de Wolfree II : Rise Of The Night’s Wing Part 1
“Kita
berbeda, kita tidak bisa bersama-sama lagi.” . Itu adalah kata terakhirku yang
aku William Erio de Wolfree ucapkan kepada orang terakhir, atau lebih tepatnya
manusia terakhir yang mau mengakui keberadaanku sebagai seorang Lycan atau
Werewolf kata mereka. Setelah
meninggalkan desa, seluruh anggota keluarga de Wolfree yang tersisa hidup di
dalam Gua yang terletak jauh dari desa.
Memang
jauh berbeda dari kediaman de Wolfree di desa dulu, tetapi ini adalah pilihan
terbaik yang bisa kami lakukan. Tidak perlu khawatir, di sana cukup pencahayaan
baik siang maupun malam, di tambah lagi di sana merupakan jalur sungai bawah
tanah. Setiap siang selalu terang akan cahaya matahri dan malam di terangi
sinar bulan. Dengan kemampuan kami sebagai Werewolf (Manusia Serigala), kami
masih bisa bertahan hidup dengan berburu binatang di sekitar Gua.
Namun
seperti dulu, kami tidak sendiri berada di sana. Ada klan yang bernama Black
Wing atau sering di sebut Night’s Wing. Disebut Night’s Wing karena mereka
tidak akan terlihat saat terbang di malam hari disebabkan sayap mereka yang
berwarna hitam membuat mereka berkamuflase di langit malam. Akan tetapi ada
beberapa Black Wing yang hidup sendiri bahkan membuat wilayah tersendiri untuk
alasan tertentu.
Kepemimpinan
sekarang berada pada Pamanku Albus de Wolfree, beliau dipilih karena saat di
desa dulu ia juga yang memimpin klan, meski ia hanya seorang Glacial sedangkan
aku seorang Azul tetapi aku belum siap untuk hal tersebut. “Erio, aku tidak akan selamanya ada untukmu
dan keluarga ini. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, aku rasa
hal itu yang telah menentiku tidak lama lagi.” kata Albus. “Ada apa paman?
Paman tidak terlihat sakit dan paman masih sehat seperti biasa.” jawab Erio. “Jika
hari itu datang, kamulah yang akan mewarisi kepemimpinan akan keluarga ini.”
jawab Albus. “Tapi....” jawab Erio dengan sedikit ragu. “Garis keturunan Azul
kini hanya milikmu, terakhir kali ada seorang Azul adalah Fenrir de Wolfree dan
ia telah lama meninggal karena di buru oleh manusia. Bahkan mayatnya pun tidak
di temukan, aku berharap lebih padamu, Erio.” kata Albus dengan memberi harapan
pada Erio. Erio hanya merasa tertekan karena kepemimpinan akan jatuh kepadanya,
lalu ia pergi untuk merenungkan tindakan selanjutnya yang akan ia lakukan.
Entah
seberapa jauh ia pergi, bahkan pagi harinya pun Erio belum kembali ke Gua de
Wolfree. Di saat Erio tertidur di tengah hutan, ada yang menemukannya yaitu
salah satu Guarder di Conqueron. “Yudai, kami menemukannya di tengah hutan
dengan pedang ini bersamanya. Tampaknya ia bukan dari Conqueron.” kata salah
satu Guarder yang menukan Erio. “Setidaknya kita akan merawatnya
meski hanya
sementara, mungkin ia prajurit yang tersesat.” jawab Yudai . “Baiklah.” jawab
Guarder itu pula. Erio dibawa oleh Guarder tersebut menuju rumah sakit
di Conqueron untuk mendapat pertolongan pertama. Karena Yudai sedang memiliki
waktu luang, ia memilih untuk menemani Erio meski ia mengenalnya. Dan beberapa
saat kemudian Erio terbangun.
Saat
Erio terbangun, ia tidak tau berada dimana. “Seperti di desa dulu, apa ini
mimpi?” kata Erio dengan sedikit kagum. “Jadi kau sudah sadar?” kata Yudai yang
menunggunya. Karena terkejut dengan keberadaan Yudai, Erio pun terjatuh dari
tempatnya. “Apa kau tidak apa-apa?” tanya Yudai, “Ya, aku tidak apa-apa. Dimana
aku?” tanya Erio. “Jadi kau memang bukan Emylier dari sini, disini adalah Conqueron.
Lebih tepatnya kau sedang berada di rumah sakit Conqueron, tempat bagi para Emylier yang berada di bawah
perintahku. Namaku Yudai, Leadro atau pemimpin di sini. Siapa kau, orang
asing?” tanya Yudai. “Aku William Erio de Wolfree” jawab Erio. “Dari mana
asalmu?” tanya Yudai lagi. “Aku rasa aku datang dari arah Baradaya.” jawab Erio.
“Baiklah Erio, kau baru bangun pagi ini lebih baik kau sarapan terlebih dahulu.”
sambil memberikan makanan pada Erio. “Terima kasih, tetapi aku tidak bisa
berlama-lama di sini, aku harus kembali ke keluargaku.” jawab Erio. “Aku tau,
habiskan dulu sarapanmu, setidaknya terimalah pemberian dari orang meski kau
tidak menyukainya.” kata Yudai. “Terima
kasih, Yudai.” jawab Erio lagi. “Tidak masalah, aku akan menyuruh beberapa
Guarder untuk menemani perjalananmu.” kata Yudai. “Tidak usah repot-repot, aku
bisa kembali sendiri.” jawab Erio. “Baiklah jika kau memaksa.” jawab Yudai
pula. “Apa kau tahu pedangku?” tanya Erio.”Pedang itu milikmu? Ada di pojok
ruangan jika kau mencarinya.” jawab Yudai. Setelah Erio menghabiskan
sarapannya, ia segera pergi meninggalkan Conqueron agar tidak di ikuti oleh
orang-orang dari Conqueron.
Pamannya,
Albus de Wolfree khawatir karena Erio tidak ada saat sarapan bersama seluruh
keluarga de Wolfree. Lalu siang harinya Erio baru sampai di Gua de Wolfree,
dengan di sambut Albus dengan raut muka yang marah. “Dari mana saja kau selama
ini?!” tanya Albus dengan sedikit marah kepada Erio. “Aku pergi menjernihkan
pikiranku.” jawab Erio dengan agak ketakutan. “Memangnya waktu satu malam tidak
cukup untuk membuat pikiranmu lurus?!” jawab Albus. Erio hanya bisa terkejut
sesaat dan kemudian diam. “Aku berharap kau bisa menjadi pemimpin yang dapat
memimpin keluarga ini dengan baik.” kata Albus. “Aku tau jika paman berharap
seperti itu kepadaku, tetapi itu tidak bisa di lakukan semudah mengatakannya.
Paling tidak bairkan aku melatih diriku sendiri terlebih dahulu, sebelum aku
memimpin keluarga ini.” jawab Erio. Albus hanya bisa terkejut mendengar jawaban
Erio, ia kira Erio berniat meninggalkan seluruh keluarga seperti Fenrir. “Kau
sudah mengalami hari yang panjang, kenapa tidak beristirahat terlebih dahulu?”
kata Albus dengan ramahnya. Erio kira pamannya akan menghukumnya karena
meninggalkan Gua lebih dari 1 malam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti
saran pamannya tadi. Erio merasa ia akan bisa menjadi pemimpin seperti Yudai,
Erio bermaksud untuk kembali ke Conqueron lagi untuk menemui Yudai.
Setelah
Erio meniggalkan Conqueron, Yudai pergi menemui salah satu Emylier sekaligus
teman baiknya di Conqueron. “Pagi, Harunio.” kata Yudai. “Pagi.” jawab Harunio
dengan singkat. “Kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja terjadi.”
kata Yudai sambil tersenyum dan sedikit tertawa. “Memangnya ada apa?” tanya
Harunio dengan penasaran. “Masih
pagi-pagi seperti ini saja
langsung ada laporan orang asing yang tidur di hutan.” jawab Yudai. “Memangnya
aku akan tertarik degan hal semacam itu?” kata Harunio sedikit mengeluh. “Haha,
sudahlah. Aku ingin kau dan timu segera datang ke ruanganku, ada tugas baru
untuk kalian.” kata Yudai. “Ini baru pagi dan kau sudah menyibukan kami dengan
tugas lagi?” keluh Harunio. “Aku bilang segera, jika bisa secepatnya.” kata
Yudai. “Ya ya, baiklah.” jawab Harunio. “Baiklah, sampai nanti.” kata Yudai.
“Sampai nanti.” jawab Harunio.
Tidak
lama kemudian datang seseorang dari rumah Harunio, “Siapa itu tadi, Harunio?”
kata Miho (pasangan/kekasih Harunio). “Oh, tadi Yudai kemari meminta semua
anggota untuk ke ruangannya. Ada tugas baru katanya.” jawab Harunio. “Tapi
bukankah beberapa anggota tim juga masih dalam tugas dan belum kembali?” tanya
Miho. “Aku kira Kurnia dan lainnya akan lebih cepat kembali. Jika mereka belum
kembali maka hanya kita berdua yang akan berangkat.” jawab Harunio. “Ia,
baiklah.” kata Miho, lalu mereka berdua memasuki rumah untuk sarapan.
Beberapa
saat kemudian, Harunio dan Miho mendatangi Yudai terlebih dahulu karena
rekan-rekan mereka belum kembali dari tugas mereka. “Baiklah, apa yang kita
punya sekarang?” tanya Harunio. “Kita mendapat informasi tentang
ada jelmaan yang
masyarakat sekitar yakini sebagai utusan Tuhan. Ia bisa menumbuhkan tanaman
seperti gandum tanpa benih sekalipun. Aku ingin kau mengumpulkan informasi
tentangnya, ini bisa membantu pertanian di Darko Tera.” kata Yudai sambil
menjelaskan tugas mereka. “Aku kira kita bisa memberikan bantuan dari sini
langsung.” kata Harunio. “Jika kita terus menerus memberikan cadangan dari
Conqueron, lama kelamaan kita akan kehabisan stock untuk kita sendiri. Dengan kata
lain, kita bisa memanfaatkan lahan terbuka di Darko
Tera sebagai
penopang pertanian di sana.” jawab Yudai. “Begitu
rupanya.” Kata Harunio,
“Lalu kenapa hanya kalian berdua yang datang kemari?” tanya Yudai. “Kurnia dan
lainnya masih belum kembali, jadi aku kira hanya kami yang akan menjalankan
tugas ini.” jawab Harunio. “Jika kalian bisa melakukannya tidak masalah, tetapi
akan aku beri toleransi untuk menunggu Kurnia dan lainnya kembali dari tugas
mereka.” kata Yudai. “Baiklah, paling lambat kami akan berangkat besok.” jawab
Harunio. “Ya, sekarang kalian boleh kembali.” kata Yudai. Setelah itu Harunio
dan Miho kembali pulang.
Setelah
semua kembali normal, Albus mengajak Erio bicara. “Jadi, apa kau sudah siap
untuk menjadi pemimpin keluarga ini?” tanya Albus. “Tolong beri aku waktu, aku
menemukan orang yang juga seorang pemimpin di daerahnya.” jawab Erio. “Mungkin
itu dapat memberimu kepercayaan diri dengan latihan langsung dari ahlinya.”
kata Albus. “Ya mungkin juga.” jawab Erio. “Lalu di mana kau bisa menemukan
orang seperti itu?” tanya Albus lagi. “Sebelumnya aku minta maaf, paman. Saat
aku terlambat pulang waktu itu, pada malam harinya aku pergi entah kemana. Lalu
aku tertidur di hutan, ada penjaga yang menemukanku di hutan lalu membawaku ke
desa mereka.” kata Erio. “Lalu apa yang terjadi?” tanya Albus. “Mereka menjagaku
sampai aku bangun pagi harinya, dan aku bertemu dengan pemimpin di sana.” jawab
Erio. “Baguslah jika kau dapat menemukan sumber inspirasimu sendiri, ini juga
akan melatih kemandirianmu.” kata Albus. “Aku senang paman bisa mengerti.” kata
Erio.
Sementara
itu, di Conqueron Harunio masih menunggu Kurnia dan rekan satu timnya kembali
dari tugas mereka. “Tidak seperti biasanya Kurnia dan yang lain menjalankan
tugas selama ini.” keluh Harunio. “Tenanglah Harunio, mungkin mereka sedang
dalam perjalanan pulang.” kata Miho menenangkan Harunio. Lalu Harunio mencoba
menghubungi Kurnia dengan de Order miliknya (alat komunikasi bagi para
Emylier). “Kurnia, laporkan posisimu.” kata Harunio. “Kurnia di sini, kami
masih dalam perjalanan pulang menuju Conqueron.” kata Kurnia. “Ternyata benar.”
Kata Harunio sambil
mengatakannya kepada Miho, “Perkiraan waktu sampai di Conqueron?” tanya Harunio
kepada Kurnia. “Beberapa jam lagi.” jawab Kurnia. “Ya ampun, cepatlah.” kata
Harunio. “Kami usahakan, memangnya ada apa?” tanya Kurnia. “Tugas baru, segera
kembali ke Conqueron.” kata Harunio. “Meskipun kami sampai di sana sekarang, kami
tetap tidak bisa ikut. Ya kau sendiri tau kawan, setelah bertugas kami layak
mendapat waktu untuk
istirahat.” jawab Kurnia. “Benar juga . . .” kata Harunio dengan sedikit kehilangan
semangat. “Harunio,
kau tidak apa-apa?” tanya Miho. "Aku tidak apa-apa . . .” jawab Harunio.
“Aku kira kali ini kau harus melaksanakannya tanpa kami, kawan.” kata Kurnia.
Sambil menarik nafas dalam Harunio menjawab, “Baiklah kalau begitu . . .” .
Pada
malam harinya di Gua de Wolfree, Erio akan berangkat kembali ke Conqueron.
“Mafkan aku paman, karena jarak dari sini ke tempat orang itu cukup jauh. Jadi
aku harus berangkat sekarang.” kata Erio. “Kau sudah melakukan apa yang kau
bisa, lagi pula ini adalah latihanmu sebagai pemimpin keluarga ini, bagaimana
aku bisa melarangmu.” jawab Albus. “Terimakasih paman.” kata Erio. Setelah itu
Erio segera berangkat menuju Conqueron, tetapi ia meninggalkan jejak yang tanpa
ia sadari mengancam seluruh keluarga de Wolfree.
Salah
seorang anggota keluarga mendatangi Albus. “Ia tidak akan selamanya menjadi
anak kecil di matamu.” katanya. “Ya, memang benar.” jawab Albus. Saat mereka
hendak kembali ke dalam gua, ada orang lain yang datang ke gua tersebut. “Wah
wah, ternyata Albus de Wolfree.” kata orang tersebut. Albus dan salah seorang
anggota keluarga tersebut terkejut dengan kedatangan orang tersebut. “Franklin
Jaeger!” kata Albus dengan sedikit terkejut. “Meski sudah cukup lama
meniggalkan desa, kau tetap mengingatku.” kata Franklin. “Meski sudah jauh dari
rumah yang tidak mau mengakui kami, tetapi kami teleh menemukan rumah baru bagi
kami yang lebih baik dari dinding-dinding tua di desa.” kata Albus. “Heh, gundukan
batu runcing ini kau sebut rumah? Ini lebih tepatnya disebut sarang!” kata
Franklin dengan menghina Gua de Wolfree. “Kau tidak berhak menghina rumah
kami!” kata anggota keluarga yang bersama Albus sambil berubah menjadi Werewolf
untu menerkamnya. Tetapi Franklin tidak seorang diri, beberapa Ksatria Vampire
Jaeger yang dulu juga bersamanya dengan perlengkapan untuk memburu Werewolf.
Anggota
keluarga tersebut terlalu terbawa emosi sehingga jatuh ke perangkap Franklin.
“Apa yang kau lakukan?!” kata Albus dengan nada mengancam. “Sederhana saja,
kalian sendiri bahkan jauh lebih buas dari binatang liar di sini. Merupakan
suatu ancaman bagi kami jika kalian tidak di musnahkan!” kata Franklin. “Jadi . . . ia atang kemari untuk membunuh
kami semua?!” kata
Albus dalam fikirannya.
“Sudah cukup dengan sandiwara ini, waktunya untuk menyelesaikan semuanya
sekarang. Maju!
Habisi
mereka!” kata Franklin memberi perintah. “Jika kau sadar betapa buasnya kami .
. .” , lalu Albus berubah menjadi Werewolf dan melolong. “ . . . kau harusnya
berpikir dua kali untuk datang kemari!” kata Albus. Para anggota keluarga yang
telah menjadi Werewolf mulai keluar dari gua kerena mendengar panggilan Albus.
Pertempuran
sengit antara kedua belah pihak berlangsung menegangkan hingga fajar tiba,
begitu melihat pagi akan segera datang para Werewolf terpaksa harus meninggalkan medan perang.
Sayangnya pemimpin keluarga de Wolfree yaitu Albus de Wolfree gugur dalam
pertempuran tersebut di tangan Franklin Jaeger. Para Werewolf mulai mengalami konfik karena pemimpin mereka
telah tiada, bahkan Erio pun pergi sebelum insiden tersebut terjadi. “Kita
tidak bisa seperti ini, kita harus segera mencari Erio dimanapun ia berada!”
kata salah satu anggota keluarga. “Jika kita mencari Erio itu akan sulit di
lakukan, kita bahkan tidak tau dimana ia berada.” jawab salah satu anggota
keluarga pula. “Para Vampire Jaeger pasti sedang berpesta merayakan kemenangan
yang seharusnya milik kita!” . “Meskipunbegitu kita tidak bisa bertindak
kegabah, mereka telah mempelajari kemampuan kita. Itu terbukti dari
jebakan-jebakan yang mereka buat begitu efektif untuk menyerang kita.” . “Jadi
apa yang akan kita lakukan? Jumlah kita semakin berkurang.” . “Jika Erio
selamat, ia pasti akan kembali ke gua, kita hanya perlu berjaga di sekitar gua
menanti kedatangannya.” . Sepertinya usulan tersebut merupakan harapan terakhir
bagi anggota keluarga de Wolfree.
Pada
pagi harinya pun Erio sampai di Conqueron, lalu ia berbicara pada Guarder di
sana. “Aku William Erio de Wolfree, ingin menemui Yudai.” kata Erio. “Memangnya
kau siapa? Pagi-pagi buta sudah membuat masalah.” kata salah satu Guarder itu.
Sepertinya Erio nampak kesal, lalu Yudai datang karena melihat ada yang aneh dari arah Baradaya.
“Biarkan dia lewat, ia bersamaku.”
kata Yudai. “Yudai! B-baiklah.” para Guarder terkejut karena Yudai tiba-tiba
datang. Lalu Erio pergi bersama Yudai. “Sepertinya kau memiliki rasa
ketertarikan terhadap tempat ini.” kata Yudai. “Bisa di bilang begitu juga.”
kata Erio. “Ada apa, Erio?” tanya Yudai. “Begini Yudai, pamanku memintaku
menjadi pengantinya untuk memimpin keluarga kami. Aku harap aku bisa mendapat
bimbingan darimu.” kata Erio. “Untuk menjadi seorang pemimpin, kau harus bisa
memimpin dirimu sendiri sebelum bisa memimpin orang lain. Dan juga, orang lain
juga harus mengakuimu sebagai pemimpin mereka.” kata Yudai, “Karena itu aku
datang kembali kemari.” Kata Erio
“Kau lihat dia?” Yudai menunjuk pada Harunio
yang sedang bersiap-siap untuk berangkat menjalankan tugasnya yang kemarin.
“Ya, siapa dia?” tanya Erio. “Namanya Harunio, suatu hari nanti aku ingin dia
menggantikanku sebagai Leadro (pemimpin) di sini. Intinya kalian berdua sama,
dia memang memiliki kemampuan untuk memimpin timnya yang memiliki anggota
paling banyak di bandingkan tim lain.” kata Yudai. Erio sedikit tersenyum, karena
ternyata ada orang yang sama seperti dirinya. “Selamat pagi, Harunio.” kata
Yudai, “Pagi, Yudai.” jawab Harunio. “Jadi, kau akan berangkat pagi ini?” tanya
Yudai. “Ya, Kurnia tidak bisa ikut meski aku sudah menunggunya seharian. Siapa dia?” kata Harunio. “Perkenalkan, dia adalah William Erio de Wolfree.” kata
Yudai. “Panggil saja aku ‘Erio’. ” kata Erio. “Erio, baiklah. Jadi kau orang
yang tidur di hutan kemarin?” tanya Harunio. Lalu Erio sedikit terkejut sambil
malu. “Harunio, kau tidak boleh menjelek-jelekan orang karena kesalahan yang
telah ia perbuat.” kata Miho. “Hehehe . . .” Harunio sedikit tertawa. “Tolong
maafkan Harunio, jika ia bersama orang yang baru di kenal ia suka bercanda.” kata Miho.
“Tidak apa-apa … Aku memang membuat kesalahan, tetapi aku tidak akan mengulang
kesalahanku untuk yang kedua kalinya.” jawab Erio. “Sepertinya kalian mulai
akrab. Jadi Erio, apa yang membawamu ke sini?” tanya Yudai. “Aku sudah
mengataknnya padamu, aku ingin belajar menjadi seorang pemimpin darimu.” jawab
Erio. “Baiklah, aku akan membawamu melihat-lihat Conqueron sambil membermu
sedikit penjelasan.” kata Yudai. “Terimakasih.” jawab Erio. “Baiklah Harunio,
kami pergi
dulu.” kata Yudai. “Ya, tidak masalah. Kami juga harus segera berangkat.” kata
Harunio.
Lalu
Harunio memanggil burung raksasa yang bernama Raska (lebih tepatnya Earthbound
Imortal Waqoucha Raska) dengan semacam teknik Kuchiyose, para Black Wing yakin
bahwa pendahulu mereka diselamatkan oleh Raska dengan memberinya kekuatan
sehingga klan Black Wing mempunyai sayap hitam. Erio terkejut melihat hal
tersebut, “A-apa ini benar?” tanya Erio dengan tidak
percaya. “Sepertinya
aku lupa memberi tahumu bahwa kami ini bukan manusia biasa.” kata Yudai. Lalu
Erio menjadi terdiam. “Sebenarnya aku juga bisa memanggil burung besar tadi
seperti Harunio, karena aku dan Harunio seorang Black Wing sedangkan perempuan
tadi adalah kekasih Harunio. Namanya adalah Miho, ia seorang Gumiho. Kami
yaitu Black Wing
sering disebut ‘The Night’s Wing’ ,
sedangkan Gumiho juga disebut ‘Day’s
Tail’ .” kata Yudai. “ ‘Day’s Tail’ ?
Aku pernah mendengarnya dari pamanku.” kata Erio.
“Benarkah?”
tanya Yudai, “Pendahulu kami atau lebih tepatnya kakek buyutku Alexandro Loupin
pernah bertemu dengan Day’s Tail. Dia menyebutnya . . .” , lalu Erio membuka
sarung tangannya, “. . . Azul Wolf..” sambil menunjukkan tanda di telapak
tangan kirinya
yang bermotif huruf ‘A’ . “Sepertinya kau juga bukan manusia biasa, Erio.” kata
Yudai dengan ekspresi yang berbeda. “Ya, kami keluarga de Wolfree adalah
manusia setengah serigala, kami bisa berubah jika kami melihat bulan purnama.
Tetapi aku bisa berubah langsung tanpa melihat bulan purnama karena pedang ini,
dan juga aku telah melatih diriku untuk melepaskan kekuatan itu dengan
amarahku.” kata Erio. “Hhmmm . . . Ini semakin menarik.” kata Yudai. Erio
sedikit terkejut karena tiba-tiba Yudai berkata seperti itu. “Sebelumnya aku tidak
pernah menemui orang sepertimu.” kata Yudai. “Jika anda mau, anda aku
persilahkan datang ke Gua de Wolfree. Kami tinggal di sana setelah meninggalkan
desa.” kata Erio. “Baiklah.” kata Yudai, lalu mereka melanjutkan perjalanan
mereka melihat-lihat Conqueron.
Setelah
mereka bersama-sama melihat Conqueron, pada sore harinya Erio hendak kembali ke
Gua de Wolfree. “Terimaksih untuk semuanya, Yudai.” kata Erio. “Sama-sama,
Erio. Sekarang pulanglah, aku yakin keluargamu telah menantimu.” jawab Yudai.
“Ya, kalau begitu sampai jumpa lagi!” kata Erio lalu segera berangkat kembali
pulang. Yudai sedikit berfikir tentang apa yang telah terjadi
hari ini, “de Wolfree dan Day’s Tail memiliki suatu
teka-teki yang membuatku penasaran.” Kata Yudai dalam fikirannya. Lalu Yudai
menghubungi Kurnia dengan de Ordernya, “Kurnia bisakah kau menemuiku malam
ini?” kata Yudai. “Baiklah, apa ada tugas baru?” tanya Kurnia. “Datang saja ke
ruanganku malam ini.” kata Yudai. “Baiklah.” jawab Kurnia.
Saat
Erio sampai di Gua de Wolfree, ia terkejut dan sedikit heran karena tidak
seperti biasanya disana lebih tenang dan senyap dari biasanya. “Halo? Paman,
aku sudah pulang.” kata Erio mencari seseorang yang ada. “Aneh, meski setiap
malam berburu tetapi harusnya masih bebrapa jam lagi.” kata Erio. Lalu Erio
mendengar sesuatu dari semak-semak, ia menyiapkan Wolf Sword miliknya. Erio mendatangi semak
tersebut, dan ia menemukan hewan yang terkena jebakan dengan bentuk dan ukuran yang tidak biasa.
Jebakan tersebut menjerat beberapa binatang bisana, Erio lalu pergi agak jauh
dari sana karena mencium bau yang berbeda. Dan ia menemukan mayat Ksatria
Vampire Jaeger dan mayat Werewolf lainnya. Ia merasa sedih bercampur marah
karena melihat hal tersebut, tidak lama kemudian anggota keluarga yang selamat
menemui Erio. “Kami tidak tau lagi harus bagaimana, Erio.” kata salah satu
anggota keluarga. “Kami sudah berusaha sebisa kami hingga pagi, tetapi mereka telah
mengetahui kelemahan kita dan juga jumlah kita sekarang semakin sedikit.” .
“Lalu di mana pamanku?” tanya Erio. Anggota keluarga yang lain terdiam
mendengar pertanyaan Erio itu, karena mereka tidak mau membuat Erio semakin
bersedih. Tetapi cepat atau lambat Erio pasti mengetahui kebenaran yang
sebenarnya.
“Sebelumnya
aku minta maaf, Erio. Pamanmu Albus de Wolfree telah gugur di medan perang
melawan Ksatria Vampire Jaeger.” . Erio terkejut mendengarnya, ia sampai tidak
bisa berkata lagi. Air mata Erio tidak tertahankan lagi, “Kami turut berduka
atas kematian pamanmu Erio, seperti yang ia mau kini kepemimpinan berada di
tanganmu.” kata salah satu anggota keluarga. Dengan menahan tangisannya, Erio
berkata “Malam ini juga . . . Kita akan membalaskan dendam kebebasan teman
sekaligus keluarga kita yang tidak berdosa. Ini akan menjadi pelajaran bagi
Vampire Jaeger untuk menghargai kebebasan dan kemerdekaan adalah milik semua
makhluk hidup! Entah itu Hewan, Tumbuhan, bahkan Werewolf sekalipun. Mereka telah memancing keluar
buruan mereka, kini saat mereka melawan KITA!!!” kata Erio untuk membangkitkan kembali semangat
de Wolfree. Bulan yang merespon semangat Erio menampakkan sinarnya, seperti
saat Erio memberi semangat kepada para anggota keluarga de Wolfree untuk
melawan Vampire dulu. Lalu Erio dan seluruh anggota keluarga de Wolfree yang
selamat segera kembali ke desa untuk melampiaskan dendam mereka.
“
‘de Wolfree’ ? Sepertinya nama ini termasuk dalam nama sebuah suatu keluarga
dalam sejarah.” kata Kurnia. “Ya, dan aku baru saja menemui
salah satu anggota
keluarga tersebut tadi pagi. Seorang pemuda dengan nama William Erio de
Wolfree, katanya ia di warisi kepemimpinan atas keluarga de Wolfree dari
pamannya.” kata Yudai menjelaskan. “Jadi anda ingin aku mempelajari lebih
lanjut tentang masalah ini?” tanya Kurnia. “Ya, tapi ini hanya sampingan. Kau
bisa melaporkannya kapan-kapan, tetapi kau sendiri tau jika lebih cepat akan
lebih baik.” kata Yudai. “Ya baiklah. Lalu bagaimana dengan Harunio?” tanya
Kurnia. “Dia sudah berangkat tadi pagi dengan Miho.” jawab Yudai. “Hanya berdua
saja?! Apa itu tidak apa-apa?” tanya Kurnia dengan sedikit khawatir. “Tidak
perlu mengkhawatirkannya, kau sendiri tau bagaimana Harunoi itu bukan?” jawab
Yudai. “Ya, tapi . . . ini tugas pengamatan, meskipun sendiri maupun dengan
Miho, pasti akan selesai lebih lama.” jawab Kurnia. “Tenanglah, dia sudah bukan
lagi orang yang tidak bisa melakukan apa-apa sendiri. Memangnya dia kembali
dengan sia-sia setelah 4
tahun bersama Darkos?” kata Yudai. “Baiklah, aku percaya Harunio telah berubah
drastis setelah ia pergi saat itu.” kata Kurnia. “Baiklah, aku tidak mau
mengambil waktumu lebih lama lagi. Kau boleh kembali.” kata Yudai. Lalu Kurnia
kembali pulang.
Beberapa
jam kemudian, Erio dan anggota keluarga de Wolfree yang selamat sampai di bukit
desa lama mereka. “Bukankah ini mengingatkanmu tentang kenanganmu dulu, Erio?”
tanya salah satu anggota keluarga tersebut. “Ya, kenangan mereka yang tidak mau
menerima kita sebagaimana mestinya.” kata Erio dengan marah. Erio menjadi
berubah drastis setelah mengetahui bahwa pamannya telah meninggal, ia begitu
marahnya hingga ingin membantai seluruh warga di desa tersebut seperti saat
keluarga de Wolfree dulu membantai bangsa Vampire yang menyerang desa tersebut.
Kemudian,
di desa tersebut terjadi peristiwa aneh. Para anjing di sana menggonggong
seperti ada hewan buas yang datang. “Ada apa ini?” itu yang di katakan warga
desa. Lalu terdengar suara geraman seperti hewan karnivora yang datang untuk
menyerang warga desa. Suasana menjadi semakin mencekam, itulah saat
mendebarkan penyerangan Werewolf dari keluarga de Wolfree. Salah satu Werewolf
menerkam warga desa di sana hingga tewas. Werewolf lain pun juga mulai menyerang warga desa di
sana.
“Cepat!
Para Lycan datang!” teriak salah satu Ksatria Vampire Jaeger, sepertinya mereka
telah mengetahui bahwa anggota de Wolfree yang selamat akan membalas dendam
pada mereka. Mendengarnya, Erio segera menerkam Ksatria tersebut agar mereka
tidak sempat mempersiapkan diri. “ ‘Lycan’?
Ternyata kalian masih menyebut kami dengan nama yang hina
itu ..!” kata Erio
sambil menjatuhkan kembali Ksatria yang baru saja ia terkam. “Franklin, para
anggota keluarga de Wolfree yang selamat telah datang.” kata salah satu Ksatria
yang telah mengetahui kedatangan Erio dan yang lainnya. “Mereka suah datang
sampai ke sini, kita harus menyambut mereka.” kata Franklin. Setelah itu mereka
mulai mempersiapkan perangkap Werwolf untuk menangkap Erio dan Werewolf lain yang selamat.
Erio
dan Werewolf lain benar-benar tidak
memberi ampun kepada para warga desa, tetapi mereka belum menemui Ksatria lain,
hingga Erio bertemu dengan teman lamanya. “Erio? Apa itu benar-benar dirimu?”
kata seorang wanita dari desa. Erio hanya menggeram menghadapinya, “Jika kau
memang masih seperti Erio yang aku kenal, maka kembalilah ke wujud manusiamu
dan kita bicarakan baik-baik.” kata wanita tersebut. Lalu Erio kembali ke wujud
manusianya dan berkata, “Tidak ada yang bisa di bicarakan lagi, Elika
Cloverleaf.” kata Erio dengan tatapan dingin. Ternyata wanita tersebut adalah
Elika Cloverleaf, teman lama Erio dulu sebelum ia dan keluarga de Wolfree
meninggalkan desa. “Engaku masih mengingatku, kau bukanlah monster.” kata Elika.
“Lalu kenapa kalian memburu kami?!” kata Erio dengan marah. Beberapa Werewolf pun datang dan juga ada warga lain yang
datang. “Elika lebih baik kau segera pergi dari –” kata seorang laki-laki dari
desa tersebut. “Ada apa, Robert?” tanya salah wanita yang bersamanya, tetapi ia
juga terpanah karena melihat, “Erio . . .” kata mereka berdua. “Robert
Vermintz. Starla Mooncleave . . .” kata Erio dengan tatapan dingin pula.
Werewolf yang bersama Erio kembali ke wujud manusianya dan bertanya, “Apakah
mereka juga terget kita?” .
Saat
Erio hendak menjawab tiba-tiba Ksatria Vampire Jerger datang menyerang. “Oh,
jadi sekarang kau yang memimpin anjing-anjing ini?” kata Franklin dengan
merendahkan keluarga de Wolfree. Para Werewolf
yang tidak terima langsung melompat menerkam mereka, tetapi peralatan
untuk menangkap Werewolf mereka cukup
untuk mengalahkan Erio dan yang lainnya. “Berhenti, jangan terburu-buru. Ia
sengaja memancing kita.” kata Erio. “Mungkin kau sudah sedikit pintar, Erio.
Tetapi itu sia-sia sekarang!” kata Franklin lalu menyerang Erio dan Werewolf lain. Elika hendak menghentikan mereka, tetapi
Robert menghalanginya. “Tidak! Jangan, Elika. Terlalu berbahaya untuk
menghalangi mereka.” kata Robert. “Tetapi . . . Tetapi . . .” Elika
tidak ingin Erio berakhir seperti ini.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Starla. “Kita tidak tau mana pihak yang
benar atau yang salah, kita harus mengetahui alasan mereka menyerang desa.”
kata Robert. “Tadi Erio bilang jika kita telah memburu mereka.” jawab Elika
dengan nada sedih.
Lalu
dengan sigap Starla menemui Werewolf
yang tertangkap. “Hei, kau. Kenapa kalian datang menyerang desa?” tanya
Starla. “Memangnya apa urusanmu!” jawabnya. “Kau ini ingin selamat atau
tidak?!” kata Starla. Ia hanya diam terkejut, lalu berkata “Kami hendak
membalaskan dendam keluarga kami yang kalian buru kemarin malam, karena pemimpin
kami Albus de Wolfree terbunuh dalam perang tersebut. Sekarang Erio adalah
pemimpin kami, kami akan melaksanakan perintahnya.” jawabnya. “Jadi begitu.
Terimakasih.” jawab Starla lalu pergi. “Hoi, setidaknya lepaskan aku!” katanya
dengan kesal.
“Bagaimana?
Kau mendapat suatu informasi?” tanya Robert. “Mereka datang kemari hanya untuk
balas dendam.” kata Starla. “Tapi kenapa?” tanya Robert. “Para Ksatria telah
memburu mereka dan terjadi pertarungan, paman Erio yang menjadi pemimpin waktu
itu gugur di medan perang. Sekarang mereka menuntut balas.” jawab Starla. “Ini
buruk! Sekarang akan lebih sulit menghadapi mereka.” kata Robert. “Di tambah
lagi sekarang Erio yang menjadi pemimpin mereka.” Starla menambahkan. “Jadi
kuncinya kita harus meyakinkan Erio supaya menghentikan ini semua.” kata Robert
memberi perintah. “Erio . . .” kata Elika dengan cemas. Meskipun hanya menggunakan pedang, tetapi itu bukan masalah
bagi Erio, ia bisa melawan para Ksatria tanpa tergores sedikitpun. “Kenapa
kalian memburu kami?!” tanya Erio. “Aku sudah menjawab pertanyaan ini, aku
sedikit malas menjawabnya.” jawab Franklin. “Kurang ajar!!!” kata Erio dengan
marah sekaligus mulai menyerang Franklin. Franklin pun cukup memberikan
perlawanan hingga Erio kewalahan. “Ayo! Tunjukan kemampuanmu sebagai Azul
Wolf!” tantang Franklin menantang Erio.
Erio
tau jika ia tidak boleh bertindak gegabah, ia harus menahan emosinya untuk
berubah. Perlawanan Franklin cukup mendesak Erio, ia tidak punya pilihan lain
untuk melawannya
dalam wujud serigalanya. “Haha! Benar-benar hebat!” kata Franklin dengan terus
menantang Erio meski sudah berubah menjadi Werewolf. Erio berhasil memojokan
Franklin, tetapi itu hanya jebakan sehingga Erio terperangkap. “Sudah menyerah?
Atau kau masih bisa menari lagi?” Franklin terus memancing emosi Erio. Erio
suah tidak mempu menahan luapan emosinya, ia tidak perduli lagi dengan apa yang
akan terjadi jika ia membairkan jiwa buasnya bangkit. Erio menjadi buas dan
mulai mengamuk hingga Franklin mulai kesulitan dengan perlawanan Erio yang
semakin brutal. Lalu Erio berhasil memojokan Franklin dan menggigit lehernya.
Franklin pun tewas karena kehilangan banyak darah.
Semua
Ksatria yang melihatnya mulai ketakutan karena pemimpin mereka telah mati. Erio
mulai berbalik, Ksatria lain pun juga mulai ketakutan. “Hentikan, Erio!” teriak
Elika. Erio hanya menggeram sambil berjalan mendatangi Elika. “Aku tau dirimu
yang sesungguhnya tidak akan melukai seseorang tanpa alasan meskipun itu kau
lakukan, sebenarnya kau juga tidak mau melakukannya.” kata Elika. “Apa yang
dilakukannya?” tanya Starla. “Sebenarnya itu tindakan bodoh mendekati Lycan
yang mengamuk, semoga saja ia bisa melakukan apa yang ia mau.” jawab Robert.
“Erio . . . Kembalilah menjadi Erio yang aku kenal dulu.” sambil perlahan mencoba
menyentuh Erio. Perlahan-lahan Erio kembali menjadi manusia lagi, “Meskipun aku
telah selesai dengan urusanku di sini, aku tetap tidak akan kembali.” kata Erio.
“Tapi . . . Kenapa?” tanya Elika. “Aku sudah muak dengan panggilan yang kalian
berikan, ditambah lagi kalian semua tidak pernah mau menrima kami sejak dulu!”
jawab Erio. Lalu Elika terdiam, “Bukankah kami sudah mengganti panggilan
tersebut yang di ambil dari namamu seniri?” tanya Elika. “Lalu apa sebutan
kalian pada kami?” tanya Erio dengan tatapan dingin. “Werewolf.” jawab Robert.
Erio terkejut mendengar hal tersebut, “Bagaimana, kawan? Maukah kau memulai
seperti dulu lagi?” tanya Robert dan mengajak Erio berjabatan. Dengan tersenyum
Erio menjawab, “Tidak.” .
“Tapi
kenapa?” tanya Elika dengan sedih. “Aku senang kalian telah mengganti sebutan
untuk kami, tetapi kami tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Warga desa yang
selamat akan mulai takut dengan kami meski berwujud manusia, kami akan kembali
ke Gua de Wolfree memulai awal yang baru lagi.” jawab Erio. “Kemarilah
sebentar, Robert.” kata Erio. Robert menghadap kepada Erio layaknya penobatan
Ksatria. “Dengan meninggalnya Franklin Jaeger, aku nyatakan kepemimpinan
Vampire Jaeger kini di tanganmu, Robert Vermintz.” kata Erio. “Tidak ada anak
buah yang buruk, melainkan pemimpinnyalah yang buruk. Aku harap kau bisa
memimpin Ksatria ini lebih baik dari pada pemimpin sebelumnya.” pesan dan
harapan Erio kepada Robert. “Tentu, kawan. Tentu!” jawab Robert. Para Ksatria
lain pun memberikan hormat kepada Robert dengan menancapkan pedang mereka ke
tanah dan membungkuk kepadanya.
“Kami
harus kembali sebelum fajar nanti.” kata Erio. “Erio! Tinggalah berama kami!”
kata Elika. “Aku sudah mengataknya kepadamu, Elika. Aku kira sudah cukup
memberitaumu.” jawab Erio. Elika begitu sedih karena merasa kehilangan orang
yang ia cintai untuk kedua kalinya. Lalu Erio memeluk Elika dan berkata, “Aku
tau bagaimana persaanmu kehilangan orang yang kau cintai. Karena aku juga
pernah merasakannya.” . Elika tidak tau harus bagaimana, ia begitu terbawa
suasana. “Ya ampun, benar-benar mengharukan. Bagaimana denganmu Robert? Kau
tidak mau memelukku?” tanya Starla. Dengan memberikan ekspresi yang tidak
meyakinkan Robert menjawab, “Jangan berharap.” . Tetapi Robert tetap memeluk
Starla juga. Setelah itu Erio dan Werewolf
lainnya kembali ke Gua de Wolfree dan kali ini Elika tidak bersedih
karena Erio pergi lagi.
Pada
malam harinya,
di Conqueron Kurnia sedikit kewalahan karena dokumen yang menyangkut ‘de
Wolfree’ cukup banyak. “Aahh . . . Ini benar-benar melelahkan mata!” keluh
Kurnia. “Lagi pula kau sendiri juga yang mau.” kata Aprilia (pasangan/kekasih
Kurnia). “Waktu itu aku kira tidak akan
sebanyak ini kronologisnya. Jika Harunio yang menangani ini pasti tidak akan
mampu, dan juga pasti dia akan melibatkanku juga.” kata Kurnia. “Apa karena itu
Yudai memintamu melakukan tugas ini?” tanya Aprilia. “Mungkin juga, Harunio
selalu mempercayaiku sebagai pengamat jika kami bertugas bersama-sama.” jawab
Kurnia. “Tidak bisakah yang lain juga ikut membantu?” kata Aprilia memberi saran. “Aku belum
menanyakannya, di tambah lagi aku tidak tau harus mulai dari siapa.” jawab
Kurnia. “Coba sajalah, kita semua satu tim.” kata Aprilia.
Lalu
Kurnia berfikir sejenak, “Tidak apa-apa kan jika aku meminta Blitz untuk
membantu?” tanya Kurnia. “Silahkan saja, jika ia mampu membantumu.” jawab
Aprilia. “Maaf, Blitz apa kau bisa membantuku?” tanya Kurnia kepada Blitz
menggunakan de Ordernya. “Bantuan apa? Tidak seperti biasanya.” jawab Blitz
(tambahan : Blitz adalah nama dari seorang perempuan di sana). “Yudai memintaku
mempelajari lebih lanjut tentang sejarah de Wolfree, dan dokumennya banyak
sekali. Aku akan mengirimkan beberapa dokumen
kepadamu.” kata Kurnia. “Kenapa aku?” tanya Blitz. “Karena Harunio selalu mengandalkanmu
untuk memimpin jika ia terpaksa, maka aku juga akan melakukan hal yang sama.”
jawab Kurnia. “Baiklah, ini sudah kau bagikan yang mana bagianku dan yang mana
bagianmu?” tanya Blitz. “Ya, mohon bantuannya.” jawab Kurnia. Lalu Kurnia
mengirimkan dokumennya kepada Blitz memaluli de Order pula. “Jika aku sudah
selesai aku akan memberitaumu.” kata Blitz. “Ya, terimakasih.” jawab Kurnia.
“Falco, Kurnia diberi tugas oleh Yudai, ia memintaku untuk membantunya. Jadi,
kami akan bersama dulu untuk bebrapa saat.” kata Blitz kepada Falco
(pasangan/kekash Blitz). “Berapa lama?” kata Falco, sepertinya ia sedikit
khawatir Blitz akan tertarik kepada Kurnia. “Akan aku usahakan agar selesai
secepat mungkin.” jawab Blitz sambil memegang tangan Falco. Falco hanya
tersnyum, dan spertinya Falco mengizinkan Blitz.
Pagi
harinya setelah Erio dan Werewolf lain
kembali, mereka bekerja sama menguburkan jasad Werewolf dan Ksatria yang telah gugur setelah perang
berlangsung. “Kami turut berduka atas kematian pamanmu, Erio” kata salah satu anggota keluarga. “Ya, hal
itu telah berlalu tidak perlu di ungkit kembali. Kita harus melangkah maju
menghadapi hari esok yang akan datang.” kata Erio. Kata-kata Erio benar-benar
menyemangati stiap anggota keluarga, mereka tidak menyesal menjadikan Erio
sebagai pemimpin menggantika pamannya.
Malam
harinya Erio keluar untuk memandangi bulan seperti dulu lagi. Sekedar mengingat
kenangan lama yang ia rasakan kembali, bertemu dengan teman-teman lama yang
masih terus mengingat dirinya. Tiba-tiba ada orang asing yang datang, “Kau Erio
de Wolfree?” tanya orang asing tersebut. Karena tidak tau siapa orang tersebut
lebih baik Erio waspada. “Memangnya ada apa?” tanya Erio. “Tidak apa-apa. Aku
hanya ingin meminta sedikit bantuanmu.” kata orang asing tersebut. “Memangnya
apa untungnya bagiku, orang asing.” kata Erio. “Anggap saja ini adalah ujian
kemimpinanmu, kau juga mengetahui Yudai bukan? Ini seperti sistim miliknya
memberi tugas, menerima laporan, dan selesai.” kata orang asing tersebut. Erio
sedikit terkejut ia juga mengetahui tentang Yudai, bahkan sistim yang ada di
Conqueron. “Beberapa hari yang lalu kami melakukan sebuah eksperimen, lalu
subjek kami berhasil lolos. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menangkapnya.”
kata orang asing itu memberi penjelasan. “Melacak sesuatu itu perlu benda yang
pernah ia pakai atau digunakan.” kata Erio. “Kami tau, aku membawakanmu
sesuatu.” .
Lalu
orang asing itu memberi sesuatu kepada Erio. Suatu benda yang berwarna merah
dan bercorak hitam tidak beraturan, Erio belum pernah melihat benda itu
sebelumnya. “Apa ini?” tanya Erio. “Aku yakin ini sudah lebih dari cukup untuk
membantumu menemukan subjek kami itu.” kata orang asing tersebut. Erio sedikit
bingung mengamati benda aneh tersebut, “Lalu apa yang harus aku lakukan setelah
menemukan subjekmu itu?” tanya Erio. “Kau bisa membawanya kemari lagi jika
sudah kau temukan.” jawab orang asing itu. Saat Erio hendak menjawabnya,
tiba-tiba orang asing tersebut telah
menghilang secara misterius seperti caranya datang. Erio menganggap ini sebagai
ujian kepemimpinan seperti katanya, lalu ia kembali ke gua.
“Kau
sudah kembali, Erio.” sambut salah satu anggota keluarga. “Kumpulkan beberapa
pelacak terbaik kita yang masih ada, aku memiliki tugas untuk mereka.” kata
Erio memberi perintah seperti Yudai. “Ada apa ini? Kau tidak seperti biasanya.”
tanya anggota keluarga tersebut. “Apa kau tidak mendengarku?!” tanya Erio dengan
menggertak. Lalu anggota keluarga tersebut segera mengumpulkan beberapa
Werewolf lain yang mahir melacak. “Aku
ingin kalian mencari orang yang memiliki bau seperti ini.” sambil menunjukan
benda aneh tadi. Tidak ada yang tau persis benda apa itu, lalu Erio membagi
benda tersebut menggunakan pedang nya supaya tidak terjadi kesalahan. “Kalian
cukup mengetahui dari mana bau itu berasal, setelah itu segera kembali.” kata
Erio. “Baiklah!” jawab mereka. “Silahkan berangat.” kata Erio. Lalu para
Werewolf segera berangkat mencari asal bau dari benda tersebut.
Kurnia
dan Blitz telah menganalisis dari dokumen yang diberikan Yudai. “Jika begitu,
lebih baik kita segera melaporkannya pada Yudai.” kata Kurnia. Setelah itu
mereka berdua menemui Yudai untuk melaporkan tugas mereka. “de Wolfree di
bentuk oleh seorang manusia serigala atau Lycan, dalam keluarga tersebut hanya
laki-laki keturunan murni keluarga tersebut yang dapat berubah menjadi manusia
serigala. Jika ada orang yang terkena gigitannya, orang itu akan menjadi Lycan
juga. Dan berasarkan data tebaru, nama Lycan di ganti dari nama seseorang
bernama William Erio de Wolfree menjadi Werewolf.” kata Kurnia memberi laporan.
“Baiklah, terima kasih atas laporanmu Kurnia.” kata Yudai. “Aku tidak
mengerjakannya sendiri, Blitz juga ikut membantu.” kata Kurnia. “Begitu
rupanya, terima kasih juga, Blitz.” kata Yudai. “Sama-sama.” jawab Blitz.
“Baiklah, sekarang kalian boleh kembali.” kata Yudai. Lalu Kurnia dan Blitz
kembali pulang.
“Terima
kasih atas bantuanmu, Blitz.” kata Kurnia. “Sama-sama, Kurnia.” jawab Blitz.
“Kau tidak langsung pulang?” tanya Blitz. “Izinkan aku untuk menemanimu sampai
ke rumahmu sebagai tanda terima kasihku.” kata Kurnia, tetapi Aprilia melihat
Kurnia bersama Blitz dari jendela rumah mereka. “Sepertinya aku hanya bisa
mengantarmu sampai di sini.” kata Kurnia. “Kau tidak masuk dulu?” tanya Blitz.
“Tidak, terima kasih untuk tawarannya.” jawab Kurnia. “Tidak apa-apa, Kurnia.
Lagi pula kita rekan satu tim bukan?” kata Falco. “Maaf, tidak bisa. Aku tidak
mau meninggalkan Aprilia lebih lama lagi.” jawab Kurnia, “Baiklah, terima kasih
karena telah mengantarkan Blitz sampai di sini.” kata Falco. “Sama-sama.” jawab
Kurnia, lalu Kurnia segera pulang. Sesampainya di rumah, ternyata Aprilia sudah
tidur. Kurnia fikir ia akan marah karena Kurnia tidak langsung pulang.
Bersambung...
Comments
Post a Comment
Terima Kasih telah berkunjung ke Blog saya, silahkan tinggalkan komentar anda dengan sopan.