Tere Liye - Kalau Semua Wanita Jelek
Alkisah, dulu ada anak perempuan bertubuh gendut, saking
gendutnya, sering dijadikan bahan olok-olok oleh temannya. Dagunya besar,
lehernya tidak kelihatan, betis, paha dan lengannya jumbo, menurut olokan
temannya yang paling jahat, si gendut ini kalau digelindingkan di jalan raya,
pasti jauh sekali menggelinding baru berhenti. Atau kalau pertandingan basket,
bolanya tiba-tiba kempes, si gendut ini bisa jadi ganti bola. Jahat memang.
Kabar baiknya, dengan segala keterbatasan, si gendut
diberkahi dengan kecerdasan dan kebaikan hati. Jadi dia tidak terlalu ambil
hati dengan olok-olok temannya. Lebih banyak tersenyum dan menggeleng saja,
tidak membalas. Jika dia merasa olokan itu berlebihan, tidak bisa menahan diri,
dia selalu pandai menjawab dengan tepat. Tidak terbayangkan betapa besar sisi
kebaikan yang dimilikinya. Sayangnya, di dunia nyata, orang-orang tetap saja
bertingkah menyebalkan pada orang baik.
Pada suatu hari, si gendut menumpang angkutan umum, nah,
sialnya, di dalam angkutan itu ternyata sudah ada tiga teman sekolahnya yang
suka mengolok. Tidak menunggu menit, tiga anak perempuan ini yang memang
bertubuh ramping dan kurus berbisik-bisik dengan suara sengaja dikeraskan.
Tertawa satu sama lain penuh arti. Menatap si gendut merendahkan.
Si gendut hanya diam, memilih memperhatikan jalanan.
“Eh,
tahu nggak sih lu,” Karena sebal dicuekin, yang paling jahat di antara tiga
anak ramping itu menyikut lengan si gendut, mencari perhatian sekaligus mencari
masalah.
Si gendut menoleh. Masih diam.
“Ini angkot sempit banget tahu, gara-gara sejak lu naik.
Lihat nih sesak.” Si anak ramping jahat memonyongkan bibir, “Harusnya ya,
ongkos naik angkot itu disesuaikan dengan berat badan. Jadi orang-orang kayak
lu, kenanya dobel. Rugi tahu sopirnya.”
Si gendut menelan ludah, hatinya sebal sekali, sementara
semua penumpang memperhatikan mereka. Dia berusaha tidak menanggapi, tapi tiga
teman sekolahnya ini sengaja benar memancing.
“Nggak dobel kali, say.” Teman si ramping jahat menahan tawa.
“Nggak dobel?” Si jahat pura-pura bloon.
“Nggak, tapi lima kali lipat.”
Mereka bertiga tertawa.
Si gendut menghela nafas, tersenyum, “Sebenarnya ya, tapi
saya minta maaf harus bilang ini. Kalau ongkos naik angkot disesuaikan dengan
berat badan penumpangnya, maka orang-orang yang kurus kering kayak kalianlah
yang rugi. Tidak ada sopir angkot yang mau menaikkan kalian, karena bayarnya
terlalu murah, berisik pula.”
Langit-langit angkot lengang. Tawa tiga cewek ramping jahat
itu tersumpal. Sedetik kemudian, penumpang lain dan sopir angkot bertepuk
tangan. Keren. Membuat tiga cewek jahat itu terpaksa menahan malu buru-buru
turun.
***
Vin tertawa lebar saat selesai menceritakan kembali anekdot
lama itu, “Ayolah, Jo, lucu sekali bukan?”
Jo hanya mengaduk milkshake di hadapannya. Bibirnya
tidak menyungging bahkan sesenti senyum. Bagi Jo anekdot itu sama sekali tidak
lucu. Lagipula dia sudah sering mendengarnya.
Demi melihat Jo yang tetap memasang wajah masam, tawa Vin
terhenti, digantikan helaan nafas, “Nggak asyik loh, Jo, kalau sepanjang malam
kamu cuma diam, memasang wajah kesal seperti ini.”
Dua jam lalu, Vin sebenarnya sedang asyik bekerja, lembur
malam-malam menyelesaikan laporan bulanan kantor, ketika Jo meneleponnya
mengajak makan malam. Mereka berdua teman dekat, karib sejak sekolah menengah
atas dulu. Bagaimana tidak karib? Menurut definisi kecantikan versi industri
kosmetik saat ini, Vin yang jerawatan, rambut keriting jingkrak, wajah tirus,
ditambah berkulit gelap pula, memang cocok punya teman Jo, yang mirip sudah
dengan deskripsi cerita anak gendut tadi.
Mereka berdua dipertemukan sejak masa orientasi sekolah,
diolok-olok kakak kelas, dijemur berdua, lantas berteman baik hingga detik ini,
melewati tiga tahun SMA, empat tahun kuliah, dan enam tahun bekerja. Vin adalah
staf administrasi perusahaan kosmetik, Jo adalah petugas tiketing sebuah biro
perjalanan. Setidaknya, meski masa-masa sekolah mereka terasa ‘kejam’, mereka
bisa melewatinya dengan baik.
“Ayolah, Jo, dunia tidak berakhir hanya gara-gara seorang customer
biro perjalanan menghinamu, bukan?” Vin kembali membesarkan hati, melirik
jam di pergelangan tangan, ini sudah dua jam mereka duduk di sebuah kafe dekat
kantor Jo.
“Iya, dunia memang tidak berakhir.” Jo menjawab sarkas,
“Gunung-gunung seharusnya sudah meletus dari tadi, atau lautan sudah terbelah
kalau memang kiamat. Dan kita tidak bisa lagi duduk santai menikmati minuman.
Kita sudah berteriak-teriak histeris seperti di film. Arrgghh… Arghhh….”
Vin menatap ekspresi dingin Jo, menelan ludah, setengah
antara tertawa, setengah hendak mengeluarkan suara puh, menggaruk rambut
keriting jingkrak di kepalanya, aduh, kenapa urusan ini jadi panjang sekali.
Walaupun teman karib, Vin keberatan duduk tiada berguna seperti ini, tadi dia
sudah menolak ajakan Jo, dia sibuk. Tapi demi mendengar suara Jo yang nelangsa,
memohon, baiklah, laporan bulanan yang super penting ini ditunda, urusan bos
yang marah-marah nanti saja. Kode darurat. Dia memilih menemani teman
terbaiknya.
Vin
pikir ini hanya kali kesekian Jo curhat, mengadu. Biasanya, setelah
menghabiskan segelas milkshake, mood Jo akan lebih baik, mereka bisa
kembali bekerja. Sekarang? Itu sudah gelas keempat bagi Jo—bagaimana tidak jadi gendut itu
badan, diberikan asupan kalori tingkat tinggi hanya dalam hitungan dua jam. Dan
melihat gelagat wajah Jo, entah masih berapa gelas lagi sebelum perasaan Jo
lebih baik.
“Ayolah, Jo, bukankah ini sudah sering terjadi? Yang menghina
belum tentu lebih baik, terlepas dari yang dihina juga belum tentu baik. Eh,
maksudku, kau juga sudah lebih dari dewasa untuk mengerti kalau ucapan mereka
tidak ada artinya. Tidak akan membuat kau lebih jelek, lebih gendut, misalnya.”
Vin berusaha bergurau.
Jo melotot, pipi tembamnya memerah marah.
“Sorry.” Vin nyengir.
Sebenarnya muasal masalah Jo simpel.
Tadi siang Jo melayani salah-seorang customer biro
perjalanan yang berencana melakukan perjalanan honey moon. Entah kenapa,
konsentrasi Jo rendah sekali, dia melakukan kesalahan berkali-kali, mulai dari
salah memesan tiket penerbangan, salah memesan kelas hotel, bahkan dia ‘tega’
salah membuat rute pasangan itu tertukar. Customer itu jengkel, menunggu
lama, tetap saja tidak selesai-selesai. Akhitnya melempar itinerary perjalanan,
sambil berseru minta dipanggilkan manajer, “Aku tidak mau dilayani staf yang
satu itu. Sudah lambat, berkali-kali salah, bahkan dia sekalipun tidak meminta
maaf sudah membuat calon istriku terbang ke Turki, sementara aku terbang ke
Afganistan. Dia pikir itu lelucon yang baik. Lihat, bahkan gajah jumbo itu,
paus bunting itu, whatever siapa namanya, tidak tersenyum sedikit pun
sejak melayaniku tadi.”
Di tengah situasi tegang, ada customer yang
marah-marah, mendengar frase gajah jumbo dan paus bunting keluar, staf tiketing
lain yang sejak tadi menonton sontak menahan tawa, menyisakan Jo yang tertunduk
sakit hati, dan manajer biro perjalanan yang berkali-kali minta maaf.
Menjanjikan agar segera mengurusnya.
“Cantik itu relatif, Jo.” Vin menatap gelas milkshake di
hadapannya, tersenyum, memecah lengang barusan, “Kau tahu sendiri bukan, aku
bekerja di perusahaan kosmetik. Aku tahu bagaimana strategi dan bisnis
kecantikan bekerja.”
“Apa yang mereka bilang? Cantik harus putih? Well, jika
akhirnya banyak orang meyakini kalimat tersebut, itu tidak lebih karena
marketing perusahaan kosmetik sukses besar. Di negara-negara Asia, misalnya,
yang kebanyakan berkulit cokelat, tentu saja perusahaan kosmetik tidak akan
koar-koar beriklan, cantik itu cokelat. Mau menjual produk kemana dia kalau
semua sudah berkulit cokelat?
“Dan sebaliknya, di negara-negara Eropa, Amerika, yang
kebanyakan berkulit putih, perusahaan kosmetik pastilah berlomba-lomba bilang
cantik itu cokelat, membuat banyak orang ramai-ramai melakukan tanning,
membeli produk menggelapkan kulit, dan sebagainya. Itu hanya permainan
kampanye, kepentingan bisnis. Tidak lebih tidak kurang. Masuk akal, kan?”
“Terserah, cantik itu mau putih, mau cokelat.” Jo masih
menjawab sarkas, “Yang pasti tidak ada di belahan dunia ini kalau cantik itu
gendut seperti gajah jumbo atau paus bunting.”
Vin tertawa kecil, menghela nafas, mulai putus asa, “Ayolah,
Jo. Itu hanya lelucon. Lagipula, customer itu sedang jengkel karena kau
selalu begitu. Setiap kali melihat teman menikah, tiba-tiba bersedih hati tanpa
alasan, melayani customer hendak honey moon, bersedih hati, tidak
semangat seperti ikan kehilangan tulang, malah benci. Bahkan bukankah beberapa
waktu lalu saat membaca berita pernikahan Pangeran Inggris saja kau memutuskan
berhenti menonton televisi, berhenti membaca koran berhari-hari karena bersedih
hati. Padahal apa salah mereka kalau mereka menikah, punya pasangan, sementara
kita tidak laku-laku?”
Malam semakin larut, Vin melirik lagi jam di pergelangan
tangannya, kafe itu semakin ramai sebenarnya, banyak pekerja yang menunda
pulang, malas melewati macet, memutuskan duduk ngobrol bersama yang lain.
Sebenarnya perasaan Jo sudah jauh membaik sejak melihat Vin
melambai tangan, masuk ke dalam kafe. Tapi mau dibilang apa, lihatlah, terpisah
satu meja, di seberang sana, pria idaman satu gedung, Erik Tarore, si tampan,
gebetan Jo, sedang duduk menikmati minumannya, dan yang membuat hati Jo
tiba-tiba kesal, si tampan itu satu jam lalu ditemani oleh tiga, empat gadis
cantik nan ramping, yang cuih, berebut perhatian. Dasar norak. Tidak bisakah
mereka sedikit terhormat sepertinya? Yang bahkan ketika satu lift saja dengan
si tampan itu, jantung berdetak lebih kencang, susah bernafas, menahan malu.
“Jo, hallo, kau mendengarkanku atau tidak sih? Aku harus
kembali ke kantor.” Vin memegang lengan Jo yang melamun, menatap seberang meja.
“Iya.” Jo menjawab pendek.
“Ini sudah hampir jam sembilan, kau harus segera pulang. Aku
panggilkan taksi ya.”
“Iya. Terserah.”
Vin mencubit lengan Jo.
“Sakit tahu.” Jo melotot.
Vin tertawa kecil, “Ingat loh, Jo, mau sesakit apapun rasanya
dihina orang lain, mau sesebal, sebenci apapun, Jo tidak pernah sendirian. Aku
akan selalu menjadi teman baik. Aku akan selalu bersedia mendengarkan. Deal?”
Kali ini, demi kalimat Vin barusan, Jo sedikit mengangkat
wajahnya, balas menatap wajah Vin yang tirus, jerawatan, rambut keriting
jingkrak di hadapannya. Jo menelan ludah, sungguh di mata Jo sekarang, wajah
Vin lebih cantik dari siapapun, wajah yang baik, dan akan selalu baik, “Terima
kasih, Vin”
“Nah, gitu dong. Tersenyum.” Vin sudah berdiri, “Aku
panggilkan taksi ya, nanti setelah Jo naik, aku harus bergegas ke kantor. Bisa
marah sepanjang minggu bosku kalau laporan bulanan itu tidak beres malam ini.”
Jo mengangguk.
Meskipun mereka sudah berteman hampir tiga belas tahun, usia
hampir tiga puluh, dengan masalah yang sama—masalah penampilan fisik, perangai
Jo dan Vin tumbuh berbeda sekali. Vin tumbuh dengan pemahaman baik. Sejak SMA
dulu dia tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain, sepanjang dia
bahagia, maka mau jelek, mau cantik orang lain menilai, dia selalu merasa
cantik.
Berbeda dengan Jo yang menolak paham—kalaupun dia sebenarnya
paham, menolak untuk menerimanya. Jo terus berkutat dengan tubuh tambunnya.
Pernah saking inginnya ingin bertubuh kurus, Jo memaksa diri melakukan diet
tanpa terkendali. Fantastis memang, berat tubuhnya turun separuh, membuat
pangling, tapi itu hanya bertahan beberapa minggu, sebelum berakhir di ranjang
rumah sakit. Dan saat dia kembali sehat, tubuhnya kembali membesar tanpa
kendali.
Itu tidak hanya terjadi sekali. Enam kali. Semua usaha Jo
untuk menguruskan badannya sia-sia, dan dia akhirnya memilih sisi negatif,
merutuki kenapa perutnya begitu agresif menyerap sari pati makanan, dan tetap
tidak mempan walaupun sudah dioperasi pemendekan usus. Setidaknya, dengan
kejadian tersebut, Jo tahu kalau Vin selalu bisa diandalkan. Vin yang meski
menurut definisi kecantikan se-galaksi bima sakti sejelek seperti dirinya, tapi
hatinya cantik tiada tara, teman terbaiknya.
Mereka berdua sejatinya adalah dua sahabat yang bahagia. Jika
mereka sedang berdua, pergi berlibur ke pantai, liburan ke gunung, atau
kota-kota eksotis, mereka berdua bahkan bisa mentertawakan diri sendiri, riang.
Mengolok-olok diri sendiri sebelum orang lain mengolok, tertawa puas.
Sayangnya, tidak setiap saat Vin ada untuk Jo, dan kejadian tadi siang menjadi
hitungan kesekian kalinya.
Jo sebenarnya adalah pekerja keras. Dia bersedia melakukan
apapun demi definisi kecantikan yang disepekati orang-orang. Dia bersedia tidak
makan berhari-hari, dia bersedia berolahraga berjam-jam, demi terlihat lebih
ramping. Kalau dia bersedia enam kali masuk rumah sakit karena berusaha
menguruskan badan, maka jangan ditanya lagi. Tapi sepertinya takdir gendut itu
tidak mudah dikalahkan. Entah apapun hikmahnya.
“Astaga, tentu saja Tuhan adil, Jo.” Vin buru-buru ber-hsss,
memotong kalimat Jo barusan, “Kita saja yang tega membuat definisi sendiri soal
kecantikan. Semua bayi terlahir cantik, menggemaskan. Semua anak-anak tumbuh
menjadi remaja dengan kecantikan masing-masing. Lantas dewasa juga dengan kecantikan
masing-masing.”
“Kata siapa?” Jo tidak mau kalah, “Ada yang memang sejak
lahir hidungnya sudah mancung, matanya sudah bagus, rambutnya bagus. Dan
bukankah juga ada yang sejak lahir sudah pesek, kulitnya hitam, rambutnya
jelek. Di mana coba letak adilnya? Kita tidak bisa memesan, kalau bisa, kita
semua pasti minta dilahirkan cantik.”
Itu percakapan kesekian kalinya. Beberapa tahun lalu. Mereka
sedang asyik liburan berdua, duduk menikmati matahari tenggelam, dan entah
kenapa tiba-tiba percakapan menjadi berubah sensitif—sebenarnya karena ada
pasangan bulan madu di dekat meja mereka. Itu lagi, itu lagi.
“Itu karena kita semua terlanjur menterjemahkan cantik
seperti itu, Jo.” Vin memegang lengan Jo, “Tuhan tidak pernah memberikan
definisi kecantikan. Astaga, Jo, kau lancang sekali barusan bilang Tuhan tidak
adil. Aku sampai merinding mendengarnya.”
“Memang.” Jo berseru ketus, “Kalau Tuhan adil, seharusnya
kecantikan itu diperoleh, bukan diberikan sejak lahir. Siapa yang paling keras
kerjanya, maka dia berhak paling cantik.”
“Ya ampun, Jo. Sudahlah, sudah.” Vin menepuk dahinya,
memutuskan untuk segera menghentikan diskusi, akan semakin buruk mood Jo
kalau percakapan tersebut diteruskan, dan tidak ada manfaatnya lagi, lebih baik
kembali menikmati sunset, tidak peduli dengan pasangan bulan madu yang duduk
mesra di sekitar mereka.
Berkali-kali Jo memikirkan soal itu, dari dulu, kenapa?
Kenapa ada manusia yang dilahirkan cantik, kenapa ada yang tidak? Di mana sisi
adilnya? Hingga malam ini, setelah tadi siang di hina oleh customer biro
perjalanan, bertemu dengan Vin, dan Vin menceritakan anekdot soal gadis gendut
yang menumpang angkot, hal tersebut terus berputar-putar di kepala Jo. Kenapa
Tuhan tidak adil?
Baiklah. Baiklah, dia akan meminta keadilan soal ini langsung
kepada Tuhan. Dia akan mempertanyakan langsung semua ini pada Tuhan. Maka malam
itu, dari bingkai jendela salah-satu rumah dua lantai yang masih menyala di
pinggiran kota kami, lewat tengah malam, saat banyak orang sudah jatuh
tertidur, lelap bermimpi, Jo dengan menangis terisak mengadu pada Tuhan.
“Wahai Tuhan, jika Engkau sungguh adil, maka kenapa tidak kau
jadikan saja kecantikan sebuah harga? Kenapa tidak seperti naik angkutan umum,
siapapun harus membayar dengan bekerja keras jika hendak memperolehnya?
Jadikanlah demikian, maka aku akan berhenti bilang Engkau tidak adil. Sungguh
jadikanlah demikian.”
Doa itu, bagai melempar enam dadu, dengan enam sisi-sisinya
sempurna bertuliskan kata amin.
***
Jo bangun kesiangan.
Cahaya matahari pagi lembut menerabas kerai jendela, menimpa
wajahnya. Jo menghela nafas, setidaknya, setelah semalaman berkeluh kesah,
lantas jatuh tertidur, perasaan hatinya lebih baik. Dia melangkah malas,
menyalakan MP3 player, memasang lagu favoritnya. Hari ini dia akan
datang telat saja ke kantor, setelah kejadian kemarin, semua karyawan pasti
paham kalau dia berhak sedikit diberi keleluasaan. Jo bersenandung, menggeliat,
menatap cermin.
Hei? Jo menelan ludah.
Siapakah itu di cermin? Kenapa ada gadis ramping di sana? Itu
bukan dirinya? Jo menepuk-nepuk pipi, eh sakit, ini pipinya bukan? Memeriksa
dagu, leher, lengan, betis, eh? Ini benaran dirinya bukan. Jo termangu sedetik,
lantas berseru bingung. Tepatnya sedikit takut. Aneh sekali bukan saat kalian
melihat cermin, tapi bukan diri kita yang memantul di cermin tersebut.
Jo
berlarian menuruni anak tangga, ke dapur. Sepagi ini Mama dan adiknya pasti
sedang sarapan. Setiba di dapur, ya ampun, kenapa pagi ini semua jadi terlihat
tidak beres. Jo berseru tertahan, lihatlah, adik perempuannya yang SMA, yang
sama gendut dengan dirinya juga terlihat ramping. Juga Mama, tidak ada badan
besar yang menyesaki kursi.
“Kamu baru bangun, Jo?” Mama bertanya.
Jo menggeleng-menggelengkan kepala, aduh, apa yang sebenarnya
terjadi. Itu benar suara Mama-nya, tapi kenapa Mama terlihat kurus? Wajah Mama
sih tetap biasa-biasa saja, dia mengenalinya, tapi kenapa Mama tidak gendut?
Biasanya saking besarnya Mama, kursinya tidak terlihat. Sekarang?
“Telur dadarnya aku habisin ya, Kak?” Adik perempuannya
bertanya, lantas tidak menunggu jawaban, sudah santai memidahkan satu porsi extra
large telur dadar jatah Jo ke piringnya.
Ya ampun, ini ada apa? Jo mengusap-usap mata, itu juga betul
suara adiknya, tapi kenapa adiknya yang rakus, tukang makan segalanya terlihat
kurus pagi ini? Apa dia tidak salah lihat? Tentu saja tidak, dia masih
mengenali wajah adiknya. Wajah orang paling jahil di rumah.
Ada apa? Apa yang telah terjadi.
Jo benar-benar tidak menyangka, Tuhan telah mengabulkan doa
anehnya tadi malam. Sepagi ini, seluruh dunia, seperti sebuah komputer atau
telepon genggam, telah di restart, telah di booting ulang
sedemikian rupa. Maka seluruh wanita di dunia memiliki wajah, tubuh dengan
tampilan yang sama, standar. Sama semua. Dengan definisi kecantikan lama, itu
berarti semua sama jeleknya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mudah, dalam bahasa paling sederhana bisa dijelaskan:
kecantikan sekarang adalah mata uang. Kecantikan tidak lagi diperoleh sejak
lahir, tapi harus dibeli.
Bagi wanita, mata uang di seluruh dunia dihapuskan, hilang
begitu saja. Transaksi sekarang dilakukan hanya dengan kecantikan. Masih
bingung? Begini ilustrasinya. Kalian bekerja menjadi karyawan, maka setiap
bulan kalian memperoleh gaji, bukan? Nah, dengan restart ulang
kecantikan seluruh dunia sejak pagi itu, maka kalian digaji atau dibayar dengan
kecantikan. Bagaimana membayarnya? Memangnya kecantikan itu bisa ditransfer.
Dalam cerita ini jawabannya: bisa. Dagu kalian lebih indah, mata lebih menawan,
pipi lebih memerah, rambut lebih elok, hasil kerja keras kalian ditransfer
seketika menjadi kecantikan.
Sebaliknya, saat kalian hendak membeli pakaian, minum kopi di
kedai kopi, membeli makanan fast food, naik angkutan umum, membeli
sepatu, buku, maka kecantikan kalian juga sebagai alat bayarnya. Belah dagu
kalian berkurang sedikit, atau lesung pipi kalian memudar sedikit, atau kulit
wajah jadi ada bercaknya, atau rambutnya jadi berketombe. Otomatis. Tiba-tiba
saja, telah ada alat canggih yang ditanamkan dalam tubuh wanita untuk melakukan
transaksi tersebut.
Nah, jika kalian habis menang lotere berhadiah kecantikan
tiada tara, maka kalian bisa menjelma menjadi mahkluk paling cantik sedunia.
Dan sebaliknya, jika kalian harus membeli rumah, mobil, atau barang-barang
mahal, kalian bisa bangkrut, menjadi wanita paling jelek. Dan saat sudah
terlalu jelek, kalian hilang dalam catatan penduduk bumi.
Ini menakjubkan bagi Jo.
Mekanisme kecantikan baru dunia telah hadir, Jo benar-benar
merasa takjub, antusias, campur aduk menjadi satu. Apa yang tadi telah
dijelaskan, Jo adalah pekerja keras sejati dalam urusan kecantikan. Dia boleh
jadi selama ini tidak pernah termotivasi bekerja lebih baik demi uang,
kekayaan, tapi sekarang, dia bekerja gila-gilaan demi sebuah kecantikan.
Pagi itu Jo berangkat bergegas ke kantor. Semangat sekali.
Tersenyum lebar di atas bus umum, menyapa kondektur dan sopir dengan bahagia,
sementara cling, mesin pembayaran bus telah bekerja, mengurangi sedikit
kecantikan Jo secara otomatis. Lihatlah, di dalam bus semua orang terlihat
sama, sama jeleknya. Melintasi lobi gedung, tertawa senang, menyapa cleaning
service yang selama ini sering menggodanya, kapan Jo mendapat pasangan.
Bahkan dia tetap tersenyum—meski masih tersengal—saat satu lift dengan Erik
Tarore. Pemuda itu balas tersenyum padanya—untuk pertama kali dalam sejarah.
Jo semaput menerima senyuman itu.
Bagaimana Erik tidak berusaha ramah, sejak tadi pagi, dia dan
milyaran cowok di dunia sedang bingung, kenapa semua wanita tiba-tiba terlihat
berbeda? Kenapa eh, jadi jelek semua? Aduh urusan ini aneh sekali. Jadi jika
Erik yang playboy selama ini hanya ramah dengan gadis yang cantik dan
seksi-seksi saja, pagi ini dia yang bingung, terpaksa patah-patah ramah ke
semua gadis satu gedung.
Mekanisme itu ternyata tidak berlaku bagi dunia laki-laki,
mekanisme itu hanya berlaku bagi wanita. Bagi laki-laki mereka tetap
menggunakan uang normal sebagai alat bayar, tidak ada yang berubah. Mereka juga
tetap dengan tampilan wajah dan fisik selama ini.
“Vin, ini hebat sekali bukan?” Jo tertawa.
Mereka sedang makan siang di dekat kantor Jo. Meski Vin masih
sibuk menyelesaikan laporan bulanan yang tertunda tadi malam, dia tidak kuasa
menolak ajakan Jo yang sengaja menyeretnya makan siang bersama.
“Bayangkan, Vin, Erik.”
“Erik siapa?”
“Erik Tarore, pria paling tampan di gedung kantorku tersenyum
padaku.” Jo memegang kepalanya tidak percaya.
“Oh ya?” Vin mencoba ikut senang. Sudah menghabiskan makan
siangnya.
“Aku bersumpah, enam bulan dari sekarang aku akan menjadi
wanita tercantik di seluruh kota, dan Erik, Erik akan bilang kalimat cinta itu.
Nah, kali ini aku traktir kau, Vin.” Jo berkata semangat sambil membayar makan
siangnya di kasir.
Cling, mesin pembayaran kecantikan bekerja sebagaima
mestinya, satu jerawat muncul di wajah Jo. Tidak mengapa, dengus Jo dalam hati,
riang, dia akan segera membeli kecantikan dengan bekerja keras, jerawat ini
akan hilang.
Sementara
Vin hanya mengangguk, menghela nafas pelan. Bagi Vin yang memiliki pemahaman
baik, mau berubah ribuan kali mekanisme kecantikan dunia, tidak akan membuatnya
menjadi bahagia atau sedih, karena kebahagiaan itu selalu ada di dalam hati.
***
Jo membuktikan ucapannya. Dengan motivasi tiada tara,
mendapatkan fakta kalau gaji bulanannya terlalu kecil, wajahnya hanya sedikit
memutih, badannya hanya sedikit lebih seksi, cling saat gaji bulanannya
dibayar, lebih banyak belanja kecantikan untuk membayar keperluan hidupnya
selama sebulan, Jo akhirnya memutuskan keluar dari kantornya.
Jo mendirikan biro perjalanan online sendiri. Dengan passion
sebesar itu, dalam dunia enterprenuer, wiraswasta hanya soal waktu
bisnis Jo menggurita. Paket perjalanan yang dia jual laku keras, dia mulai
merekrut banyak karyawan. Awalnya hanya hitungan jari, persis di bulan keenam,
dengan bantuan sindikasi kecantikan dunia (di jaman lama disebut sindikasi
keuangan dunia), bisnis Jo membesar tiada tara.
Cling, cling, cling, kecantikan (dalam definisi lama disebut
uang) mengalir ke wajah Jo (dalam definisi lama disebut tabungan, deposito), Jo
berubah cantik raya sekali (dalam definisi lama disebut kaya raya sekali).
Semua orang akan pangling, gajah jumbo atau paus bunting itu sudah
bagai bidadari dari langit. Semakin keras Jo bekerja, semakin cantik dia.
Sementara Vin? Inilah mulai rumitnya mekanisme baru ini. Yang pertama kali
tumbang tentu saja bisnis kosmetik. Ketika kecantikan harus dibeli dengan kerja
keras, perusahaan-perusahaan kosmetik bangkrut, ribuan karyawannya dipecat, dan
mereka jatuh jelek (jatuh miskin dalam definisi lama). Jangan tanya boyband,
atau apa saja yang selama ini hanya jualan ketampanan atau kekerenan, mereka
gugur bagai daun kering yang rontok.
Siapa yang perlu produk kecantikan kalau cantik sudah menjadi
mata uang. Siapa pula yang sibuk mengidolakan paras-paras tampan sekarang,
mereka punya masalah sendiri. Malas bekerja, alamat wajah semakin jelek. Siapa
yang rajin dan bekerja keras, dialah yang memenangkan kompetisi baru ini.
Nah, dalam kompetisi kecantikan sesadis itu, gadis-gadis di
dunia berebut pekerjaan, tentu saja menemukan pekerjaan tidak mudah lagi,
apalagi bagi bekas karyawan perusahaan kosmetik, tidak ada yang mau
merekrutnya. Vin menganggur enam bulan terakhir, karena itulah dia semakin
jelek karena terus membayar kebutuhan hidupnya dengan sisa tampilan wajah dan
fisik yang tersisa.
Kenapa Jo tidak membantu Vin? Masalahnya meskipun Vin punya
teman sekaya, eh, maksudnya secantik Jo, mekanisme itu tidak mengijinkan
transfer, hibah, hadiah, bahkan mewarisi. Kecantikan harus diperoleh—berbeda
dengan kekayaan uang dalam definisi dunia lama. Meskipun cantik raya, Vin tidak
bisa memberikan kecantikan kepada adiknya, atau kepada ibunya, apalagi kepada
Jo. Satu-satunya yang boleh hanya menanggung biaya hidup, menahan seseorang
lebih jelek lagi, itu bisa dilakukan.
“Kau tidak perlu terus membayar sewa apertemenku, Jo.” Vin
berkata pelan, mereka sedang makan siang bersama, “Aku pasti akan segera dapat
pekerjaan baru, setidaknya untuk membayar keperluan sendiri.”
Jo hanya berdehem sekilas, dia sibuk dengan layar laptopnya,
sibuk bekerja, berkali-kali melirik jam di pergelangan tangan. Tadi dia
sebenarnya malas makan siang bersama Vin, waktunya berharga sekali, demi
kecantikan.
“Aku lebih suka Jo yang lama.” Vin berkata pelan, “Kau
sekarang berubah sekali. Pendiam. Dingin.”
Jo lagi-lagi hanya berdehem, tidak memperhatikan.
“Sudah berapa lama kita tidak makan siang sambil tertawa,
mentertawakan olok-olok orang misalnya. Pergi berliburan berdua.” Wajah Vin
yang semakin jelek terlihat agak pucat siang itu, hanya suaranya saja yang
tetap terdengar riang.
“Aku sibuk, Vin.” Jo memotong.
“Iya, kau terlihat sibuk sekali.” Vin menelan ludah.
Hening sejenak.
“Apakah kau baik-baik saja?” Vin ragu-ragu bertanya, Jo
semakin serius menatap layar laptopnya.
“Tentu saja aku baik-baik saja, bukan?” Jo menyergah,
mengangkat dagunya tinggi-tinggi, memasang gaya, lihatlah, dia cantik sekali,
kaya raya, eh, cantik raya, apanya yang tidak baik-baik saja?
“Eh, maksudku apakah kau bahagia, Jo?”
Jo tertawa, pertanyaan yang aneh. Jelas-jelas dia bahagia.
Melirik sekali lagi pergelangan tangannya, tidak sabaran, menatap ke depan. Jo
tertawa lebar lagi, lihat, di pintu kafe, melambai seorang pemuda tampan, Erik
Tarore, nah, sudah sebulan terakhir Erik seperti anak kecil selalu melakukan
pendekatan padanya. Apanya yang tidak bahagia?
“Aku
harus pergi, Vin. Maaf, kau habiskan saja makan siangnya. Aku harus menghadiri
acara para sosialita cantik jelita di hotel mewah, ditemani kau tahu, siapa
lagi, si Erik. Kalau ada perlu, telepon aku, nanti akan aku tanggung semua
biaya hidupmu.” Jo sudah berdiri. Cling, mesin kecantikan berbunyi, memotong
kecantikan Jo sebagai pembayaran makan siang mereka. Oh dear, dengan
kecantikan Jo sekarang, itu bagai debu saja pengurangannya.
***
Enam bulan berlalu lagi.
Jo semakin hebat. Bisnis biro perjalanan Jo bahkan sebentar
lagi akan berjualan saham di bursa. Mendunia. Mengglobal. Sementara Vin,
ternyata dia dilarikan ke rumah sakit. Dia tetap menganggur, dan karena tidak
enak hati terus ditanggung Jo, dia diam-diam menolak pembayaran tersebut,
membuat kondisinya semakin buruk.
Dalam mekanisme baru itu, tentu saja banyak yang menjadi
korban. Sama persis seperti dunia dalam definisi lama. Di dunia lama, bukankah
di mana-mana tetap saja ada yang miskin, kumuh, tertinggal. Ada yang miskin karena
memang pemalas, tidak berpendidikan, tidak memiliki motivasi, tidak punya
akses, ada juga yang memang bernasib miskin, apes. Jutaan jumlahnya,
wanita-wanita jelek, duafa kecantikan. Siapa peduli? Sama seperti
definisi dunia lama, siapa peduli dengan orang-orang miskin? Urus saja urusan
masing-masing.
“Kau seharusnya bilang jauh-jauh hari kalau kau masuk rumah
sakit, hah.” Itu kalimat ketus Jo, dia sedang menjenguk Vin, terlihat repot.
“Aku tidak mau mengganggu kesibukanmu.”
“Omong kosong. Justeru dengan mendadak seperti ini kau
benar-benar menggangguku. Aku sedang berada di acara fashion bersama
orang cantik sedunia di Paris. Kau membuat acara itu berantakan, tahu.” Jo
menjawab jengkel.
“Maafkan aku.” Vin tertunduk, wajahnya keriput, rambut
keritingnya semakin tidak terurus, tubuhnya kurus kering. Biaya hidup telah
menggerogoti sisa wajah dan tampilan fisiknya.
Vin sungguh tidak mau merepotkan siapapun, termasuk Jo teman
baiknya sejak SMA. Dia sudah melarang siapapun memberitahu Jo kalau dia masuk
rumah sakit, tapi adik Jo sendiri yang tidak tahan melihat kondisi Vin,
menelepon kakaknya, bilang sahabat terbaiknya masuk rumah sakit karena sudah
terlalu jelek, tidak ada lagi yang bisa membayari biaya berobatnya.
“Maafkan aku.” Vin menyeka ujung matanya. Berusaha tersenyum
menatap Jo. Lihatlah, teman baiknya adalah wanita tercantik di kota mereka saat
ini. Dia merasa bersyukur sekali pernah berteman dekat, merasa bangga.
“Ya hallo,” Jo tidak memperhatikan Vin, dia sedang sibuk menjawab
telepon, “Astaga, aku tidak bisa menghadirinya sekarang. Kalian bisa urus
sendiri, kan? Ayolah, becus sedikit bekerja, hah? Ya hallo? Aku sedang di rumah
sakit. Ada yang sakit, ya, hallo, merepotkan sekali memang.”
Vin menelan ludah.
“Ya hallo, tidak akan lama. Kalian urus sendiri saja.” Jo
masih berkutat dengan telepon, “Tidak ada yang perlu dibantu, ini hanya masalah
kecil, aku lagi bersama orang-orang jelek sakit, di rumah sakit jelek, kalian
tahulah.”
Vin tertunduk.
“Maaf, aku harus bergegas, Vin.” Jo sudah memasukkan telepon
ke tasnya, melambai ke lorong rumah sakit, Erik Tarore sudah datang
menjemputnya, “Aku akan membayar semua biaya rumah sakit. Bye.”
Punggung Jo hilang dari balik pintu, sambil berseru senang
menyambut Eriknya. Vin hanya tergugu. Tidak, dia tidak sedih mendengar kalimat
Jo, dia tahu, dari lubuk hatinya paling dalam, Jo tidak berniat demikian. Jo
tetap sahabat terbaiknya. Dia sedih karena betapa dia telah membebani kehidupan
Jo, kenapa dia terus tidak bisa memperoleh pekerjaan di mekanisme baru dunia.
***
Masalahnya, tanpa disadari Jo, mau bagaimanapun cara
memperoleh kecantikan tersebut, mau dengan kosmetik atau dengan bekerja keras,
tetap saja kecantikan itu bersifat relatif. Bagi cowok-cowok dunia yang versi
kecantikannya tidak berubah, maka tetap saja siapa paling cantik itu relatif.
Itulah yang terjadi pada Jo tiga bulan kemudian.
“Kau, kau laki-laki jahat!” Itu teriakan histeris Jo.
Lihatlah, Erik Tarore, pemuda idamannya, ketahuan tega berselingkuh
dengan gadis lain.
“Apa aku kurang cantik, hah?” Jo menangis.
Erik Tarore menelan ludah, mengangkat bahu. Pesta-pesta
sosialita cantik dunia memberikan dia kesempatan berkenalan dengan gadis cantik
raya lainnya, itu lumrah bukan? Dia bisa beralih ke lain hati? Bukankah dalam
mekanisme cantik lama juga begitu. Lagipula, Jo hanya paling cantik di kota
mereka saja, dibandingkan negara lain, tempat lain, lebih banyak yang lebih
cantik raya.
Jo menangis, membanting pintu mobil, menekan pedal gas
kencang-kencang, meninggalkan Erik yang berdiri mematung di trotoar. Sudah
beberapa bulan terakhir dia curiga kenapa Erik berubah, terlambat menjemputnya,
mulai bilang banyak alasan. Apa kurangnya dia bagi Erik? Dia yang membawa Erik
berkenalan dengan dunia itu? Dia yang menyanjung Erik. Dasar laki-laki
pengkhianat. Playboy murahan.
Tetapi itu bukan yang terburuk. Yang terburuk adalah, dalam
sebuah tatanan dunia baru, proses keseimbangan selalu terjadi. Itu hukum alam.
Ketika kecantikan itu tidak bisa dihadiahkan, dihibahkan atau diwarisi, tapi
kecantikan itu harus diperoleh, maka orang-orang jahat bisa memaksa
memperolehnya dengan sebuah kejahatan. Sama dengan kekayaan dalam definisi
lama.
Maka itulah yang terjadi pada Jo.
“Maafkan aku, Vin.” Jo lompat memeluk Vin saat pintu
apartemen terbuka. Pipinya berlinang air mata.
Lihatlah, Jo yang berubah jelek kembali, Jo yang sama seperti
saat dunia di restart dua tahun lalu.
“Tidak apa, Jo. Tidak apa.” Vin tersenyum tulus.
Apa
yang terjadi? Persis saat bisnis biro perjalanan milik Jo akan go public,
menjual saham ke bursa, teman sosialita super cantik dari kota lain
mengkhianatinya. Itu rekayasa keuangan, eh kecantikan yang hebat, dan dalam
sekejap, bisnis milik Jo berpindah tangan. Dia dicurangi habis-habisan melalui
skandal kecantikan abad itu. Dalam bahasa mudahnya, Jo bangkrut. Semua
kecantikan itu langsung disedot oleh mesin, cling, cling, cling, jutaan kali,
Jo kembali seperti dulu.
Apa
yang terjadi? Persis saat bisnis biro perjalanan milik Jo akan go public,
menjual saham ke bursa, teman sosialita super cantik dari kota lain
mengkhianatinya. Itu rekayasa keuangan, eh kecantikan yang hebat, dan dalam
sekejap, bisnis milik Jo berpindah tangan. Dia dicurangi habis-habisan melalui
skandal kecantikan abad itu. Dalam bahasa mudahnya, Jo bangkrut. Semua
kecantikan itu langsung disedot oleh mesin, cling, cling, cling, jutaan kali,
Jo kembali seperti dulu.
“Maafkan
aku, Vin.” Jo tersedu. Dia benar-benar dalam posisi buruk. Kehilangan Erik
Tarore, juga kehilangan bisnis, dan yang lebih menohok kehilangan kecantikan.
Vin
membelai lembut rambut Jo, “Kau lupa, Jo, mau sesakit apapun kau saat ini, mau
sesebal, sebenci apapun, Jo tidak pernah sendirian. Aku akan selalu menjadi
teman baik. Aku akan selalu bersedia mendengarkan. Deal?”
Ah,
bagi Vin, yang seminggu terakhir telah bekerja sebagai cleaning service,
mau sejelek apapun dirinya dan orang lain, kebahagiaan tetap berasal dari hati
sendiri. Sepanjang dia bahagia, maka tidak penting penilaian orang lain. Bagi
Vin, teman terbaik adalah teman yang bisa berbagi satu sama lain, dan Jo adalah
teman terbaiknya, dia bisa berbagi kebahagiaan, juga kesedihan.
***
Malam
itu, dari jendela kamar lantai dua di salah satu rumah pinggiran kota kami,
kamar milik Jo yang lampunya masih menyala. Lewat tengah malam, saat
orang-orang kebanyakan sudah jatuh tertidur, Jo sedang terisak berdoa.
“Ya
Tuhan, Vin sungguh benar. Kau selalu memberikan kecantikan yang sama pada
setiap bayi. Kau selalu adil. Kamilah yang sibuk memberikan definisi kecantikan
itu. Kamilah yang terlalu bodoh untuk paham. Maafkan aku, sungguh maafkan aku.
“Ya
Tuhan, berikanlah aku selalu hati yang cantik, seperti hati yang dimiliki oleh
Vin, teman terbaikku. Sungguh dialah gadis paling cantik di dunia, yang selama
ini tidak kusadari, dan aku tidak pernah belajar darinya.”
Doa
Vin melesat ke atas, bagai melempar enam buah dadu, juga tetap dengan enam
sisi-sisinya bertuliskan kata amin.
***
Comments
Post a Comment
Terima Kasih telah berkunjung ke Blog saya, silahkan tinggalkan komentar anda dengan sopan.