de Wolfree II : Rise Of The Night’s Wing Part 2

Ke esokan harinya, para Werewolf melaporkan hasil pencarian mereka. Hanya satu yang berhasil menemukan bau yang sama dari petunjuk yang di berikan Erio. “Malam ini kita akan menangkap pemilik benda aneh ini. Aku tidak ingin terjadi kesalahan.” kata Erio. Werewolf tersebut hanya melaporkan bahwa ia menemukan lokasinya dan belum mengatakan di mana itu tepatnya, karena Erio langsung memotong pembicaraan dan tepatnya itu dari Conqueron. Pada sore harinya mereka mempersiapkan diri untuk berangkat menangkap subjek dari orang asing yang menemui Erio. Setelah semuanya selesai bersiap-siap, mereka langsung berangkat sambil menunggu bulan muncul. Tetapi ada seseorang yang mengetahui jika Erio dan para Werewolf pergi, dan ia melakukan sesuatu.

Sementara Itu di Conqueron, prediksi Kurnia salah karena Aprilia marah kepadanya. “Apa kau ingin menggantikanku?!” tanya Aprilia dengan marah bercampur sedih. “Tidak, tunggu dulu. Biar aku jelaskan ...” belum selesai Kurnia menjelaskan pada Aprilia. “Lalu kenapa kau harus melakukannya? Tidakkah kau memikiran bagaimana perasaanku?” kata Aprilia dengan lebih sedih lagi. Kurnia terdiam sejenak, “Sebelumnya aku minta maaf, dia juga perempuan sama sepertimu. Aku tidak bisa begitu saja membiarkannya pulang sendirian di waktu malam. Aku melakukannya juga sebagai ucapan terimakasihku kepadanya karena telah membantuku.” kata Kurnia menjelaskan kepada Aprilia. Aprilia juga hanya terdiam mendengar jawabannya, Kurnia sendiri pun tidak tau lagi harus bagaimana. Ia belum pernah menghadapi masalah seperti ini, Kurnia mencoba menenangkan Aprilia tetapi ia ragu jika itu tidak akan menyelesaikan masalahnya.

Bahkan di malam harinya pun sepertinya mereka belum baikan. Kurnia semakin menyalahkan dirinya atas kejadian ini, tiba-tiba terdengar teriakan untuk evakuasi. “Segera mencari tempat perlindungan!” , Kurnia segera keluar melihat keadaan. Lalu ia menghubungi rekanya, “Siapa pun jawab, ada apa ini sebenarnya?” tanya Kurnia melalui de Ordernya. “Aku juga tidak tau” jawab Falco, “Ada yang menyusup ke sini.” jawab Moku (rekan tim Kurnia juga). “Apa? Bagaiana bisa?” tanya Kurnia, “Aku belum pernah melihat musuh seperti ini sebelumnya.”  kata Moku. “Seperti apa mereka.” tanya Kurnia, “Mereka ... Mereka ... Setengah serigala.” jawab  Moku. “Se-setengah serigala?!” kata Falco dengan terkejutnya. Kurnia sangat terkejut bahwa Werewolf ternyata benar-benar ada, ia fikir hanya sebuah mitologi belaka dan orang yang di temui Yudai hanya kebetulan memiliki nama yang sama. “Kurnia? Kau jawab aku?” tanya Moku. “Y-ya, apa sudah ada korban dalam kejadian ini?” tanya Kurnia, “Belum, mereka tidak terlihat ingin menyerang. Sepertinya mereka mencari sesuatu.” jawab Moku. “Kalau begitu, harus mengamankan yang lain dan bergabung dengan satuan keamanan.” kata Falco. Mereka berdua menjawab, “Baiklah!” .


 “Aprilia, ini darurat! Segera pergi dengan yang lainnya!” kata Kurnia. “Hah?” sepertinya Aprilia terlalu memkirkan pertengkaran mereka berdua tadi. “Cepatlah!” sambil menarik tangan Aprilia. Aprilia merasa aneh, ternyata Kurnia begitu peduli dengannya, ia jadi merasa bersalah. Lalu Aprilia berhenti, “Ada apa dengamu?” tanya Kurnia. “Aku ... Aku minta maaf untuk  kejadian sebelumnya.” kata Aprilia dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Kurnia sedikit bingung dengannya, “Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Aku juga salah karena pergi tanpa memberimu kabar terlebih dahulu.” jawab Kurnia. Aprilia merasa senang mendengarnya, ia hendak memeluk Kurnia tetapi tidak jadi, “Baiklah, bukan waktunya untuk main drama. Cepat segera cari tempat yang aman, aku akan mencoba menahan mereka bersama yang lainnya!” kata Kurnia. Aprilia menjadi sedikit berat meninggalkan Kurnia, “Aprila! Ayo cepat!” kata Phinyx (pasangan/kekasih Moku). Lau mereka berdua segera berlari, sedangkan Kurnia segera menyusul Moku dan yang lain.


“Cukup sampai di itu!” kata Yudai yang baru datang. Para Werewolf mulai menggeram, tetapi Erio kembali ke wujud manusianya. “Yudai . . .” kata Erio, “Cukup, Erio! Inikah yang kau maksud memimpin?” tanya Yudai. “Tidak ... Ini adalah ujianku sebagai seorang pemimpin!” jawab Erio, “Dengan memberi teror dan ketakutan pada orang lain? Ditambah lagi mereka adalah wargaku, sudah kewajibanku untuk melindungi mereka dari segala macam ancaman bagi mereka.” jawab Yudai dengan mengancam. “Maaf, aku kemari bukan untuk berurusan denganmu. Ada hal lain yang membawaku ke sini. Lagi ...” kata Erio. Yudai terkejut, “Memangnya apa yang kau inginkan? Jika kau mengincar Perfect Core, itu sudah terlambat.” kata Yudai. “Perfect Core? Heh, apa itu? Bukan itu tujuanku.” jawab Erio. “Lalu apa yang membuatmu datang kemari lagi?” tanya Yudai. “Aku kemari karena ...” sambil menunjukan benda yang di beri orang asing kepadanya.

Tidak ada yang tau benda apa itu, “Kalian juga tidak tau bukan?” kata Erio. Yudai merasa ada hal buruk yang akan terjadi, “Kita bisa menyelesaikan ini dengan damai Erio.” kata Yudai. “Aku berharap  begitu, namun aku rasa tidak. Geledahi tempat ini!” kata Erio memberi perintah. “Sepertinya kau ingin dengan cara kasar. Apapun yang dia incar, ada di dini. Jika memang itu milik Conqueron maka lindungilah! Jika bukan, maka harus di kembalikan kepada pemiliknya!” kata Yudai juga memberi perintah. Sepertinya Erio sedikit merasa kesal, “Ini bukan milikmu atau desa ini! Jadi, jangan halangi kami!” kata Erio mengancam. “Semuanya! Jangan sampai kalian terkena gigitan mereka, jika sampai terjadi akan berakibat fatal. Selalu pakai War Steel kalian!” kata Kurnia. Erio melihat ke arah Kurnia sejenak, ia fikir Kurnia lebih mengetahui tentang Erio dan para Werewolf.

Sempat terjadi perlawanan antar kedua belah pihak, tetapi Yudai dan Emylier tidak terkena gigitan Werewolf hanya luka cakaran saja. “Keluarlah kau! Kau tidak bisa bersembunyi lagi.” kata Erio. Tidak ada yang tau dengan siapa Erio berbicara, lalu seseorang menunjukan dirinya. “Jadi, orang kantoran itu menyuruhmu untuk memburuku?” kata orang asing tersebut. “Diam saja sudah cukup. Bawa dia!” kata Erio. Para Werewolf  mencoba menangkapnya, tetapi ia melawan dengan cara yang aneh. Sesuatu yang tidak pernah dilihat manusia sebelumnya, tedapat benda aneh berwarna merah bercorak hitam yang keluar dari sela-sela tangannya.Yudai sendiri tidak tau sebenarnya makhluk apa dia itu, “Semuanya! Dia hanyalah penyusup di desa ini, lakukan apa pun untuk menangkapnya!” kata Yudai. Erio sedikit terkejut Yudai memberi perintah tersebut. “Bagaimana? Sudah menyerah?” tanya Yudai kepada Erio dengan sedikit menantang. “Masih belum. Tangkap dia!” teriak Erio. Lalu Emylier dan Werewolf  bekerja sama menangkapnya.

Dengan sedikit perlawanan akhirnya orang asing tersebut tertangkap, “Lalu, kita apakan dia?” tanya Yudai. “Lepaskan ak ...” belum selesai orang itu berbicara sudah Erio pukul tengkuknya menggunakan pegangan pedangnya, sehingga ia pingsan. “Seseorang memintaku menangkapnya, dan ia ingin aku menyerahkan orang ini kepadanya.” kata Erio. “Baiklah, semoga berhasil!” kata Yudai. “Ya, terima kasih, Yudai.” kata Erio. “Haha, berhati-hatilah di jalan.” kata Yudai. “Siap, Pak!” jawab Erio. Lalu Erio segera pergi menyerahkan orang asing tersebut pada orang yang meminta Erio menangkapnya.

“Ini benar-benar tidak bagus.” kata Moku. “Aku tau.” jawab Falco. “Di mana Blues?” (Blues juga rekan satu tim dengan Kurnia) kata Kurnia. “Ia membantu mengobati yang terluka.” kata Moku, “Lalu bagaimana dengan Blitz dan yang lainnya?” tanya Falco. “Tenang, mereka di tempat yang aman.” jawab Kurnia. “Syukurlah ...” kata Falco. Lalu Yudai datang, “Sepertinya serangan tadi sangat berdampak pada rumah-rumah kalian.” kata Yudai. “Anda bercanada?” kata Moku. Benar saja mereka agak kesal, banyak bangunan rusak karena cakaran Werewolf dan perlawanan orang asing yang di tangkap. “Biasakah menggunakan Linkin Liquid?” tanya Falco. “Bisa saja ...” kata Yudai dan mereka tersenyum bahagia, “... tapi dalam jumlah besar, dan hanya Harunio yang tau komposisinya.” kata Yudai dan senyum mereka memudar. “Apa dia masih lama?” tanya Falco. “Entahlah, tempatnya cukup jauh juga.” jawab Yudai. “Ini tidak akan terjadi jika aku ikut dengannya dulu!!” kata Kurnia menyalahkan dirinya lagi. “Sudahlah, Kurnia.” kata Aprilia yang baru datang bersama yang lain.

Kurnia terkejut Aprilia yang datang, “Kau baik-baik saja?” tanya Kurnia. “Ya.” jawab Aprilia. “Bagaimana dengan jumlah Emylier yang terluka?” tanya Yudai, “Sebagian besar didominasi luka karena cakran serigala itu.” kata Blues. “Werewolf.” Kurnia menambahi, “Ya ya itu, Werewolf.” kata Blues. “Dan juga semuanya aman di tempat evakuasi.” kata Phinyx. “Baguslah.” kata Yudai, “Bayangkan ekspresi Harunio setelah melihat tempat ini nantinya.” kata Kurnia dengan sedikit bercanda. “Hahaha, paling tidak kita harus perbaiki semampu kita. Kita tidak bisa menggantungkan harapan hanya pada satu orang saja, kadang kita harus melakukannya sendiri.” kata Yudai.

Erio dan Werewolf  lain segera ke bukit di mana itu pertama kalinya Erio dan orang asing yang meminta bantuannya. “Di mana dia?” tanya salah satu Werewolf, “Aku tidak tau, katanya jika aku sudah menangkapnya untuk datang kemari.” kata Erio. Tiba-tiba orang asing itu datang, “Oh, jadi kau sudah menangkapnya. Aku rasa kepemimpinanmu memang tidak dipertanyakan.” kata orang asing tersebut. “Terserah, lalu di mana aku harus meletakan orang aneh ini? Kau sendiri tidak membawa sesuatu.” kata Erio. “Taruh saja dimana pun kau suka, itu bukan masalah bagiku.” kata orang asing tersebut. Lalu Erio meletakan hasil tangkapannya itu, “Karena urusanku sudah selesai, aku pergi dulu. Sampai jumpa.” kata Erio. “Ya, terimakasih telah membantu. Jika kau butuh tempat bernaung datanglah kembali ke mari.” teriak orang asing tersebut karena Erio dan yang lain telah pergi.

Kurnia dan yang lainnya mencoba memperbaiki bangunan yang mengalami kerusakan karena perang tadi malam. “Pekerjaan ini benar-benar melelahkan.” kata Blues, “Masih mending kau hanya di tempat evakuasi mengurus yang terluka tanpa bertarung.” kata Moku. “Karena itu tugas Unit Medis.” jawab Blues, “Itu kau jadikan alasan.” kata Moku dengan sedikit kesal. “Sudahlah kalian berdua.” kata Kurnia melerai keduanya. “Setidaknya ini hanya sampai Harunio pulang bukan?” tanya Falco. “Mungkin saja, tetapi kita tidak tau kapan dia akan pulang.” kata Kurnia. “Aku kira kalian bisa lebih bersemangat lagi.” kata Finyx (pasangan/kekasih Blues). “Ini lebih berat dari yang aku kira.” jawab Falco, “Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Phinyx. “Sepertinya mereka berdua baru bretengkar. Seperti anak kecil saja.” kata Falco. “Siapa yang kau panggil anak kecil, dasar menyebalkan!!” kata Moku dengan tersinggung. “Sudah, sudah. Tidak perlu bertengkar karena masalah sepele seperti itu.” kata Blitz. Lalu mereka berdua diam sejenak.

Mereka tetap memperbaiki bangunan yang rusak meski rumah mereka telah selesai. Lalu seseorang datang dengar burung besar, “A-apa yang terjadi ...” kata Harunio dengan sangat terkejut. “Harunio! Jadi kau sudah kembali.” kata Yudai menyambut Harunio yang baru kembali dari tugasnya. “Bagaimana ini semua bisa terjadi ...” kata Harunio dengan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. “Ceritanya panjang, Harunio.” kata Kurnia. Harunio sepertinya terpuruk karena insiden ini terjadi saat ia berada di luar desa. “Ini bukan salahmu, Harunio.” kata Miho mencoba menenangkan Harunio. “Tapi ...” sebelum Harunio selesai bicara ada yang menuduh Miho. “Itu dia Day’s Tail yang menjadi akar permasalahan pernyerangan tadi malam!” kata seseorang menuduh Miho. Mendengar hal itu, Harunio tidak terima. “Memangnya kau punya bukti apa jika Miho yang bersalah?!” tanya Harunio. “Sudah jelas jika dia berasal dari klan Gumiho yang bermusuhan dengan klan Black Wing.” jawabnya. “Miho selama ini bersama dengan Harunio karena ada tugas dari Yudai. Jangan sembarangan bicara kau!” kata Kurnia.

Suasana menjadi panas setelah Harunio dan Miho kembali, “Kurnia benar, aku memberi tugass kepada mereka berdua beberapa hari yang lalu. Ini semua bukanlah salahnya.” kata Yudai. “Cukup, Yudai. Aku sendiri sedih melihat desa sekarang porak-porandah. Tetapi ... Tetapi aku tidak akan memaafkan orang yang menuduh orang dengan sembarangan seperti itu, apa lagi yang di tuduh adalah pasanganku sendiri!” kata Harunio dengan marah. Karena emosi Harunio yang tidak tertahankan, kekuatan Harunio pun muncul merefleksikan kemarahannya. “Bagi yang masih berfikir jika ini semua adalah salah Miho, ayo maju dan lawan aku sebelum kalian bisa berbicara seenaknya!” kata Harunio dengan menantang. Orang-orang sekitar menjadi gentar karena Harunio sendiri yang mengatkannya dengan luapan emosi. “Harunio, cukup!!” kata Yudai melarangnya menggunakan kekuatan, “Apa ini yang kalian laukan? Mengabaikan perintah pemimpin kalian? Siapa yang melindungi desa sebisanya demi kalian? Siapa yang memfasilitasi kalian selama ini? Dan siapa yang membiarkan kalian tinggal di sini? Tidakkah kalian sadar jika aku melakukan semua ini demi kalian juga, dan ini yang kalian berikan sebagai ungkapan rasa hormat?!” kata Yudai dengan kecewa.

Semuanya menjadi terdiam setelah mendengar kata-kata Yudai, lalu datang salah satu Guarder. “Yudai, gawat! Para Gumiho tidak terima jika insiden tadi malam akibat ulah mereka. Sekarang klan Gumiho dan Black Wing berasumsi untuk berperang!” kata Guarder tersebut. Yudai terkejut mendengarnya, begitu pula dengan Harunio. “Lihat, dengan mulut kalian yang tidak bisa di jaga, kalian membuat ke dua klan akan berperang!” kata Yudai dengan marah. “Ke dua klan sudah aku damaikan dengan perjuangan yang tidak mudah, dan sekarang kalian menghancurkan perdamaian itu tanpa merasa bersalah!” kata Harunio. “Harunio ... ” kata Miho mencoba menenangkannya. “Aku akan mengurus ke dua klan, dan lebih baik kalian segera memperbaiki segala kesalahan di sini!” kata Yudai dengan tatapan yang marah. Yudai tidak pernah memperlihatkan bagaimana jika marah kepada masyarakat sebelumnya, setelah itu semuanya bubar.

“Harunio, kita harus segera bertindak sebelum peperangan antar kedua belah pihak pecah. Ini juga bisa berdampak buruk bagi kita terutama pada Miho, ia pasti akan di benci semua orang temasuk klannya sendiri.” kata Yudai. “Kita harus meminta pertanggung jawaban dari orang telah melakukan ini semua. Siapa yang telah melakukan ini sebelumnya?” kata Harunio. “Sebenarnya … itu dari Erio yang datang kemari beberapa hari yang lalu...” kata Yudai dengan pelan. “Hahh?! Kenapa kau tidak menceritkannya kepadaku dari tadi!!!” teriak Harunio yang kesal. “Maaf maaf, soalnya masih terjadi keributan bukan? Aku lupa.” jawab Yudai seadanya. “Lupa kau jadikan alasan juga!!” kata Harunio semakin kesal pada Yudai, “Memangnya aku harus bagaimana lagi?! Seisih desa sedang dalam kondisi yang tidak karuan seperti ini, aku juga harus melakukan sesuatu!” kata Yudai membalas keluhan Harunio.

“Mereka berdua benar-benar betah jika di suruh berdebat.” kata Moku, “Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Falco. Lalu Yudai dan Harunio berhenti berdebat, “Kita harus segera mencari Erio dan memintanya untuk menjelaskan kepada ke dua klan agar tidak terjadi peperangan.” kata Yudai. “Tapi di mana dia?” tanya Harunio, “Kita harus melacaknya juga, misalnya dari bulu atau sesuatu dari mereka?” kata Blitz memberi saran. “Ya, kau benar. Segera cari sesuatu yang berhubungan dengan mereka. Meskipun itu sehelai bulu sekalipun.” kata Yudai. “Bulu? Memangnya dia itu apa? Unggas?” tanya Harunio, “Kau fikir hanya unggas yang memiliki bulu?” kata Blues. Lalu mereka melihat pada Miho. “K-kenapa kalian semua melihatku?” tanya Miho dengan sedikit malu, “Ya baiklah, aku paham (Fur : bulu seperti rambut, Feather : bulu pada unggas). Kita harus segera menyelesaikannya sebelum terlambat!” kata Harunio. Setelah itu mereka segera mencari sesuatu yang berhubungan dengan Erio dan Werewolf.

Setelah sekian lama mencari terkumpul lebih dari petunjuk untuk melacak keberadaan Werwolf yang menyerang  Conqueron. “Yudai, kami  sudah menemukan lebi dari cukup untuk menemukan mereka.” kata Harunio. Yudai terkejut karena yang mereka dapat adalah seikat besar bulu Werewolf, “Yang benar saja! Ini bukan lagi bulu Werewolf!” kata Yudai. “Lalu anda sebut apa ini?” tanya Kurnia. “Ini bisa di sebut ... Kemoceng Bulu Werewolf.” kata Yudai. Semuanya tertawa mendengar jawaban dari Yudai, “Kenapa kalian tertawa?” tanya Yudai. “Itu adalah produk terkonyol yang pernah aku dengar. Hahaha.” kata Harunio. “Lalu kau sebut benda ini apa?” tanya Yudai lagi. Harunio sedikit mengamati benda tersebut, “Ah, ini Sapu Lantai Werewolf.” kata Harunio dengan pedenya. Semuanya tertawa lagi, bahkan nama yang diberikan Haruio lebih konyol dari nama yang diberikan Yudai. “Baiklah, sudah cukup tertawanya.” kata Yudai sambil menahan tawa. “Lalu akan kita apakan benda ini?” tanya Falco. “Baiklah, ada yang ... tunggu sebentar.” kata Yudai,  ada yang menghubungi Yudai melalui de Order miliknya. “Maaf semuanya, aku ada urusan sebentar. Kalian lanjutkan sendiri saja dulu.” kata Yudai lalu segera pergi.

“Baiklah, sekarang mulai berfikir!” kata Harunio. (1/2 jam kemudian ...) “Ada yang sudah dapat sesuatu?” tanya Harunio. “Belum.” jawab mereka, “Kurnia, dapat sesuatu?” tanya Harunio kepada Kurnia, “Masih belum.” jawab Kurnia. (1 jam kemudian ...) “Sudah dipersiapkan semua?” tanya Yudai. “Baiklah, sepertinya harus begini. Miho, tolong panggil Yokubi.” kata Harunio. “Memangnya ada apa?” tanya Miho, “Sudahlah, lakukan saja.” jawab Harunio. Lalu Miho memanggil Yokubi, “Ada apa, Miho.” kata Yokubi (Rubah putih, dan bisa berbicara layaknya manusia pada umumnya). “Nah, dengan seperti ini posisi pelacak sudah ada, petunjuknya pun sudah di siapkan juga.” kata Harunio. “Haha, sebenarnya aku memintamu yang melacak baunya.” kata Yudai. “Kau fikir aku anjing pelacak?!” kata Harunio dengan sedikit kesal. “Memangnya aku juga anjing pelacak?” tanya Yokubi sedikit kesal pula. “Setidaknya itu mudah kau lakukan bukan?” kata Harunio, Yokubi secara mau-tidak mau harus membantu mereka melacak para Werewolf yang menyerang desa.

“Baiklah, sekarang aku akan memberitahukan siapa saja yang  ikut dalam misi pelacakan ini. Aku akan memimpin langsung misi ini, Harunio kau jelas ikut, dan juga kita perlu unit medis untuk misi ini, ada sukarelawan?” tanya Yudai. “Aku cukup bisa dalam hal tersebut, meski secara teknis aku bukan unit medis tetapi jika hanya luka Linkin Liquid sudah cukup.” kata Harunio. “Baiklah kalau begitu lebih baik kita berangkat.” kata Yudai, tetapi Harunio menyanggah, “Tidak, tunggu dulu. Aku mau Kurnia ikut dalam misi ini. Meski aku bukan yang memimpin misi ini, aku tetap membutuhkan pengamat kepercayaanku.” kata Harunio. Yudai berfikir sejenak untuk mengikutsertakan Kurnia, “Baiklah, aku setuju denganmu. Untuk dapat berhasil kita harus mengamati keadaan dengan cermat.” kata Yudai. “Lalu bagaimana dengan yang lain?” tanya Kurnia. “Bagi yang lain, aku minta kalian membantu memperbaiki bangunan yang rusak sebisa kalian.” kata Yudai.
“Kami akan segera pulang jika sudah selesai, aku tidak akan membuat klan Gumiho bermusuhan lagi.” kata Harunio lalu memeluk Miho, “Berhati-hatilah, Harunio.” kata Miho. “Aku tau aku cukup sering meninggalkanmu sendirian, tetapi sebenarnya kau tidak sendiri.” kata Kurnia, “Sudahlah, aku cukup terbiasa kau tinggalkan, kecuali kemarin malam.” kata Aprilia. “Maaf ...” kata Kurnia, “Berjuanglah semuanya!” kata Phinyx. “Serahkan yang disini pada kami!” kata Falco, “Itu yang aku khawatirkan!” kata Yudai. “Memangnya kemarin malam ada apa?” tanya Harunio kepada Kurnia dengan berbisik-bisik. Setelah berpamitan mereka segera berangkat melacak para Werewolf yang menyerang desa. “Kalian sudah siap?” tanya Yudai, “Kami sudah siap setelah kau perintahkan!” jawab Harunio dengan semangat. “Kau baru pulang tadi pagi, jangan memaksakan diri, kawan.” kata Kurnia. “Ini bukan masalah!” jawab Harunio. “Ayo berangkat, Yokubi.” kata Yudai, “Baik.” jawab Yokubi. Lalu mereka segera berangkat pada sore hari tersebut secepat yang mereka bisa.

Setelah Erio menyerahkan orang asing hasil buruannya itu, ia tidak tau harus bagaimana lagi. Ia keluar melihat bulan seakan ia akan mendapat jawaban, “Masih menyendiri?” kata orang asing yang ia temui di bukit. “Sekarang apa maumu?” jawab Erio, “Tidak ada apa-apa, aku hanya mampir sebentar.” kata orang asing tersebut. “Kau bukan salah satu orang yang aku temui di sekitar sini, sebenarnya siapa dirimu?” tanya Erio. “Aku bukan siapa-siapa, tidak perlu takut atau waspada.” jawab orang asing tersebut. “Haruskah aku pergi dari sini sekarang?!” tanya Erio karena merasa terganggu olehnya, “Terserah kau saja.” jawab orang asing tersebut. Lalu Erio segera kembali ke gua dan orang asing itu berkata, “Jika kau perlu tempat, datanglah kepadaku aku bisa membantumu.” . Setelah Erio kembali ke gua, ia melihat Werewolf lain merasa ada yang janggal dengan gua mereka. “Ada apa ini?” tanya Erio, “Ada sesuatu yang aneh di sini, aku rasa ada hal buruk yang akan terjadi di sini.” kata salah satu Werewolf. Lalu Erio memcoba memberitahukan jika tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Setelah bebrapa jam perjalanan, Yudai dan yang lain sampai di Gua de Wolfree. “Jadi ini tempat mereka?” tanya Kurnia, “Yokubi, apa benar tempatnya di sini?” tanya Yudai. “Bau mereka berasal dari sini, pasti ini tempatnya.” jawab Yokubi, “Haruskah kita langsung ke dalam?” tanya Harunio. “Hhmm ... Bagaimana menurutmu Kurnia?” tanya Yudai, “Kita harus memastikan ini tempatnya, kita harus memancing salah satu dari mereka keluar untuk kepastiannya.” kata Kurnia. “Jadi kita perlu umpan hidup, ada saran?” kata Yudai, “Aku tidak mau, aku mengantar kalian ke sini hanya untuk menunjukan jalan, menjadi umpan untuk kalian tidak termasuk!” kata Yokubi. “Aku hanya bertanya saran, bukannya mengajukanmu.” kata Yudai. “Kawan, bisakah kau gunakan Shadow Clonemu untuk memancing mereka?” tanya Kurnia, “Meski Cloneku sampai di sana hanya akan ...” Harunio diam sejenak dan berfikir, “... kau benar! Jika mereka melihat seseorang sampai di sana pasti mereka akan menyerangnya. Kerja bagus Kurnia!” kata Haunio sambil memberi jempol. “Ssstt ... Jangan keras-keras ..!” kata Yudai. “Ya ya, sama-sama.” kata Kurnia berbisik kepada Harunio.

Harunio membuat Shadow Clonenya, lalu ia arahkan menuju gua. “Tidak ada rekasi apa pun, haruskah aku bawa masuk?” tanya Harunio. “Baiklah, tetapi nyalakan kamera de Ordernya akan aku pantau dari sini.” kata Yudai. Clone Harunio mulai memasuki Gua de Wolfree, “Nyalakan mode malam, terlalu gelap.” kata Yudai. Tiba-tiba transmisi dari Clone Harunio terhenti, “Ada apa ini?!” kata Yudai. “Ssstt ...” kata Harunio dan Kurnia, “Maaf.” Kata Yudai dengan berbisik. “Tunggu sebentar, ada yang datang.” kata Yokubi, “Bersiap-siap semua.” kata Yudai. “Aku juga?!” kata Madatabi, lalu ada yang keluar dari gua. “Ternyata hanya orang biasa.” kata Harunio, “Tidak tunggu sebentar, hilangkan awan yang ada di atas.” kata Yudai. “Aku lagi ...” kata Harunio dengan sedikit mengeluh, awan yang ada di atas mereka di arahkan angin oleh Harunio sehingga bulan terlihat. Mereka terkejut melihat jika orang yang keluar dari gua ternyata Werewolf, “Kita sudah sampai, pertama-tama kita akan melakukannya dengan cara mudah jika tidak berhasil tidak ada cara lain selain pemaksaan.” kata Yudai. “Bolehkah aku kembali sekarang?” kata Yokubi. “Oh ya, tentu saja. Terima kasih atas bantuanmu, Yokubi.” kata Yudai. “Ya, selamat berjuang.” kata Yokubi lalu menghilang, “Untuk inilah kita kesini.” kata Yudai lalu mereka segera ke gua tersebut.

“Erio! Keluarlah!” teriak Harunio memanggilnya, “Dasar bodoh!” kata Yudai sambil memukul kepala Harunio. “Kenapa? Lebih mudah jika mereka keluar sekarang, aku mulai bosan menunggu.” kata Harunio, “Menunggu adalah salah satu kegiatan yang membosankan, kawan.” jawab Kurnia. “Nah, dengar – kau juga Kurnia?!” kata Yudai terkejut mendengar kata-kata Kurnia, “Mau bagaimana lagi, memang begitu kenyataannya.” jawab Kurnia. “Hahaha.” Harunio tertawa lalu mengajak tos Kurnia. “Bagaimana kehidupan kalian jika berada dalam misi?” kata Yudai sambil memegang kepalanya. “Siapa itu?!” kata seseorang dari dalam gua, “Aku Harunio Ell Rosyido.” kata Harunio. “Dasar bodoh! kau melakukannya lagi!” kata Yudai memukul kepala Harunio lagi, “Kau juga sama!” keluh Harunio. “Keluarlah dan kita selesaikan ini dengan damai.” kata Kurnia, lalu orang tersebut keluar, “Memangnya ada urusan apa kau denganku?” tanya Erio. “Erio ..!” kata Harunio dengan marah, “Tenang! Erio, kami kesini untuk memintamu mejelaskan kepada klan Gumiho dan Black Wing jika kedatangan kalian waktu itu hanya kesalah pahaman menyangkut para Gumiho.” kata Yudai. “Gumiho? Memangnya kenapa? Dan juga sepertinya orang tersebut sangat bersemangat datang kemari.” kata Erio sambil menunjuk kepada Harunio. “Kau ... Kau membuat kekasihku di nilai buruk oleh semua orang di desa! Aku tidak akan memaafkanmu!” kata Harunio dengan marah. “Oh, kau cukup berani juga. Hei kau yang di sana, ajari temanmu ini sopan santun saat berkunjung ke tempat orang.” kata Erio sambil menunjuk kepada Kurnia. “Ini semakin rumit.” kata Kurnia sedikit mengeluh. “Jika kalian ingin bertarung, lakukan di lain waktu. Sekarang kita harus menghentikan perang dari ke dua klan.” kata Yudai.

“Baiklah kalau begitu.” kata Erio. “Jadi kau mau menjelaskan kesalah pahaman ini?” tanya Kurnia, “Siapa bilang aku menyetujui kalian?” kata Erio. “Ini menyebalkan!” kata Harunio dengan lebih marah, “Harunio tenanglah! Apa yang harus kami lakukan untuk dapat membuatmu menjelaskan kesalah pahaman ini?” tanya Yudai. “Jika kau dapat mengalahkanku dalam duel aku akan menjelaskan kesalah pahaman ini.” kata Erio. “Dan jika kalah?” tanya Yudai. “Hhmm ... apa ya, sudahlah itu masalah mudah. Sekarang ayo bertarung.” kata Erio menantang, Yudai segera menghampiri Erio tetapi di halangi oleh Harunio. “Biar aku saja yang melawannya, aku tidak tahan melihat desaku di hancurkan seperti itu, ditambah lagi klanku dipermainkan dan juga kekasihku yang menjadi imbasnya. Aku akan melampiaskan kemarahanku kepadannya!” kata Harnio. “Baiklah, tetapi aku melarangmu membuka segelnya.” kata Yudai, “Baiklah, bukan masalah.” kata Harunio. Lalu mereka saling berhadapan untuk memulai duel.

“Jadi ini petarungan tanpa peraturan?” tanya Harunio sambil memegang Feather Knifenya, “Jika kau memang seorang ksatria, bertarunglah dengan hormat.” kata Erio sambil mengarahkan pedangnya kepada Harunio. Lalu Harunio mengeluarkan ke-sembilan ekornya dimana tiap-tiap ekor keluar mata pedang miliknya, ditambah lagi dengan Feather Knife di ke dua tangannya di ubah menjadi Feather Sword. “Apa yang aku bilang?! Dengan ‘hormat’ bukan curang!” kata Erio. “Baiklah.” kata Harunio bersamaan dengan saat ia menarik kembali semua ekornya dan hanya menggunakan satu Feather Sword.

“Sepertinya kita sendiri juga dalam posisi yang tidak nyaman untuk menonton.” kata Yudai, “Lalu bagaimana cara kita mengamati pertarungan mereka dengan posisi seperti ini?” tanya Kurnia. Mereka berdua diikat dengan posisi terbalik agar kesulitan melawan, “Apapun itu lakukan saja. Harunio! Jika kau kalah, jangan harap kau akan mudah lepas dari ini semua!” teriak Yudai dengan menyemangati sekaligus mengancam Harunio. “Kalian cukup menonton saja, tidak usah berisik.” jawab Harunio, “Anda yakin dia akan menang?” tanya Kurnia. “Semoga saja begitu.” jawab Yudai, “Jadi anda tidak yakin dia akan menang?!” tanya Kurnia dengan sedikit terkejut, “Lebih baik sekarang kita percayakan kepadanya pertarungan ini, jika gagal kita cari cara sendiri untuk mencegah ke dua klan memulai perang.” jawab Yudai.

Setelah itu Erio dan Harunio mulai bertarung, hingga area yang di tentukan tidak cukup untuk untuk mereka berdua. Erio sedikit kewalahan hingga serangan Harunio mengenainya. “Masih mengikuti aturan?” tanya Harunio, “Bagaimana jika kita mulai mengabaikannya, hanya kau dan aku tidak lebih.” jawab Erio. “Baiklah kalau begitu.” kata Harunio, lalu mereka mulai mengeluarkan kemampuan mereka masing-masing. Erio lalu berubah menjadi Werewolf sedangkan Harunio mengeluarkan ke-sembilan ekornya lagi tanpa pedang. “Ini akan membuat pertarungan menjadi lebih menarik!” kata Harunio, “Jangan harap ini akan mudah!” jawab Erio, “Memang itu yang aku harapkan!” teriak Harunio lalu mulai menyerang Erio lagi. Pertarungan sengit itu berlangsung cukup lama, menjadi Werewolf mulai sedikit menguntungkan Erio. Serangannya membuat Harunio sedikit kesulitan, “Sekali terkena gigitan, aku akan mengutukmu selamanya!” kata Erio sambil menggigit tangan Harunio. Kurnia dan Yudai terkejut melihat tangan Harunio tergigit, “Ada apa? Terasa keras ya?” kata Harunio sambil melempar Erio yang menggigit tangannya. “Apa itu?” tanya Erio, “Sepertinya aku belum menjelaskannya, lapisan kulit ini disebut Perfect Core Shield. Hanya aku yang memiliki kunci untuk menembus pertahanan ini.” kata Harunio. Erio mulai sedikit kesal ia akan lebih kesulitan melawan Harunio, “Sekarang menyerahlah!” teriak Harunio sambil melanjutkan pertarungan mereka.

Sekarang Erio yang mulai kesulitan, Harunio membanting Erio sehingga ia sedikit sulit bergerak. “Sial!” kata Erio fikirannya, lalu Harunio memegang kepala Erio dan menggunakan kemampuan/skillnya. “Pure Light!” kata Harnuio sambil memegang kepala Erio, cahaya mulai terpancar dari tangan Harunio yang ada dikepala Erio. Cahaya tersebut mengilangkan efek transformasi Werewolf sehingga Erio kembali menjadi manusia. “A-apa yang kau lakukan?” tanya Erio, “Tentu saja, mengalahkanmu. Sekarang penuhi janjimu.” kata Harunio sambil mengeluarkan ke-sembilan pedang pada tiap-tiap ekornya yang mengarah kapada Erio. “Baiklah ...” kata Erio dengan tersenyum mengalah, Harunio mengulurkan tangannya membantu Erio bangun.

“Sebaiknya kita bergegas sebelum kedua klan memulai perang.” kata Yudai lalu memanggil Raska. “Aku butuh beberapa orang untuk menemaniku, sisanya tunggu aku di gua.” kata Erio. “Tetapi jika hanya dengan Raska tidak akan cukup untuk kita semua.” kata Kurnia, “Ya, dia benar Yudai. Lagi pula aku tidak mau jika harus membawa kalian semua.” jawab Raska. “Kalau begitu, biar aku saja yang membawa sisanya.” kata Harunio lalu berubah menyerupai Raska. “Apa kau tidak apa-apa jika seperti ini?” tanya Yudai. “Tidak apa-apa, dalam pertarungan tadi aku hanya menggunakan ekorku bukan sayapku. Jika tidak bisa juga, aku masih memiliki sepasang sayap lagi.” jawab Harunio. “Aku sudah bilang untuk tidak membuka segelnya!” kata Yudai. “Aku hanya menggunakan kekuatannya, bukan melepas segelnya.” jawab Harunio. “Baiklah, terserah kau saja.” kata Yudai. Lalu mereka mulai berangkat menuju Darko Tera, tempat asal Black Wing. Erio, Kurnia, dan Yudai menunggangi Raska, dan Werewolf yang menemani Erio bersama dengan Harunio.

Beberapa jam kemudian mereka sampai di Darko Tera, dan menemui Black Wing Chief di sana. Setelah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi akhirnya mereka setuju untuk membatalkan perang dengan klan Gumiho. Chief meminta Yudai dan yang lain memberikan surat permintaan maaf dan pembatalan perang antar kedua klan kepada pemimpin klan Gumiho. Setelah itu mereka segera berangkat ke Desa Gumiho untuk menyerahkan surat tersebut. Untuk di Desa Gumiho, Harunio dan Kurnia mengenal pemimpinnya, Hanao. Tetapi mereka di tangkap karena sudah terang-terangan menyusup ke desa tersebut, “Aku Harunio Ell Rosyido. Teman pemimpin kalian, Hanao.” kata Harunio. “Itu karena kau Black Wing, Harunio The Last Black Feather (Harunio si Bulu Hitam Terakhir).” kata salah satu Gumiho. “Lepaskan mereka!” kata Hanao. “Hanao!” kata Harunio, “Harunio. Maaf untuk sambutan yang kurang bersahabat ini, lebih baik kita berbicara di dalam.” kata Hanao. “Sejak kapan kalian saling akrab?” tanya Yudai. “Ceritanya panjang.” jawab Harunio.

Lalu mereka membicarakan masalah tersebut di Istana Gumiho yang sederhana, “Harunio, aku benar-benar tidak tau apa yang menyebabkan ini terjadi.” kata Hanao dengan cemas. “Tenang saja, Hanao. Ini hanya kesalah pahaman saja.” jawab Harunio. “Maafkan aku yang hendak membuat kedua klan hampir berperang.” kata Erio menyesal. “Siapa dia, Harunio?” tanya Hanao, “Namanya adalah William Erio de Wolfree.” kata Harunio. “Panggil saja ‘Erio’.” kata Erio. “Lalu bagaimana ini semua bisa terjadi, Erio?” tanya Mina (kekasih Hanao). “Sebenarnya ...” Erio menjelaskan, “... Begitulah yang terjadi.” kata Erio. “Klan Black Wing juga memberikan surat ini untukmu, yang isinya untuk membatalkan perang antar kedua klan.” kata Yudai. “Aku sebagai perwakilan klan Gumiho ingin mempertahankan perdamaian kami dengan klan Black Wing setelah semuanya. Kami menyetujui surat pembatalan ini.” kata Hanao. “Terima kasih.” kata Yudai, “Tidak, aku yang seharusnya yang berterima kasih kepada kalian semua. Berkat kalian, janji perdamaian kami tetap terjalin.” kata Hanao. “Aku akan menyuruh seseorang untuk menyampaikannya kepada klan Black Wing di Darko Tera.” kata Hanao, “Baiklah, sekarang kita juga harus kembali ke desa. Jadi kami permisi dulu, Hanao.” kata Harunio. “Ya, terima kasih, Harunio.” kata Hanao, “Sama-sama.” jawab Harunio. Lalu mereka segera kembali ke desa Conqueron untuk meyakinkan warga desa.

Ke esokan harinya mereka sampai di Conqueron, tepatnya pada pagi hari. Yudai meminta semua Emylier untuk berkumpul sebentar. “Dengan ini, aku nyatakan perang antar kedua klan telah di batalkan!” kata Yudai, lalu para Emylier bersorak gembira meski masih di pagi hari. Lalu Erio meminta izin untuk berbicara, “Dan juga aku mewakili seluruh Werewolf yang terlibat, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas penyerangan kami beberapa hari yang lalu.” kata Erio. Semuanya menjadi diam sejenak, “Ayolah, apa susahnya memberikan maaf kepadanya?” kata Harunio. Lalu para Emylier setuju untuk memaafkan Erio dan para Werewolf. “Apa kalian tidak mau beristirahat terlebih dahulu?” tanya Yudai, “Tidak, terima kasih, Yudai. Kami harus segera kembali ke gua.” jawab Erio. “Baiklah jika begitu, berhati-hatilah di jalan.” kataYudai, “Ya, tolong sampaikan salamku kepada Harunio dan Kurnia. Dan juga sampaikan permintaan maafku kepada kekasih Harunio.” kata Erio. “Tentu.” Jawab Yudai. Lalu Erio dan Yudai berjabat tangan, setelah itu Erio dan Werewolf yang menemaninya berangkat kembali ke gua.

“Kau sudah pulang, Harunio!” kata Miho dengan memeluk Harunio sambil menangis bahagia karena Harunio dan yang telah berhasil, “Ya, Miho.” jawab Harunio. “Tidakkah ada sesuatu?” tanya Kurnia, “Ini bukan pertama kalinya kau meninggalkanku dan kembali pulang. Jadi aku hanya merasa seperti biasanya.” jawab Aprilia. Kurnia sedikit terkejut, “Hanya bercanda.” kata Aprilia lalu memeluk Kurnia. Tidak lama kemudian Yudai datang, “Dia sudah pergi?” tanya Harunio, “Ya, dan juga ia meminta maaf kepadamu, Miho. Atas semua yang telah terjadi.” kata Yudai. “Ya, tidak apa-apa.” jawab Miho, “Apakah kita akan bertemu dengannya lagi?” tanya Kurnia. “Mungkin saja, suahlah yang penting sekarang kita harus melanjutkan memperbaiki bangunan yang rusak.” kata Yudai. “Aku lelah, aku mau istirahat terlebih dahulu.” kata Harunio, “Tidak secepat itu, kami masih membutuhkan daftar bahan untuk membuat Linkin Liquidmu itu.” kata Yudai sambil menghalnagi Harunio pergi. “Itu bisa di urus nanti, sekarang biarkan aku untuk beristirahat.” jawab Harunio, mau tidak mau Yudai tidak bisa menghalanginya. “Kau juga Kurnia, lebih baik kau beristirahat dulu.” kata Yudai, “Baiklah, kami permisi dulu, Yudai.” kata Kurnia lalu kembali pulang. Lalu Yudai menerima pesan dari Harunio melalui de Ordernya, pesan itu berisi bahan untuk membuat Linkin Liquid dan juga langkah-langkahnya. Yudai segera meminta bantuan Emylier yang lain untuk membuat Linkin Liquid tersebut.

Sore harinya, Erio dan bebrapa Werewolf yang menemaninya sampai di Gua de Wolfree. “Kau sudah kembali Erio.” kata salah satu Werewolf, “Ini hari yang panjang, aku mau istirahat terlebih dahulu.” kata Erio, “Baiklah.” jawabnya. Saat berada di dalam gua, Erio merasa ada yang aneh dengan gua mereka. “Siapa yang telah datang ke gua?” tanya Erio, “Tidak ada orang lain yang masuk ke sini.” jawab salah satu Werewolf. “Ada hal yang tidak beres ...” kata Erio, lalu terdengar suara sumbu yang dinyalakan. “Bahaya! Segera keluar dari sini!” kata Erio, “Ada apa dengannya?” kata Werewolf lain, “Entahlah.” jawabnya . “Kenapa mereka tidak segera lari?” kata Erio dalam fikirannya. Tidak lama kemudian terjadi ledakan, Erio yang telah didekat mulut gua lempar keluar. Seluruh isi gua telah di hancurkan bersama para Werewolf lain di dalamnya, Erio hanya terdiam melihat gua mereka yang telah hancur. Lalu terdengar suara langkah kaki yang berlari menjauh, Erio segera mengejarnya dengan penuh amarah sehingga ia berubah menjadi Werewolf.

Erio berhasil menangkapkap orang tersebut, tetapi orang tersebut tertawa. “Apa yang kau lakukan?!” tanya Erio dengan marah sambil mengangkat orang tersebut ke atas. “Tugas dari tuan Franklin telah aku laksanakan.” kata orang tersebut sambil tertawa. Erio terkejut mendengarnya, karena tidak bisa menahan amarahnya Erio mencekik orang tersebut hingga lehernya terkoyak oleh cakarnya. Erio tidak tau lagi harus kemana lagi, pada malam harinya Erio hanya bisa melihat bulan dari atas bukit seperti biasa. “Kenapa kau bersedih?” kata orang asing yang pernah ia temui, “Ini bukan urusanmu!” kata Erio. “Itu bukanlah jawaban. Kau tidak memiliki siapapun lagi?” kata orang asing tersebut. Erio mulai memperhatikan orang asing tersebut, “Bukankah kau dulu pernah billang ‘Jika aku perlu tempat bernaung, maka datanglah kembali’ bukan?” tanya Erio. “Jadi kau sekarang telah kehilangan semuanya?” kata orang asing tersebut, “Bagaimana kau tau?” tanya Erio, “Jika kau memahami rasa kehilangan, barulah kau mengerti penderitaan.” jawab orang asing tersebut. 

“Sebenarnya kau ini dari mana?” tanya Erio, “Bisa di bilang aku dari masa depan.” jawab orang asing tersebut. Erio menjadi terdiam mendengarnya, “Ikutlah denganku, kau tidak akan kesepian dan juga ada tempat di mana kau di harapkan.” kata orang asing tersebut sambil mengulurkan tangannya, Erio menjadi teringat dengan Harunio. Lalu Erio menerimanya dan di belakang orang asing tersebut muncul cahaya berbentuk lingkaran, mereka berdua memasuki cahaya tersebut dan tidak pernah kembali lagi.

~THE END~
Next :
Harunio Stories : I’am The Last Black Feather

Credits :

Written by : Harun Al Rosyid
Official FB : H-runio Ell Rosyido
Story by : Harun Al Rosyid
Official LS : K0uShinRYou
Certia ini hanya fantasi penulis, dan tidak bermaksud untuk merugikan pihak lain
Official Elsword : HiSEiN, K0uShinRYou

Comments