de Wolfree Part 1

Suatu pagi, Erio dan teman-temannya sedikit membuat kekacauan karena memecahkan pot tanaman milik tetangga saat bermain bersama di desa mereka. Teman-teman Erio segera pergi karena tidak ingin dituduh memecahkan pot itu, pemilik tanaman tersebut hanya bisa menangkap basah Erio  langsung membawanya ke kediaman keluarga de Wolfree. “Tidak bisakah kau mengawasi anak ini dengan lebih baik?!” keluh tetangga mereka, “Maaf, tetapi Erio tidak sendiri dalam masalah ini dan kau hanya menuduh Erio saja.” Kata paman Erio (Albus de Wolfree). “Anak-anak lain sudah pergi melarikan diri sementara Erio tertinggal di sana.” Kata tetangga tersebut, “Aku bukanlah pengecut seperti mereka!” kata Erio. “Erio, sudah. Maafkan kesalahan keponakanku, akan aku pastikan hal yang sama tidak terulang lagi.” Kata Albus, “Baiklah, asalakan aku mendapat ganti rugi tanamanku.” Kata tetangga mereka. “Baiklah kalau begitu.” Kata Albus sambil memberikan ganti ruginya, “Terimakasih, aku akan segera kembali.” Kata tetangga tersebut lalu kembali ke tempatnya.


“Kenapa paman membiarkannya begitu saja?!” kata Erio, “Sudahlah, Erio. Kau mungkin memliki keberanian yang lebih dari pada teman-temanmu untuk bertanggung jawab atas kesalahanmu. Tetapi kau juga jangan mencari masalah, atau kau hanya akan merepotkan orang lain.” Kata Albus memberi saran. “Maafkan aku karena sudah membuatmu terlibat, paman.” Kata Erio, “Tidak apa-apa, kau sudah menjadi tanggung jawabku setelah kepergian kedua orang tuamu.” Jawab Albus. “Aku tidak ingin mengingat hal buruk itu lagi!” kata Erio, 2 tahun yang lalu kedua orang tua Erio meninggal karena melindungi Erio dari serangan bangsa Vampire di desa mereka. “Aku akan mencoba sedikit menghiburmu, tetapi kau jangan menceritakan ini kepada teman-temanmu karena  mereka tidak akan percaya kepadamu.” Kata Albus, “Sebuah cerita?! Ceritakan, paman!” kata Erio dengan senang.

Saat Dunia masih pada zaman kegelapan, manusia harus bertahan dari pemangsa atau pemburu mereka. Bukan hanya Hewan, melainkan juga dengan Underwolrd Creature (Makhluk Dunia Bawah). Dari sekian banyak makhuk dunia bawah, yang paling ganas adalah bangsa Vampire. Mereka adalah mahkluk yang bertahan hidup dengan meminum darah manusia yang menghuni daratan di sana. Mengingat hal itu, umat manusia tidak tinggal diam dan menunggu umat mereka punah dari Bumi. Seluruh umat manusia sepakat untuk bersatu dan berjuang bersama demi kelestariannya. Untuk itu, mereka membuat pelatihan untuk membasmi bangsa Vampire yang diberi nama Vampire Jaeger (Pemburu Vampire). Mereka mengumpulkan informasi untuk mengalahakan bangsa Vampire, termasuk kelemahan mereka. Beberapa kelemahan mereka antara lain Air Suci, hunusan Pasak Perak ke arah jantungnya, dan Cahaya Matahari. Tetapi masih ada satu hal yang bisa mengalahkan atau lebih tepatnya membunuh bangsa Vampire, yaitu Lycans (Manusia Srigala).

            Akan tetapi Lycan adalah makhluk yang lebih buas dari Vampire, mereka tidak akan ragu menyerang manusia yang mengusik keberadaan mereka. Para Ksatria Vampire Jaeger tidak akan menyerah hingga umat manusia aman dari serangan Vampire, meski harus mengorbankan nyawa mereka. Disuatu malam, sekelompok Ksatria Vampire Jaeger mencoba menyerang salah satu benteng pertahanan bangsa Vampire. Namun rencana penyerangan itu telah diketahui oleh para Vampire, sehingga rencana mereka gagal dan hanya beberapa yang berhasil kabur dari benteng tersebut. Meski Ksatria Vampire Jaeger gagal menyerang, bangsa Vampire tetap mengirimkan pasukan untuk memastikan tidak ada Ksatria yang selamat. Ada 3 orang yang berhasil lolos dari perang tersebut, mereka adalah Alexandro Loupin, Jack de Quency, dan Meria de Quency. Tetapi dalam perjalanan kembali ke Markas Pusat Vampire Jaeger, mereka ditemukan oleh bangsa Vampire. “Meria, pergilah tanpa kami.” kata Loupin. “Kami akan menahan mereka selama mungkin.”  kata Jack menambahi. Dengan berat hati Meria pergi meninggalkan teman dan juga satu-satunya anggota keluarga yang masih dia miliki.

            Namun, ada beberapa Vampire yang mengikuti Meria dari belakang. “Jack, urus mereka untuk sementara! Ada yang harus aku atasi.” kata Loupin sambil berlari mengikuti Vampire yang mengejar Meria. “Jangan terlalu lama, Aku hanya manusia dengan 2 tangan.” jawab Jack. Loupin berhasil membunuh Vampire yang hendak menyusul Meria, perlawanan Jack menyisihkan beberapa Vampire sehingga Vampire itu menggigit leher Jack dan menghisap darahnya. “Aaaaa...” terdengar suara teriakan yang begitu keras. “Jack!” Loupin segera menyusul Jack dengan persaan khawatir namun Loupin terlambat, Vampire itu telah mambunuhnya. Loupin berlari menjauh agar tidak terbunuh juga oleh mereka, karena mereka juga menang dalam jumlah. Entah seberapa jauh Loupin pergi, namun sepertinya dia tidak akan ditemukan oleh Ksatria lain. Meski Ksatria Vampire Jaeger dituntut agar tidak gentar akan musuh yang mereka hadapi, namun Loupin sedikit goyah dan salah satu Vampire menyerangnya, tepat di tubuh bagian kirinya. Dengan perlahan-lahan Loupin melanjutkan pelariannya hingga ia sampai di Moonface Forest, hutan yang hanya bisa dilihat oleh cahaya Bulan Purnama dan dimana bisa di temukan Srigala Purba, para pendahulu mereka memanggail Srigala tersebut dengan nama Day’s Tails (Ekor Siang).

Loupin berdo’a kepada Tuhan agar diberikan kekuatan untuk tetap bertahan, dan bersedia menanggung apapun resikonya. Saat pandangannya sedikit kabur, Loupin melihat cahaya biru terang mendatanginya. Lalu ia melihat 4 kaki dan cakar yang bersinar di tiap kakinya, taring yang besar dan tajam. Loupin fikir itulah yang disebut “Azul Wolf...” . Para Day’s Tails akan menilai setiap orang yang ditemui, apakah ia layak menerima bantuannya atau tidak. Seakan mendapat jawaban dari Tuhan, Azul Wolf  mengalirkan darahnya untuk menolong Loupin. Namun dia juga harus menanggung resiko dari percampuran darah dengan Day’s Tail, yaitu dia akan menjadi Lycan untuk selamanya. Setiap serangan Lycan tidak akan bisa diregenerasi oleh bangsa Vampire, setiap gigitan Lycan akan mengacaukan sistim kerja tubuh bangsa Vampire dan membunuh mereka secara perlahan. Jika manusia terkena gigitan Lycan manusia tersebut juga akan menjadi Lycan untuk selamanya.

Dengan merasakan sakit yang luar biasa dan Loupin menjerit kesakitan dengan keras, ia mulai berubah menjadi Lycan. Pasukan Vampire yang mengejar Loupin mendengar suaranya dengan jelas dan menghampiri Loupin, akan tetapi Loupin telah menjadi Lycan. Dengan tanpa kesadaran Loupin mebunuh semua Vampire yang mengikutinya tanpa menyisakan satu Vampire sekalipun. Setelah membunuh semua Vampire yang mengikutinya, Loupin yang telah menjadi Lycan pergi entah kemana. Pagi harinya Loupin terbangun tanpa pakaian, kecuali celananya. Ia sedikit mengingat peristiwa tadi malam, membantai seluruh Vampire yang mengikutinya. Ia segera membuat sinyal dari asap agar Ksatria lain mengetahui keberadaannya. Para Ksatria Vampire Jaeger pun melihat sinyal asap milik Loupin dan segera menjemputnya.

Loupin telah dinanti oleh Ksatria lain setelah mendengar cerita dari Meria. “Dimana Jack?” tanya Meria. “Maafkan Aku, Meria. Jack telah gugur di medan perang.” Jawab Loupin dengan perasaan menyesal. Air mata Meria tidak tertahankan, tentu tidak mudah merelakan kepergian satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Meria berlari meninggalkan para Ksatria lain, Loupin hendak menyusul Meria tetapi dihalangi oleh Ksatria lain. “Biarkan dia melampiaskan amarahnya, jangan mengganggunya untuk sementara.kata salah satu Ksatria, tida ada yang bisa dilakukan Loupin selain mengikuti kata ksatria tersebut. Dimalam harinya Meria mencari Loupin, akan tetapi Loupin tau rahasianya tidak boleh terbongkar jika dia adalah seorang Lycan. Untuk itu ia harus berlatih mengendalikan kekuatannya, Loupin mulai mempelajari buku-buku peninggalan Ksatria pendahulu mereka. Dari buku tersebut diakatakan ‘Kekuatan Azul Wolf adalah yang paling kuat dan perlu latihan untuk mengendalikannya. Atau dirimu yang akan dikendalikan kekuatan tersebut’. Setiap malam Loupin mencoba menahan perubahannya menjadi Lycan sebelum bisa mengendalikan kekuatan dari Azul Wolf. 6 bulan sudah berlalu, Loupin berhasil mengendalikan kekuatan dari Azul Wolf bahkan ia bisa menjadi Lycan tanpa melihat bulan purnama yaitu dengan menggunakan amarahnya untuk melepaskan kekuatan Azul Wolf.

Seiring waktu kemampuannya meningkat, dari transformasi Loupin bisa mengubah bagian tubuhnya manjadi bagian tubuh Lycan. Seperti mengubah tangannya menjadi cakar Lycan, mengganti otot tubuhnya menjadi otot Lycan, mengubah kedua kakinya menjadi sepasang kaki Lycan sehingga ia bisa bergerak secepat Lycan dalam bentuk manusia. Setahun sudah dari kematian Jack de Quency, Meria tau hanya ada satu lelaki yang bisa mengerti dia, yaitu Alexandro Loupin. Meria meminta Loupin untuk menjadi suaminya, Loupin sedikit terkejut mendengar permintaan Meria. “Meria, hanya dirimu yang bisa aku beritau tentang rahasiaku. Namun aku mohon kau menjaga rahasia ini dari orang lain.kata Loupin. “Apa itu, Loupin?” tanya Meria, “Sebelum itu, apakah kau menerimaku apapun diriku?” tanya Loupin. “Tentu saja, selama ini hanya dirimu dan Jack yang selalu bersamaku.” jawab Meria, Lalu Loupin mengatakan pada Meria “Aku seorang Lycan.” . Meria sedikit terkejut, dan ia meminta bukti bahwa Loupin adalah seorang Lycan. Loupin mengajaknya untuk keluar ke hutan didekat Markas Pusat Vampir Jaeger. Dan Loupin mulai berubah menjadi Lycan di depan Meria, Loupin telah menguasai kekuatan tersebut jadi ia tidak menyerang Meria. Lalu Loupin berubah menjadi manusaia lagi, Meria merasa terkejut hingga ia tidak melewatkan moment itu hanya untuk berkedip.

Sekarang Meria percaya jika Loupin adalah Lycan, beberapa minggu kemudian mereka menikah dan membuat keluarga baru dengan nama ‘de Wolfree’ :  Loupin de Wofree  dan Meria mengganti nama menjadi Quency de Wolfree. Quency membantu menyembunyikan identitas rahasia Loupin sebagai Lycan dari masyarakat sekitar, dan Loupin bersedia melindungi Quency dari segala bahaya. Satu tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang putra dan seorang putri. Nama mereka adalah Samuel de Wolfree dan Eria de Wolfree. Dari kedua anak tersebut hanya Samuel de Wolfree yang bisa berubah menjadi Lycan, karena ayahnya juga seorang Lycan. Sedangkan Eria de Wolfree tidak bisa karena ibunya bukan seorang Lycan. Kemampuan berubah menjadi Lycan tersebut hanya ada pada anak laki-laki keturunan de Wolfree atau laki-laki yang memiliki hubungan darah dengan keluarga tersebut. Tanda yang lainnya adalah motif di telapak tangan mereka tidak membentuk huruf ‘M’ atau ‘N’, tetapi ‘A’ (Azul)  atau ‘G’ (Glacial) atau ‘L’ (Lycorax) .

“Begitulah sejarah keluarga kita, Erio.” kata Albus sambil menutup buku sejarah de Wolfree. “Apakah bangsa Vampire sekarang masih memburu manusia, paman?” tanya Erio kecil (karena saat itu Erio masih berumur di bawah 10 tahun). “Kita tidak tau apakah Vampire sudah tidak memburu manusia lagi Erio, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena selama ini tidak ada serangan dari bangsa Vampire.” jawab Albus.     “Tapi kenapa Aku tidak memiliki tanda di telapak tanganknu seperti yang paman ceritakan?” tanya Erio lagi. “Hanya waktu yang akan memberitaumu, apa kau ingin menjadi Lycan juga?” tanya Albus. “Jika Aku adalah Lycan, akan ku lindingi semua orang dari serangan Vampire seperti kakek moyang kita Loupin de Wolfree.” jawab Erio dengan semangat. Paman Erio hanya tersenyum dan membelai rambut Erio dengan perasaan senang, lalu Erio pergi dan bermain bersama teman-temannya.

Waktu berjalan cepat, sekarang William Erio de Wolfree telah menjadi Ksatria Vampire Jaeger demi melindungi semua orang dari serangan Vampire. Dan rahasia kelarga de Wolfree tetap terjaga dari masyarakat, jika hal tersebut tersebar luas maka mereka akan diusir atau dibunuh meski mereka mampu mengendalikan kekuatan dari Lycan. “Yah … aku rasa aku merusak pedangku lagi.” Kata Robert (Robert Vermintz, teman Erio sejak ia kecil), “Berhati-hatilah saat menggunakannya, semakin sering di tempa akan membuat pedangmu lebih rapuh.” Kata Erio. Saat itu mereka selesai latihan dan menuju tempat Blacksmith (pandai besi) untuk memperbaiki pedang milik Robert, “Ya ampun, kau merusak pedangmu lagi?” tanya Starla (Starla Mooncleave teman Erio yang lain). “Dia ini memang sedikit ceroboh.” Kata Erio, “Ha?! Bukankah kau sendiri juga?! Sudah tau ada Scarecrow yang menjadi pengalihan tetap saja tertipu.” Kata Robert. “Apa?!” kata Erio tidak terima, “Sudahlah, kalian berdua. Tidak bisakah satu hari saja kalian tidak bertengkar seperti itu?” tanya Elika (Elika Cloverleaf teman Erio yang lain juga). “Entahlah dengan mereka ini.” Kata Starla, lalu sore harinya mereka pergi bersama ke tempat Blacksmith.

“Apa?! Bagaimana bisa harganya meningkat?!” kata Robert tidak terima, “Tentu saja, pedangmu semakin lama semakin rapuh untuk ditempa. Mau tidak mau pedangmu harus diperkuat dengan tambahan material lain, ini juga bertujuan agar kau tetap bisa menggunakan pedang ini.” Kata Blacksmith di sana. “Dengar itu!” kata Erio, “Ya … aku mendengarnya.” Kata Robert. “Mau bagaimana lagi, ikuti saja apa katanya.” Kata Starla, “Itu benar, Robert. Ia lebih tau masalah ini.” Kata Elika menambahi. “Ya ya, baiklah. Erio bisakah kau membantu membayar perbaikan pedangku?” tanya Robert, “Yang benar saja?!” kata Erio yang sebenarnya kurang mau. “Ayolah, untuk teman sendiri kau juga pilih-pilih seperti itu.” Kata Robert, “Ya ampun …Tetapi aku tidak bisa membantu banyak, aku juga perlu untuk menyisihkan uangku untuk keperluan lain.” Kata Erio. “Terimakasih, kawan!” kata Robert sambil memoles kepala Erio, “Sama-sama! Lain kali jangan seenaknya memperlakukan kepala orang lain seperti itu!” kata Erio. “Ya, tentu saja! Aku titipkan pedangku kepadamu, paman.” Kata Robert, “Ya, kau bisa mengambilnya kembali beberapa hari lagi.” Kata Blacksmith tersebut. “Kami pergi dulu.” Kata Elika, “Ya, silahkan.” Jawab Blacksmith tersebut.

Sementara itu, para Ksatria Vampire Jaeger sedang merapatkan sesuatu. “Kita tau jika bangsa Vampire tidak menyerang desa ini untuk sekian lama, kita harus mengetahui penyebabnya.” Kata salah satu Ksatria, “Mungkin benar, tetapi kita tidak bisa mengorbankan para Ksatria muda untuk terjun ke medan tersebut.” Kata Ksatria lain. “Yang aku khawatirkan adalah jika mereka menyiapkan armada besar untuk menyerang desa ini habis-habisan.” Kata Ksatria yang memberi usulan, “Tetapi sama saja –” . “Aku sarankan kita memilih Ksatria yang memiliki kemampuan yang cukup untuk memata-matai daerah musuh dan kuat untuk menghadapi resikonya.” Kata Albus memotong pembicaraan karena suasana mulai panas, “Lalu siapa yang kau pilih?” tanya salah satu Ksatria. “Aku memilih keponakanku, William Erio de Wolfree. Kami sudah melatihnya dengan baik bahkan untuk saat-saat seperti ini, aku yakin ia dapat melakukan tugas ini. Lagi pula, keluarga kami sudah berpengalaman dalam menghadapi para nyamuk berjalan ini (maksudnya adalah bangsa Vampire).” Kata Albus dengan yakin, “Jika dia sendiri tidak akan bisa, sepertinya ia juga harus didampingi teman-temannya.” Kata Ksatria yang memberi usulan. “Aku tidak keberatan untuk itu.” Kata Albus, dengan begitu masalah mereka terselesaikan.

Setalah dari tempat Blacksmith, Erio dan Robert menemani Elika dan Starla pulang. “Hhh … ini hari yang panjang!” kata Erio sedikit kelelahan, “Ini masih belum apa-apa!” kata Robert. “Kau ini seperti tidak punya rasa lelah saja!” kata Erio, “Gunakan masa mudamu dengan  lebih baik lagi, atau kau tidak akan bisa melakukan apa-apa kelak!” kata Robert. “Kau bisa juga berbicara seperti itu?” kata Erio meragukan Robert, “Apa?!” kata Robert tidak terima. “Hahaha, kalian ini seperti anak kecil saja!” kata Starla, “Siapa yang kau bilang anak kecil?!” kata Erio dan Robert bersamaan. “Aku hanya bercanda ..” kata Starla dengan nada pelan, “Sudahlah, Starla. Mereka sudah bersama sejak kecil, wajar saja jika mereka sering bertengkar lalu baikan lagi.” Kata Elika. “Dan kau sendiri selalu saja menjadi pihak penengah.” Kata Starla, beberapa saat kemudian mereka berpisah karena jarak rumah Elika dan Starla tidak terlalu jauh.

“Sampai jumpa besok, semuanya!” kata Starla, “Ya, sampai jumpa besok.” Jawab Robert. “Sampai jumpa besok, Erio.” Kata Elika, “Ya, sampai jumpa.” Jawab Erio. “Kau ini, membosankan sekali jawabanmu!” kata Robert dalam perjalanan pulangnya bersama Erio, “Biarlah! Kenapa kau ikut campur?” kata Erio. “Entah ini hanya dugaanku atau memang benar, jika Elika suka padamu.” Kata Robert, “Y-yang benar saja?!” kata Erio sedikit malu. “Haha! Dan kau sepertinya juga suka padanya!” kata Robert semakin memancing Erio, “D-diam saja jika kau tidak tau kebenarannya.” Kata Erio. “Haha! Dugaanku benar!” kata Robert, “Kau sendiri juga suka pada Starla, bukan begitu?” kata Erio. “Memang, tetapi aku tidak perlu malu sepertimu! Hahaha!” kata Robert, “..! Kau ini …” kata Erio tidak tau harus berkata apa.

“Erio, rupanya kau di sini.” Kata Albus, “Baiklah, aku harus kembali bersama pamanku. Kau tidak apa-apa ‘kan jika aku tinggal sendiri?” kata Erio. “Kau ini ..! Kau tidak tau berbicara dengan siapa?!” kata Robert sedikit menyombongkan diri, “Ooh! Robert yang suka dengan Starla …!” kata Erio dengan niat memanas-manasi Robert. “Terserah apa katamu, Erio yang suka pada Elika …” kata Robert menggunakan nada yang sama dengan Erio, “Jah!! Jangan katakana itu di depan pamanku!” kata Erio. “Ayo cepatlah, ada apa?” kata Albus, “T-tidak ada apa-apa, paman.” Jawab Erio. “Heh! Penipu mau di tipu!” kata Robert, “Aku baru sadar jika kau seorang penipu?!” kata Erio. “Yang benar saja?! Ini hanya kiasan!” kata Robert, “Oh! Aku kira sungguhan?” kata Erio. “Memang begitu …” kata Robert dengan nada pelan, “Apa katamu?” tanya Erio, “Bukan apa-apa! Cepatlah! Kau tidak tau jika sedang di tunggu orang lain?!” kata Robert. “Ya ya, aku pergi duluan, Robert!” kata Erio langsung menemui pamannya. “Ya!” jawab Robert, lalu Erio pulang bersama pamannya yang juga baru selesai dari rapat Ksatria Vampire Jaeger.

Dalam perjalanan pulang mereka, Erio sedikit bertanya kepada pamannya itu. “Tidak seperti biasanya paman pergi seperti sekarang.” Kata Erio, “Ada hal yang harus aku ikuti, Erio.” Jawab Albus. “Oh, begitu rupanya.” Kata Erio, “Erio, aku memiliki tugas untukmu sebagai anggota keluarga ini.” Kata Albus. “Apa itu?” tanya Erio, “Aku ingin kau dan teman-temanmu pergi untuk menyelidiki Istana Vampire yang menurut para tetinggi mulai mencurigakan.” Kata Albus. “I-Istana Vampire?!” kata Erio tidak percaya, “Ya, tentu saja.” Kata Albus. “Tetapi .. tetapi bagaimana aku bisa langsung mendapat perintah seperti ini? Ini tidak adil!” kata Erio, “Ini merupakan hasil suara tertinggi, lagi pula inilah tujuanmu dilatih dan juga teman-temanmu.” Kata Albus. “Apakah aku harus mengorbankan teman-temanku?!” kata Erio tidak menyetujuinya, “Bukankah dulu kau bilang akan melindungi semua orang dari serangan Vampire seperti leluhurmu, Loupin de Wolfree?” kata Albus. “Y-ya itu ..” Erio tidak tau harus menjawab apa, “Ini adalah saat yang bagus bagimu untuk menunjukan dirimu pantas disebut sebagai William Erio de Wolfree.” Kata Albus.

“Tetapi, leluhur kita berbeda jauh denganku! Paman sendiri tau jika beliau memiliki kelebihan yang belum aku dapatkan atau bahkan tidak aku miliki (maksudnya kemampuan untuk berubah menjadi Lycan).” Kata Erio, “Jika kau memang menginginkan kekuatan tersebut, kau akan mendapatkannya.” Kata Albus mencoba menyemangati Erio. “Apakah .. apakah paman juga memiliki kemampuan tersebut?” tanya Erio dengan nada pelan, “Semua anggota keluarga kecuali perempuan memiliki kemampuan tersebut.” Jawab Albus. “Baiklah kalau begitu .. Akan aku coba melaksanakan tugas ini.” Kata Erio meski sedikit ragu, “Baiklah kalau begitu, lakukan yang terbaik demi nama baikmu di keluarga ini dan desa ini.” Kata Albus. “Ya.” Jawab Erio dengan singkat, lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Keesokan harinya, Erio mencoba membicarakan ini bersama teman-temannya. “Istana Vampire?! Apa kau gila?!” kata Robert tidak percaya, “Ssstt! Pelankan suaramu!” kata Erio. “Kau fikir ini main-main apa?!” kata Robert dengan nada pelan, “Aku tau ini benar-benar mendadak, karena aku juga baru diberitau tadi malam.” Kata Erio. “Mereka mengembankan tugas ini kepada Erio dan kita juga ikut terlibat.” Kata Starla, “Mungkin kita juga harus membantu Erio, bagaimana pun juga ia tidak bisa pergi sendiri bukan?” kata Elika memberi saran. “Ini sangat berbahaya! Kita hanya akan menjadi sasaran empuk bagi mereka.” Kata Robert, “Bagaimana pun juga aku setuju dengan Robert, tidak bisakah kau menolak tugas ini?” kata Starla. “Entahlah, tetapi aku sudah menjawab bersedia untuk tugas ini.” Kata Erio, “Ya ampun, ini semakin memper panjang masalah.” Kata Starla.

“Karena itu, aku membutuhkan bantuan kalian.” Kata Erio, “Maaf, kawan. Tetapi aku tidak sanggup untuk tugas ini.” Kata Robert. “Robert benar, kau mungkin masih belum cukup kuat untuk ini.” Kata Starla. “Kalau begitu, aku akan menemanimu.” Kata Elika, “B-benarkah?!” kata Erio tidak percaya. “Elika, kau yakin dengan apa yang kau katakan?!” kata Starla tidak percaya, “Tentu, Erio adalah teman kita. Kita harus saling membantu agar tetap bisa bertahan.” Jawab Elika. “Elika … Terimakasih.” Kata Erio, “Sama-sama, Erio.” Jawab Elika, “Benar bukan?” kata Robert memancing emosi Erio. “A-apanya? Jangan melibatkan permasalahan kemarin!” kata Erio, “Permasalahan? Kalian bertengkar lagi?!” kata Starla. “T-tidak bukan apa-apa.” Kata Robert, “Dan kau juga!” kata Erio yang juga memanas-manasi Robert. “Diam kau!” kata Robert, “Hahaha! Jadi, apa kalian akan ikut?” tanya Erio. “Hhh … Baiklah baiklah, aku tidak akan membiarkanmu mati sendirian.” Kata Robert, “Jadi kau sudah siap mati?” tanya Erio. “Kau ini! Bukan berterimakasih malah mengejek!” kata Robert. “Karena Elika ikut, aku juga akan ikut. Untuk beberapa alasan tertentu.” Kata Starla, “Terimakasih, semuanya.” Kata Erio. Dengan begitu, Erio akan pergi menyusup ke Istana Vampire bersama teman-temannya.

Sehari sebelum pelaksanaan tugas, Erio dan teman-temannya mempersiapkan peralatan yang akan mereka gunakan untuk tugas kali ini. “Pedang?” kata Erio memeriksa barang bawaan, “Siap.” kata Robert. “Bagus, armor?” kata Erio lagi, “Sudah ada dan siap digunakan.” Kata Starla. “Baiklah, logistic?” kata Erio lagi, “Ya, sudah siap.” Kata Elika. Setelah pemeriksaan selesai, “Aku  rasa keperluan kita sudah cukup, kita akan berangkat malam ini, persiapkan diri kalian dengan baik.” Kata Erio. “Tentu saja.” Kata Robert, “Simple dan langsung ke intinya, seperti biasa.” Kata Erio. “Apa? Ada masalah?!” kata Robert tidak suka dengan nada bicara Erio, “Tidak, bukan apa-apa.” Jawab Erio. “Kau mengatakan sesuatu!” kata Robert, “Sudahlah kalian berdua, tidak bisakah kalian ini berdamai untuk sesaat?” kata Starla. “Dia yang memulai duluan!” kata Robert, “Tidak perlu seperti itu, kau terlihat seperti anak-anak saja.” Kata Erio. “Apa?!” kata Robert tidak terima, “Diamlah ..!” kata Starla menancam Robert. “..! Terserah saja.” Kata Robert yang sedikit takut, “Kau juga, Erio. Tidak bisakah kalian ini akur?!” kata Starla.

“Kenapa aku juga?!” kata Erio tidak ingin terlibat, “Karena ini menyangkut kalian berdua.” Kata Elika menambahi. “..! Terimakasih untuk alasannya ..!” kata Erio yang sebenarnya tidak terima, “Bukan masalah.” Kata Elika tanpa merasa bersalah. “Jika dalam situasi seperti ini kami wajar jika kurang akur, tetapi jika sudah dalam pertarungan berbeda lagi urusannya.” Kata Robert, “Kau sudah dengar, bukan begitu?” kata Erio. “Alasan macam apa itu?” kata Starla merasa dipermainkan, “Sudah sudah, tidak perlu diperpanjang lagi.” Kata Elika. “Hhh … Terserah kalian saja!” kata Starla, “Haha!” kata Erio lalu mengajak tos Robert. “Langsug akur seperti tidak terjadi apa-apa ..” kata Starla, “Mereka itu memang sedikit aneh, namun dapat dipercaya.” Kata Elika. Setelah itu mereka mempersiapkan diri untuk berangkat nanti malam.

Pada malam harinya, Erio memandangi Bulan Purnama untuk kesekian kalinya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda seperti kekuatannya meningkat pesat dari biasanya. Meski begitu ia harus merahasiakannya karena itu bukanlah kekuatannya sendiri, itu adalah kekuatan Lycan yang merespon Bulan Purnama. “Erio, kau sudah siap?” tanya Elika, “Apa persiapan kita sudah selesai?” tanya Erio. “Ya, kita bisa langsung berangkat kapan saja.” Kata Robert, “Kami serahkan tugas ini kepada kalian.” Kata salah satu Ksatria Vampire Jaeger. “Ya.” Jawab Erio dengan singkat, “Ayo selesaikan ini secepat mungkin!” kata Starla. “Kau ini semangat sekali meski ikut secara terpaksa.” kata Robert, “Kau sendiri juga, paling tidak tunjukan semangatmu bukannya selalu pasrah seperti itu!” kata Starla. “Haha! Kalian ini …” kata Erio, “Berhati-hatilah di sana, Erio.” Kata Albus. “Terimakasih, paman. Kami berangkat.” Kata Erio, lalu Erio bersama teman-temannya segera berangkat menuju Istana Vampire.

Perjalanan William Erio de Wolfree, Elika Cloverleaf, Starla Mooncleave, dan Robert Vermintz yang mencoba menyusup ke Istana Vampire tidaklah mudah. Mereka harus melewati benteng pertahanan bangsa Vampire untuk mencari celah masuk  ke Istana Vampire. “Apa pun yang kalian lakukan, jangan sampai tertangkap oleh mereka. Jika bisa jangan membuat mereka menyadari keberadaan kita.” Kata Erio memberi perintah, “Mudah saja!” kata Robert. “Bagaimana jika salah satu dari mereka mengejar kita?” tanya Starla, “Mau tidak mau harus dimusnahkan.” Jawab Erio. “Haruskah?” tanya Elika, “Ya, kita tidak bisa mengambil resiko lebih besar lagi selain datang ke tempat ini.” Jawab Erio. “Begitu ..” kata Elika, “Sepertinya kau masih belum cocok untuk tugas ini?” kata Starla. “Maaf ..” kata Elika, “Sudahlah, kita sudah sampai di sini. Kita tidak punya pilihan lain selain terus maju sampai akhir!” kata Erio. “Ya, benar sekali!” kata Robert dengan semangat, “Baiklah, ayo kita lanjutkan!” kata Erio. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Secara diam-diam mereka melumpuhkan penjagaan dan mulai melewati benteng pertahanan bangsa Vampire, namun Elika sedikit ragu jika disuruh untuk mengeksekusi musuh. “Siapa kalian –” belum selesai penjaga tersebut berbicara sudah dilumpuhkan oleh Starla, “Apa yang kau fikirkan, Elika?! Kau bisa saja diserang balik oleh mereka!” kata Starla kecewa. “Maafkan aku ..” kata Elika, “Sudahlah, Starla. Elika, aku ingin kau tau jika kehidupan itu tidak selamanya seperti yang kau fikirkan. Di sini kau bisa saja terluka atau bahkan terbunuh kapan saja, kau harus lebih berani dan lebih waspada.” Kata Erio. “Maafkan aku, semuanya. Aku memang tidak pantas untuk tugas ini, aku hanya ikut karena aku tidak ingin Erio menjalankan tugas ini sendirian. Tetapi aku hanya membebani kalian ..” kata Elika sedikit bersedih, “Cukup, bersedih pun tidak akan menyelesaikan masalah ini. Kita harus segera melanjutkan perjalanan.” Kata Erio. “Beranikan dirimu, Elika.” Kata Robert, “Baiklah ..” jawab Elika. “Dan maaf jika kata-kataku sedikit kasar.” Kata Erio, “Iya, tidak apa-apa. Lagi pula ini sudah menjadi kesalahanku sejak awal.” Kata Elika. “Baiklah baiklah, tidak perlu diulangi lagi.” Kata Starla, lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

            Setelah perjalanan panjang, mereka berhasil menyusup ke dalam Istana Vampire di sana. “Jadi ini Istana Vampire? Terlihat seperti reruntuhan kuno.” Kata Starla, “Dan mereka tetap menghuni tempat ini.” Kata Robert. “Pokoknya jangan sampai terpisah di sini!” kata Erio, “Ya!” jawab Elika. Setiap jalan masuk termasuk liku-liku dan simpangan mereka gambar dalam peta sederhana yang akan dibahas dalam rapat Ksatria minggu depan. Akan tetapi seperti kelompok Loupin, mereka ketahaun dan bangsa Vampire tentu mengirimkan pasukan untuk membunuh kelompok Erio karena telah mengetahui seluk beluk Istana Vampire. “Ini buruk! Segera tinggalkan tempat ini!” kata Erio, lalu mereka segera melarikan diri dari tempat itu.



            Mereka sempat merasa aman karena setelah melewati Istana, jejak mereka mulai lebih sulit untuk ditemukan sehingga mereka dapat pergi secepat mungkin. “Aku rasa mereka tidak kenal dengan wilayah mereka sendiri, haha!” kata Robert, “Tetap saja, kita harus segera kembali ke Markas Pusat secepat mungkin!” kata Erio. “Elika, ini adalah saat-saat yang dikatakan Erio tadi. Aku harap kau bisa mengerti sekarang.” Kata Starla, “Ya, sepertinya begitu.” Jawab Elika. Meski mereka harus segera pergi ke Markas Pusat, bukanlah hal yang mudah. Bangsa Vampire benar-benar marah karena setelah sekian lama tidak terusik atau mengusik manusia, mereka malah berbalik menyerang. Bangsa Vampire sengaja tidak memburu manusia karena mereka takut dengan Alexandro Loupin yang telah menghabisi separuh bangsa Vampire di sana. Sudah cukup dengan Loupin dan putra-putranya, kali ini mereka tidak akan ragu untuk membunuh kelompok Erio. Tetapi bangsa Vampire tidak tau jika Erio juga dari keluarga de Wolfree.

“Erio, kau yakin jika peta ini akan membantu kita membasmi bangsa Vampire di dunia ini?!” tanya Robbert. “Peta ini akan membantu kita lebih dari apa yang kita kira.” jawab Erio. “Erio benar, apa yang akan kita lakukan sekarang akan menentukan nasib kita di masa depan.” kata Elika menambahi. “Kita sudah sejauh ini, percuma saja jika kita menyerah sekarang.” kata Starla menyemangati. Mereka mulai melewati benteng pertahanan yang berhasil mereka lumpuhkan tadi, namun karena masih ada penjaga yang masih selamat mereka mengirimkan informasi mengenai arah pelarian kelompok Erio. “Sepertinya kita menyisahkan satu di benteng tadi.” Kata Robert, “Ada apa?” tanya Starla. “Kita sedang diikuti.” Kata Erio, “Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Elika. “Yang paling utama,  kita harus menjaga jarak dengan mereka.” Jawab Erio, “Gunakan taktik kalian untuk menjebak mereka.” Kata Robert. Mereka membagi kelompoknya menjadi 2 bagian, yang pertama yaitu Erio dan Robert bertugas untuk mengawasi dan mengatasi Vampire yang telah menyusul mereka dan yang ke dua Elika dan Starla yang bertugas untuk membuat perangkap bagi para Vampire.

Suasana mulai tegang, “Sepertinya mereka mulai berdatangan.” Erio menggunakan kode agar posisinya tidak diketahui. “Ya,kita harus bersiap.” Robert membalas kode Erio, meskipun mereka menggunakan kode agar lokasi mereka tersamarkan tetapi Vampire memiliki indra yang lebih tajam dari manusia. Satu per satu mereka mengalahkan Vampire yang mengejar mereka, namun ada lebih banyak Vampire talah menghadang mereka. Tidak ada pilihan lain selain menghadapi mereka terlebih dahulu. Setidaknya mereka terlatih untuk situasi seperti ini, “Heh! Aku rasa ini semakin menyusahkan saja!” kata Robert sambil melawan para Vampire itu. “Kau tidak perlu mengatakannya, kita pakai rencana B sekarang!” kata Erio yang segera menangkis serangan Vampire dan pergi bersama Robert. “Apa mereka sudah siap?” tanya Robert dalam pelarian mereka, “Semoga saja!” jawab Erio. Dari kejauhan Starla masih bisa melihat Erio dan Robert menuju mereka, “Baiklah, sekarang saatnya!” kata Starla. “Baiklah!” jawab Elika, Erio dan Robert segera menuju kearah tempat yang sudah disiapkan.

“Sekarang! Tunggu apa lagi kalian?!” kata Erio, “Bagaimana ini?” tanya Elika. “Sebentar lagi, kita tidak bisa membiarkan mereka juga ikut terkena.” Kata Starla, “Cepatlah!” kata Erio dan Robert yang diikuti oleh para Vampire dibelakang mereka. “Baiklah! Sekarang!” kata Starla memberi perintah, lalu mereka memotong tali pemicu jebakan mereka, “Menunduk!” kata Starla. Erio dan Robert langsung menjatuhkan diri mereka disaat jebakan mereka dilepaskan. Satu per satu jebakan yang melemparkan pasak perah mulai terlepas mengarah pada Vampire yang mengikuti Erio dan Robert. Jumlah para Vampire menurun drastis karena jebakan yang mereka buat, “Kita berhasil!” kata Elika dengan senang. “Mungkin, tetapi tetap waspada.” Kata Starla, “Huh! Tadi itu hampir saja!” kata Erio. “Apa kalian ingin membunuh kami?!” kata Robert dengan kesal, “Kalian yang tidak mau berhenti!” kata Starla. “Sudahlah kalian berdua, yang penting sekarang kita selamat.” Kata Erio, “Erio benar, kita harus segera kembali ke Markas Pusat selagi masih ada kesempatan.” Kata Elika.

Akan tetapi, tidak semua Vampire berhasil terkena jebakan mereka. “Robert! Awas!” kata Erio yang langsung menangkis serangan Vampire dibelakang Robert, “..! Sial! Mereka masih belum menyerah!” kata Robert. Mereka tidak memiliki pilihan selain melawan para Vampire secara langsung, namun beberapa Vampire telah memojokan Elika dan Starla.

“Erio, bantu Elika dan Starla.” kata Robert. “Aku sedang sibuk.” jawab Erio. “Lihat! Mereka di ambang kematian.” sambil menunjuk pada kedua perempuan itu. “Oh tidak.” kata Erio dengan sedikit ketakutan. “Urus mereka sementara, aku akan menyelamatkan mereka berdua!” kata Erio dan langsung menolong mereka. “Hoi, tunggu dulu!kata Robbert sambil berbalik menghunuskan pedangnya kearah jantung  Vampire di depannya. Erio langsung menebas Vampire yang akan menyerang Elika dan Starla. “Cepat pergi dari sini!” kata Erio. Robert mulai kewalahan berhadapan dengan 3 Vampire sekaligus, Vampire tersebut menyerang Robert dan pedangnya terlempar cukup jauh darinya. 
Bersambung...

Apa yang akan terjadi pada Robert ? Kita ga tau.
Mari kita tunggu kelanjutan ceritanya setelah Lebaran...

Hai para permbaca setia blog ini, for your info gays jika kalian suka dengan cerita diatas harap tinggal kan komentar atau kritikan anda. Penulis akan memberi saya lanjutan dari ceritanya jika ada respon yang baik dari kalian sebagai para pembaca. Kalian pasti taukan cara nya give and take.

oke cuma itu yang mau gue kasih tau and thanks buat penulis yang udah mau berbagi cerita dengan saya dan para pembaca lain nya. Di tunggu lanjutan ceritanya gan. satu lagi maaf cerita anda baru bisa saya posting sekarang.

sekian.

Comments