Part 1
Guru Killer
Matanya menatap kami dengan tajam. Ku pikir itu semacam teror
atau ancaman yang sewaktu-waktu bisa membunuh kami kapan aja. Kami merasa
seperti di awasi oleh pasukan khusus yang bisa kapan aja nembak kami ketika
melakukan kesalahan atau perlawanan.
Dia adalah salah satu guru mata pelajaran produktif yang
paling di takuti oleh para muridnya, sebenarnya sih bukan menakutkan. Tapi
mengerikan, ya ngeri lah dengan cara ajar nya yang cukup ketat dan bisa bikin
cape. Mau itu belajar teori di kelas atau praktek di lahan, semua nya sama aja
bikin cape fisik dan bikin cape hati. Dia punya mata yang besar dan terlihat
galak, serta lipstik merah di bibirnya menambah kesan galaknya beliau.
Dan sialnya lagi tahun ini beliau adalah ketua prakerin
untuk angkatan kami. Mendengar kabar itu aku pun mulai berpikir gimana nanti
susahnya dapat tanda tangan beliau, mungkin ada yang proposalnya di coret
abis-abisan atau bahkan di lempar karna salah
.
Aku pun sempat mendapat tawaran dari beliau untuk magang di
tempat yang akan di bimbing oleh beliau.
“
Udah dapat tempat magang ? “ ujar beliau, dengan nada pelan dan sopan
“
Udah, tapi ga pasti ! “
“ oh
gitu, ibu Cuma mau nawarin. Kalau belum ada tempat magang, tepat nya agak jauh
sih di PT.GMK cuman kalau udah ada ya ga papa ! “
Dan
dua teman ku yang ikut di panggil bersama dengan ku cuma diam dan langsung mau
aja, semacam robot yang udah di setting untung mengikuti kemauan beliau tanpa
bisa menolak.
Aku pun dapat tempat magang di
kantor BP3K , di daerah yang ga jauh dari rumahku. Tempat nya ga sejauh dari
rumah ke sekolah, kadang jarak itu mempengaruhi minat ku untuk menghadiri suatu
tempat.
Selesai sudah kami membuat proposal
dengan format yang telah di berikan, kami cuman edit sana, edit sini dan
selesai. Waktunya untuk minta tanda tangan dari kepala sekolah dan ketua
prakerin. Salah seorang teman ku berkata “minta tanda tangan kepsek aja dulu, ketua
prakerin belakangan aja!” ya kalau kupikir sih lebih baik begitu. Tapi nyata
nya kepsek ga mau ngasih tanda tangan kalau ketua prakerin belum menyetujui
proposal tersebut.
Terpaksa kami harus masuk kandang
srigala dulu. Iya srigala, nama beliau adalah Sri Wahyuni. Kami biasa nyebut
beliau srigala. Dan terbukti sudah pikiran ku proposal ku sudah di coret-coret
beliau. Dan mendapat tanda tangan pada proposal ke empat. Tragis sekali hidup
ku harus mengulang sebanyak tiga kali. Bahkan teman sekelas ku yang lain ada
yang mengulang sampai lima kali.
Dan ternyata ada salah satu teman ku
yang proposalnya di lempar, karna mereka masuk ke kandang srigala pada waktu
yang tidak tepat alias pada saat beliau lagi pusing-pusing nya sama urusan
ekstra dan lain-lain. Alhasil mereka kena semprot dan cuman bisa ninggalin
proposal tersebut karna ga mau lebih lama mendengar omelan beliau.
Berakhir sudah tentang urusan
magang, tapi penderitaan kami masih berlanjut. Sekarang kami di sibukkan sama
materi tentang memangkas, yang kami pangkas yaitu pelepah sawit. Ga ada masalah
sih sama meteri nya yang masalah itu alat yang di gunakannya, dodos dengan
pegangan yang terbuat dari kayu ulin yang lumayan besar dan berat untuk di
gunakan karena mata dodos yang terbuat dari besi yang cukup berat.
Matanya yang tak pernah lepas dari
kami saat melakukan praktek membuat teman-teman ku yang malas jadi cukup rajin.
Sedikit menguntungkan tetapi tetap saja kaum perempuan melakukan hal yang sama.
Aneh nya beliau lebih galak sama perempuan dari pada laki-laki. Lumayan kecewa
karna tau beliau agak pilih kasih, kadang perempuan dan laki-laki ga ada
bedanya di mata beliau. Jadi perempuan yang bisa atau engga melakukan tugas
praktek hukuman nya sama aja dengan laki-laki. Lebih parahnya lagi penilaian
beliau pun sama. Miris.
Dan ternyata penderitaan kami belum
berakhir. Beliau mengadakan UTS (Ulangan Tengah Semester) pada 3 mata
pelajaran, yaitu Memberi Naungan, Melaksanakan Panen dan Melaksanakan Pasca
Panen. Sialnya aku tidak mengikuti ulangan terakhir yaitu mapel pasca panen
karna ketidakhadiranku di sekolah. Ulangan terakhir di lakukan terpisah karena
catatan materi yang beliau berikan belum cukup. Dan beliau marah karena catatan
kami masih sedikit. Kan yang ngasih catatan beliau tapi malah kami yang di
salahkan, beliau malah lebih sering ngasih catatan tentang mapel memupuk.
Tersiksa sekali ku rasa sekertaris
di kelas ku karena harus terus menerus mencatat di papan tulis dan harus
menulis kembali di buku catatan nya sendiri. Beliau tidak mengizinkan kami
untuk mengcopy materi beliau. Kami harus terus kejar-kejaran sama materi beliau
karna dalam seminggu ada 3 kali pertemuan dan total waktu nya ada 10 jam. Jika
ketinggalan materi maka siap-siap buat nyatet sendirian atau engga bakalan
susah kedepannya.
Lagi-lagi penyiksaan berlanjut,
tepatnya pada hari jum’at, 29 april 2016. Korban kali ini adalah semua siswa
putri yang ada di kelas ku, berjumlah enam orang termasuk aku. Pada saat bel
masuk berbunyi awalnya temen-temen masih pada sibuk nyalin jawaban matematika.
Pada pukul 08.15 WITA, beliau masuk kelas dan keadaan berubah menjadi bisu
tanpa ada suara. “Baca do’a dulu !” ujar beliau, “Sebelum memulai pelajaran
pada pagi hari ini marilah kita berdo’a. Berdo’a di mulai !” kata salah satu
teman ku.
Setelah itu beliau melakukan absensi.
“Hari ini praktek. Tugasnya melakukan sanitasi pada komoditas buah naga. Di
bersihkan semua! Bukan hanya daerah piringan buah naga tapi semua jalan yang di
tumbuhi gulma. Kalau sudah selesai, baru boleh istirahat. Ada pertanyaan
tentang tugasnya ?” Kami semua masih diam ga menjawab apa-apa, “Kalau ga ada,
silahkan di lakukan tugasnya!”. 3 menit kemudian penghapus melayang. Kacau
pikir ku “Srigala mau ngamuk lagi” ujar ku membatin.
Sesampainya di lahan kami pun
melakukan sanitasi dengan santainya karena cuaca pada siang itu sangat terik
dan panas nya cukup menyengat tubuh. Karena hanya mendapat 3 cangkul kami pun
melakukan sanitasi secara bergantian. Banyak siswa laki-laki yang tidak
melakukan sanitasi. Kadang hal itu membuat ku mengumpat seperti ini “katanya
laki-laki, ko takut panas, takut kotor dan ga mau cape. Kenapa ga jadi banci
aja kalian itu.”. karena lelah melakukan sanitasi aku pun berteduh di samping
jajaran kelapa sawit. Belum sampe 5 menit salah satu teman ku berteriak
“Sekarang putranya istirahat, sekarang putrinya untuk melakukan sanitasi”
terkejut ku mendengar itu, karna ragu ku tanya temen ku yang bilang tadi “Siapa
yang nyuruh putrinya untuk melakukan sanitasi semua sisanya ?” “Maaf dah, itu
ibu Sri yang nyuruh bilang gitu” aku pun menarik nafas berat. Di depan jajaran
pohon sawit semua siswa laki-laki di kelas ku bersorak akan kemenangan mereka
yang tak perlu buang tenaga melakukan sanitasi, mereka bersorak “SEMANGAT
YAA!”. Kenapa jadi begini akhirnya ?
Andai ku tau kejadiannya bakalan
kaya gini, aku ga bakalan cape-cape buang tenaga dari awal. Mereka yang ga
praktek malah dapat enaknya doang. Ternyata 5 teman ku yang lain juga mengumpat
dan kadang mendo’akan hal buruk pada beliau. Hanya istigfar yang ku sebut
berurang kali selama melakukan sanitasi. Saat jam istirahat tugas pun selesai.
Hanya keringat yang membasahi kami, karena kelelahan aku dan teman sebangku ku
sangat mengantuk. Sial batin ku, saat sedang lelah guru matematika ku malah
masuk, itu pun masih dengan keadaan marah. Alhasil pelajaran matematika
berjalan dengan lelah membuat ku kurang paham dengan materinya padahal
materinya cukup gampang cuman mean, median sama modus.
Berakhir sudah hari penyiksaan yang
begitu panjang pada hari itu. Pada hari-hari berikutnya semua berjalan tidak
terlalu mulus, beberapa kali ku tidak menikmati proses belajar di kelas.
Terbesit pikiran konyol di kepala ku “Kenapa aku harus sekolah? Kenapa aku
harus menuruti kemauan guru? Kenapa aku masuk jurusan ATPH? Dan kenapa aku
harus bertemu dengan guru killer seperti beliau dan yang lain ? kenapa? Kenapa?
Kenapa?”
Berharap tidak ada didikan secara
paksa dan penyiksaan yang selalu keterkaitan dengan cara ajar beliau. Ada suatu
hari beliau tidak hadir mengajar karena ada urusan di luar sekolah. Betapa lega
dan bahagianya diriku pada hari itu, ternyata tidak hanya aku yang merasa
begitu tetapi teman sekelas ku juga. Semua merasakan hal yang sama ternyata.
Andai kami bisa mengeluarkan guru
dan memberi mereka peraturan yang sama, mungkin sekolah bisa lebih baik dan
tidak ada paksaan dalam proses pembelajaran. Hanya mengutamakan tingkat
kesadaran siswa masing-masing. Tapi itu adalah hal yang mustahil di sekolahku.
Murid dan guru hampir ga ada bedanya
dalam pandangan ku, cuman yang membedakan adalah guru mengajar, murid yang
belajar. Tapi dalam sikap semua hampir sama.
Comments
Post a Comment
Terima Kasih telah berkunjung ke Blog saya, silahkan tinggalkan komentar anda dengan sopan.