dari siapa.” jawab Kurnia. “Coba sajalah, kita semua satu tim.” kata Aprilia.

Lalu Kurnia berfikir sejenak, “Tidak apa-apa kan jika aku meminta Blitz untuk membantu?” tanya Kurnia. “Silahkan saja, jika ia mampu membantumu.” jawab Aprilia. “Maaf, Blitz apa kau bisa membantuku?” tanya Kurnia kepada Blitz menggunakan de Ordernya. “Bantuan apa? Tidak seperti biasanya.” jawab Blitz (tambahan : Blitz adalah nama dari seorang perempuan di sana). “Yudai memintaku mempelajari lebih lanjut tentang sejarah de Wolfree, dan dokumennya banyak sekali. Aku akan mengirimkan beberapa dokumen kepadamu.” kata Kurnia. “Kenapa aku?” tanya Blitz. “Karena Harunio selalu mengandalkanmu untuk memimpin jika ia terpaksa, maka aku juga akan melakukan hal yang sama.” jawab Kurnia. “Baiklah, ini sudah kau bagikan yang mana bagianku dan yang mana bagianmu?” tanya Blitz. “Ya, mohon bantuannya.” jawab Kurnia. Lalu Kurnia mengirimkan dokumennya kepada Blitz memaluli de Order pula. “Jika aku sudah selesai aku akan memberitaumu.” kata Blitz. “Ya, terimakasih.” jawab Kurnia. “Falco, Kurnia diberi tugas oleh Yudai, ia memintaku untuk membantunya. Jadi, kami akan bersama dulu untuk bebrapa saat.” kata Blitz kepada Falco (pasangan/kekash Blitz). “Berapa lama?” kata Falco, sepertinya ia sedikit khawatir Blitz akan tertarik kepada Kurnia. “Akan aku usahakan agar selesai secepat mungkin.” jawab Blitz sambil memegang tangan Falco. Falco hanya tersnyum, dan spertinya Falco mengizinkan Blitz.

Pagi harinya setelah Erio dan Werewolf  lain kembali, mereka bekerja sama menguburkan jasad Werewolf  dan Ksatria yang telah gugur setelah perang berlangsung. “Kami turut berduka atas kematian pamanmu, Erio”  kata salah satu anggota keluarga. “Ya, hal itu telah berlalu tidak perlu di ungkit kembali. Kita harus melangkah maju menghadapi hari esok yang akan datang.” kata Erio. Kata-kata Erio benar-benar menyemangati stiap anggota keluarga, mereka tidak menyesal menjadikan Erio sebagai pemimpin menggantika pamannya.

Malam harinya Erio keluar untuk memandangi bulan seperti dulu lagi. Sekedar mengingat kenangan lama yang ia rasakan kembali, bertemu dengan teman-teman lama yang masih terus mengingat dirinya. Tiba-tiba ada orang asing yang datang, “Kau Erio de Wolfree?” tanya orang asing tersebut. Karena tidak tau siapa orang tersebut lebih baik Erio waspada. “Memangnya ada apa?” tanya Erio. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin meminta sedikit bantuanmu.” kata orang asing tersebut. “Memangnya apa untungnya bagiku, orang asing.” kata Erio. “Anggap saja ini adalah ujian kemimpinanmu, kau juga mengetahui Yudai bukan? Ini seperti sistim miliknya memberi tugas, menerima laporan, dan selesai.” kata orang asing tersebut. Erio sedikit terkejut ia juga mengetahui tentang Yudai, bahkan sistim yang ada di Conqueron. “Beberapa hari yang lalu kami melakukan sebuah eksperimen, lalu subjek kami berhasil lolos. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menangkapnya.” kata orang asing itu memberi penjelasan. “Melacak sesuatu itu perlu benda yang pernah ia pakai atau digunakan.” kata Erio. “Kami tau, aku membawakanmu sesuatu.” .

Lalu orang asing itu memberi sesuatu kepada Erio. Suatu benda yang berwarna merah dan bercorak hitam tidak beraturan, Erio belum pernah melihat benda itu sebelumnya. “Apa ini?” tanya Erio. “Aku yakin ini sudah lebih dari cukup untuk membantumu menemukan subjek kami itu.” kata orang asing tersebut. Erio sedikit bingung mengamati benda aneh tersebut, “Lalu apa yang harus aku lakukan setelah menemukan subjekmu itu?” tanya Erio. “Kau bisa membawanya kemari lagi jika sudah kau temukan.” jawab orang asing itu. Saat Erio hendak menjawabnya, tiba-tiba orang asing  tersebut telah menghilang secara misterius seperti caranya datang. Erio menganggap ini sebagai ujian kepemimpinan seperti katanya, lalu ia kembali ke gua.

“Kau sudah kembali, Erio.” sambut salah satu anggota keluarga. “Kumpulkan beberapa pelacak terbaik kita yang masih ada, aku memiliki tugas untuk mereka.” kata Erio memberi perintah seperti Yudai. “Ada apa ini? Kau tidak seperti biasanya.” tanya anggota keluarga tersebut. “Apa kau tidak mendengarku?!” tanya Erio dengan menggertak. Lalu anggota keluarga tersebut segera mengumpulkan beberapa Werewolf  lain yang mahir melacak. “Aku ingin kalian mencari orang yang memiliki bau seperti ini.” sambil menunjukan benda aneh tadi. Tidak ada yang tau persis benda apa itu, lalu Erio membagi benda tersebut menggunakan pedang nya supaya tidak terjadi kesalahan. “Kalian cukup mengetahui dari mana bau itu berasal, setelah itu segera kembali.” kata Erio. “Baiklah!” jawab mereka. “Silahkan berangat.” kata Erio. Lalu para Werewolf segera berangkat mencari asal bau dari benda tersebut.

Kurnia dan Blitz telah menganalisis dari dokumen yang diberikan Yudai. “Jika begitu, lebih baik kita segera melaporkannya pada Yudai.” kata Kurnia. Setelah itu mereka berdua menemui Yudai untuk melaporkan tugas mereka. “de Wolfree di bentuk oleh seorang manusia serigala atau Lycan, dalam keluarga tersebut hanya laki-laki keturunan murni keluarga tersebut yang dapat berubah menjadi manusia serigala. Jika ada orang yang terkena gigitannya, orang itu akan menjadi Lycan juga. Dan berasarkan data tebaru, nama Lycan di ganti dari nama seseorang bernama William Erio de Wolfree menjadi Werewolf.” kata Kurnia memberi laporan. “Baiklah, terima kasih atas laporanmu Kurnia.” kata Yudai. “Aku tidak mengerjakannya sendiri, Blitz juga ikut membantu.” kata Kurnia. “Begitu rupanya, terima kasih juga, Blitz.” kata Yudai. “Sama-sama.” jawab Blitz. “Baiklah, sekarang kalian boleh kembali.” kata Yudai. Lalu Kurnia dan Blitz kembali pulang.

“Terima kasih atas bantuanmu, Blitz.” kata Kurnia. “Sama-sama, Kurnia.” jawab Blitz. “Kau tidak langsung pulang?” tanya Blitz. “Izinkan aku untuk menemanimu sampai ke rumahmu sebagai tanda terima kasihku.” kata Kurnia, tetapi Aprilia melihat Kurnia bersama Blitz dari jendela rumah mereka. “Sepertinya aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini.” kata Kurnia. “Kau tidak masuk dulu?” tanya Blitz. “Tidak, terima kasih untuk tawarannya.” jawab Kurnia. “Tidak apa-apa, Kurnia. Lagi pula kita rekan satu tim bukan?” kata Falco. “Maaf, tidak bisa. Aku tidak mau meninggalkan Aprilia lebih lama lagi.” jawab Kurnia, “Baiklah, terima kasih karena telah mengantarkan Blitz sampai di sini.” kata Falco. “Sama-sama.” jawab Kurnia, lalu Kurnia segera pulang. Sesampainya di rumah, ternyata Aprilia sudah tidur. Kurnia fikir ia akan marah karena Kurnia tidak langsung pulang. 
Bersambung...

Comments