Tere Liye - Hiks, Kupikir itu Sungguhan
Awal dari semua
kerumitan masalah ini adalah suatu malam, saat Puteri begitu semangatnya
bercerita kalau dia baru saja bertemu dengan Rio, di salah-satu tempat makan
tenda tepi jalan paling ramai dekat kampus kami.
“Kenapa lama
sekali, Put?” Sari, teman satu kontrakan bertanya, kami sedang mengerjakan
tugas desain interior di ruang tengah, bersama tiga teman cewek satu jurusan
lainnya, sibuk melototin laptop.
Putri hanya
tersenyum simpul.
“Bukannya lu
bilang mau makan di rumah? Nggak jadi dibungkus ikan gorengnya?”Aku ikut
bertanya, menoleh, “Aduh, gue kira tadi bakalan bisa ngambil bungkusan lu, Put.
Laper, nih.”
“Ngambil? Perasaan
selama ini yang ada ngerampok, maksa minta.” Sari menyikutku, tertawa.
Aku nyengir.
Putri masih tersenyum simpul, loncat duduk di sofa,
menyalakan televisi.
“Eh, sejak kapan
lu suka nonton, Put? Bukannya lu jam segini lebih suka di kamar, internetan?”
Sari bertanya lagi. Sebenarnya kami sudah mulai bosan mengerjakan tugas sejak
tadi sore, Sari sedang melemaskan badan, ikut naik ke atas sofa, membiarkan
yang lain di karpet menyelesaikan gambar desain, bercakap-cakap dengan Puteri
bisa jadi intermezzo yang baik.
“Gue lapar, nih.
Sudah nggak tahan.” Aku ikut berdiri, “Ada yang mau mie rebus?”
Semua teman-teman di karpet mengacungkan jari semangat.
Siapa pula menolak ditawari mie rebus gratis. Aku nyengir, sedikit menyesal
telah menawarkan diri, tahu semua bakal mau, mending nggak usah bilang.
Menggaruk kepala yang tidak gatal, kadang berbuat baik itu memang perlu niat,
bukan basa-basi doang.
“Eh, kenapa lu
sekarang senyum-senyum sendiri, Put?” Sari tidak ikut mengacungkan tangan,
masih sibuk menyelidiki Puteri, menatap Sari di sebelahnya, kepo, ingin tahu
urusan orang lain, “Memangnya acara di tipi lucu? Cuma siaran berita doang?”
Sari melihat sekilas layar televisi.
Puteri malah
semakin tersenyum simpul.
“Ada apa sih,
Put?” Sari penasaran.
“Rahasia.” Puteri
tertawa.
“Ayolah,” Sari
sebal mengangkat bantal di depan Puteri, agar berhenti menonton televisi,
pindah memperhatikan dia.
Puteri nyengir,
menatap Sari lamat-lamat, lantas sengaja sekali berbisik, “Rio.”
Pelan saja Puteri mengatakan kalimat itu, berbisik malah,
sengaja agar yang mendengar hanya Sari, tapi itu cukup untuk menghentikan
langkah kakiku yang persis sudah di bawah bingkai pintu menuju dapur kontrakan.
Dan juga tentu saja, tiga teman satu jurusan lain yang masih sibuk dengan tugas
di karpet ruang tengah.
What??? Rio?
Lupakan mie rebus,
bergegas balik kanan.
***
Bah,
kalau mendengarkan baik-baik cerita Puteri, aku pikir nggak ada yang spesial.
Apanya yang spesial? Puteri pergi ke warung tenda, mau bungkus makan malam menu
ikan goreng, tapi saat dia berdiri di depan abang pemilik warung yang sibuk
mencatat pesanan, sambil meneriaki juru masaknya, sudut mata Puteri menangkap
ada Rio yang ikut melangkah masuk.
“Eh, ada Puteri.
Malam, Put.” Rio tersenyum.
Aduh, semua orang di kampus juga tahu siapa Rio, gebetan
satu kampus. High class jomblo. Disenyumin seperti itu bahkan membuat Puteri seperti
sesak.
“Suka makan di
sini juga, Put?”
Puteri
mengangguk-angguk seperti orang-orangan sawah.
“Makan bareng yuk,
itu teman-teman satu kostanku juga mau makan.” Rio menunjuk beberapa teman
kampus lain yang mengambil posisi kursi masing-masing.
“Jadinya dua puluh
ribu, Neng.” Abang pemilik warung yang menerima bungkusan dari bagian masak
berseru.
“Nggak jadi dibawa
pulang, Bang. Makan di sini saja.” Puteri berbisik.
Rio sedang
menoleh, mengkoordinir pesanan temannya.
“Lah? Bukannya
Neng minta dibungkus tadi?”
“Ssshhh….” Puteri
melotot, aduh, Abang jangan pura-pura bego, tahu. Ini kesempatan emas.
Rio sudah kembali memperhatikan Puteri.
“Suka makan di
sini juga, Put?”
Puteri
mengangguk-angguk seperti orang-orangan sawah.
“Makan bareng yuk,
itu teman-teman satu kostanku juga mau makan.” Rio menunjuk beberapa teman
kampus lain yang mengambil posisi kursi masing-masing.
“Jadinya dua puluh
ribu, Neng.” Abang pemilik warung yang menerima bungkusan dari bagian masak
berseru.
“Nggak jadi dibawa
pulang, Bang. Makan di sini saja.” Puteri berbisik.
Rio sedang
menoleh, mengkoordinir pesanan temannya.
“Lah? Bukannya
Neng minta dibungkus tadi?”
“Ssshhh….” Puteri
melotot, aduh, Abang jangan pura-pura bego, tahu. Ini kesempatan emas.
Rio sudah kembali
memperhatikan Puteri.
“Terserah,
Neng-lah. Woi, makan di sini ternyata, tolong taruh di piring.” Abang warung
mana paham, tetap berteriak, menyuruh salah-satu anak buahnya.
“Eh, Put? Tadi
kamu sebenarnya mau bungkus bawa pulang, ya?” Rio bertanya.
“Nggak kok. Nggak.
Abangnya saja yang salah.” Puteri buru-buru menggeleng, “Aku memang mau makan
di sini.”
“Si Neng tega deh.
Padahal Neng sendiri yang barusan batalin dibungkus, jadi makan di sini saja.”
Abang warung masuk dalam percakapan lagi, protes.
Di
tengah asap dan aroma ikan goreng, kesibukan orang makan, dan lalu lalang
pengamen, mana paham Abang warung kalau sejak tadi Puteri sudah melotot-lotot
menyuruhnya tutup mulut. Maka jadilah Puteri makan malam bareng Rio. Bareng?
Enak saja, yang tepat itu adalah Puteri makan malam bareng enam teman kampus
lainnya. Dan itu biasa saja. Apanya yang spesial? Istimewa? Please deh, Rio itu
memang gentle, dia ramah ke semua orang, baik hati, di samping eh, tentu saja
tinggi, tampan dan pintar, plus jago main basket.
“Nana, katanya mau
bikinin mie instan?” Salah-satu teman mengerjakan tugas desain interior
nyeletuk, sesaat setelah cerita ‘versi sesat’ Puteri selesai.
“Kami ngobrol
banyak loh, Sari.” Di atas sofa, Puteri masih sibuk bercerita, yang lain masih
sibuk memperhatikan.
“Oh ya?” Sari
nyengir.
“Itu makan malam
yang menyenangkan.”
Aku yang berdiri
di belakang kerumunan, menepuk jidat. Aduh, paling juga Puteri cuma melongo
melihat teman-teman Rio ngobrol. Apanya yang menyenangkan?
“Nana, laper, nih?
Mie rebusnya buruan?”
“Sebentar, sih.”
Aku masih ingin mendengarkan cerita Puteri, memastikan beberapa hal.
“Ayo, Na. Kamu kan
paling pintar masak.”
Aku mengomel dalam hati, satu untuk cerita Puteri, satu lagi
untuk request mie rebus dari teman-teman. Sudahlah, balik kanan, kembali ke
dapur kontrakan.
“Rio bahkan nanya,
aku punya akun facebook atau nggak?” Sari masih berceloteh, terdengar.
“Oh ya?”
“Yang enak seperti
biasa ya, Na.” Teman mengerjakan tugas berseru, mengacungkan jempol
Aku tidak
menjawab.
***
Tugas
desain interior itu sudah kelar sekitar jam sembilan malam. Teman-teman sudah
pamit pulang, menyisakan aku, Sari dan Puteri penghuni kontrakan. Kami bertiga
teman sejak SMA, sekarang sama-sama kuliah di satu kampus meski berbeda
jurusan. Aku dan Sari di jurusan desain, Puteri jurusan Manajemen, dan Rio, eh,
kenapa aku harus menyebut-nyebut nama Rio lagi? Baiklah, Rio di jurusan teknik.
Karena
teman dekat, daripada nge-kost masing-masing, kami bertiga memutuskan ngontrak
rumah tiga kamar, biar lega. Aku yang punya ide ngontrak. Agar ada ruang tamu,
ruang ngumpul, dan yang pasti ada dapur. Dapur? Iya, karena aku suka masak.
Saking sukanya, sudah enam bulan terakhir, aku iseng bikin bisnis kue-kue basah
dan kering. Di dapur ada oven, peralatan bikin kue, lengkap. Tidak besar-besar
amat, hanya menerima pesanan teman-teman dekat. Mendesain sambil diselingi
bikin kue itu seru. Nah, Sari dan Puteri tentu saja tidak keberatan, malah
senang, setidaknya bisa gratis ngemil kue kalau aku lagi bikin.
“Sari! Nana!” Ada
yang berseru kencang, persis saat aku melemparkan badan di atas kasur, mau
tidur.
“Sari! Nana!” Puteri pasti akan terus berteriak memanggil
dari kamarnya kalau kami tidak ke sana.
“Ada apa, sih?” Sari masuk lebih dulu, mendekat ke Puteri
yang sedang duduk menghadap laptopnya.
“Statusku
di-like.” Wajah Puteri terlihat memerah bahagia, andaikata bisa dilustrasikan
seperti komik-komik remaja, malah ada kembang warna-warni, pelangi segala di
atas kepalanya. Tuing, tuing.
“Di like siapa?”
Sari ingin tahu, menyeruak melihat layar laptop.
“Rio.”
Aduh, aku lagi-lagi menepuk jidat. Ternyata kami dipanggil
teriak-teriak hanya karena urusan facebook.
“Tadi dia request
nge-add aku, lantas aku add. Aku kan tadi pasang status, ‘makan malam yang
menyenangkan, thx’, terus dia like.” Puteri sumringah sekali
menjelaskan—sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan.
“Lihat, kan?”
Puteri menunjuk timeline facebooknya.
Aku
balik kanan, menghela nafas, itu biasa saja kali. Rio jelas-jelas baru
terkoneksi dengan Puteri, basa-basi nge-like statusnya Puteri. Tidak ada
hubungannya dengan makan malam yang ‘menyenangkan’ barusan.
***
Maka, suasana rumah kontrakan
kami segera berubah drastis seminggu terakhir. Puteri sibuk atas ‘pertemanan’
barunya di dunia maya dengan Rio. Maksudnya, sibuk memanggil-manggil kami,
memberitahu jika ada yang ‘spesial’ menurutnya. Karena Puteri itu level
ke-GR-annya tingkat nasional, maka itu berarti apa saja berarti spesial
baginya.
Puteri
pasang status, ‘Tadi ketemu orang keren di kampus’, di like Rio, wajah Puteri
persis seperti orang habis menang quiz berhadiah pulau. Status milik Puteri
tentang, ‘Aku suka film Batman yang baru’, dikomen Rio, ‘Aku juga suka loh,
Put’. Puteri langsung berbunga-bunga, bahkan bunga sungguhan di depan rumah
kontrakan kami kalah meriah. Atau status Puteri tentang: ‘Terima kasih sudah
bayarin angkot tadi’, dikomen Rio, ‘Sama-sama, Put. Lain kali kamu yang
bayarin.’ Puteri semangat sekali bercerita panjang lebar, sampai berbusa-busa.
Demi
pertemanan sejak SMA, aku mau mendengarnya, walaupun kesal. Karena kalau
dipikir-pikir dengan akal sehat, sebenarnya apa yang spesial? Ketemu orang
keren di kampus? Boleh jadi Rio mikir itu orang lain yang dimaksud Puteri,
seharian di kampus, ada berapa ratus coba orang yang kita temui. Sama-sama suka
film Batman yang baru, siapa yang tidak? Itu bukan berarti ada kesamaan spesial
diantara Puteri dan Rio. Dibayarin ongkos angkot? Aduh, jelas-jelas Puteri lupa
bawa dompet, kebetulan satu angkota dengan Rio, masa’ Rio tega membiarkan
Puteri terpaksa jadi kernet angkot selama satu jam sebagai ganti ongkos yang
tidak mampu dibayarnya?
Tetapi tidak bagi Puteri yang
sejak kami masuk kampus itu, sudah ngebet kelas berat dengan Rio. Pertemanan
dunia maya ini terasa sungguhan benar olehnya, padahal di dunia nyata?
Apanya yang dekat?
Mereka paling cuma ngobrol satu dua kalimat, tidak ada bedanya dengan yang
lain.
“Nggak semua
kali.” Aku memotong cerita Puteri.
Puteri yang sedang
semangat cerita soal status-status facebook Rio yang ditujukan untuk ehem
pertanda ‘hubungan mereka’ menoleh padaku. Sari juga ikut menoleh.
“Nggap semua
apanya?” Puteri bertanya.
“Ya nggak semua
status Rio itu tentang kalian. Kemarin saja Rio update status proyek jembatan
tugas mata kuliah sipilnya, mana ada hubungannya dengan kalian? Kecuali Puteri
jadi inspirasi jembatannya,” Aku mengangkat bahu.
“Kok kamu tahu
status yang itu, Na?” Puteri bertanya lagi.
“Tahu saja.” Aku
masih malas menanggapi.
“Bukannya kamu
belum tersambung pertemanan dengan Rio?” Puteri menyelidik.
“Memang nggak.”
“Nah, kok kamu
tahu? Wah, ternyata ya, Nana yang alim, yang bilang nggak suka dekat-dekat sama
cowok, memeriksa timeline Rio? Ayo ngaku?” Puteri melotot.
Sari yang duduk di
tengah tertawa, melihat muka Puteri dan melihat muka merahku.
“Siapa yang
memeriksa timeline Rio? Aku cuma memastikan kalau cerita Puteri itu benar atau
nggak, hanya itu kok.” Aku membantah.
“Ayo ngaku saja, Na.” Puteri nyengir, tidak percaya, “Kamu
naksir Rio juga kan? Pantas saja setiap kali aku bercerita wajahnya berubah,
tidak terima. Ih, Nana cemburu, ya? Sayangnya, kamu tuh bukan type Rio, Na.”
Aduh,
aku menggaruk kepala yang tidak gatal, siapa yang naksir? Aku cuma memastikan,
biar Puteri tidak terlalu GR atas komen dan like Rio di facebooknya, hanya itu.
Siapa pula yang cemburu? Anak ini semakin error GR-nya.
Sari semakin
terpingkal, menonton kami yang bertengkar.
Lima
belas menit, Sari menyuruh kami berhenti. Sudah malam, Puteri sengaja masih saja
menyelidik, aku terus membantah. Kami masuk kamar masing-masing tanpa
kesimpulan, sebal malah.
Enak
saja Puteri bilang aku bukan type-nya Rio. Kalau saja aku tidak memiliki
prinsip tidak mau dekat-dekat dengan teman cowok kecuali memang mau serius, sudah
sejak dulu mudah saja membuat Rio naksir padaku. Kalau saja aku tidak memiliki
prinsip lebih baik menyibukkan diri, terus belajar, kecuali memang sudah
serius, justeru Puteri itulah yang tidak masuk sainganku.
Aku menggerutu
sebal menatap langit-langit kamar.
***
Seminggu berlalu,
tetap begitu-begitu saja kelakuan Puteri.
“Sariiii, siniii.
Ada yang baru!!” Puteri persis seperti pembawa acara berita televisi yang
sedang live liputan aksi, berseru antusias.
Aku dan Sari yang
sedang duduk, belajar di ruang tengah bersama Puteri yang asyik main internetan
di sofa, menoleh.
“Ada apa?” Sari
bertanya.
“Rio, Sar, Rio!”
Sari mendesis riang.
“Ada apa dengan
Rio?”
“Rio bilang
selamat ulang tahun.”
“Lantas?” Aku yang bertanya, sedikit tidak sopan.
“Ya tidak ada
lantas-lantasnya. Aduh, padahal aku kan ulang tahunnya baru besok loh. Ini juga
belum jam dua belas malam, loh,” Puteri cengengesan riang, “Rio orang pertama
yang bilang. Dia pasti sengaja .”
“Biasa saja kali.”
Aku kembali ke buku tebal tentang desain, “Paling juga karena setting waktu
facebook Rio pakai negara Amerika Serikat, jadi waktunya lebih cepat dibanding
kita, notifikasi ada teman yang ulang tahun muncul lebih cepat, dia tidak
sengaja kecepatan bilang, bukan sengaja ingin jadi orang yang pertama bilang.”
“Dasar
pencemburu.” Puteri melempar gulungan tissue ke arahku, tidak terima atas
analisisku—yang sebenarnya amat masuk akal itu.
Sari tertawa,
segera ber-hsss sudah-sudah jangan bertengkar.
“Benar, kan? Itu
memang tidak spesial, kan?” Aku menatap protes kepada Sari, bagaimana mungkin
Sari selalu membesarkan hati Puteri? Jelas-jelas itu hanya facebook? Di dunia
nyata, aku yakin bahkan Rio tidak akan bilang kalimat itu langsung di kampus.
“Kamu naksir Rio
kan, Na? Ayolah, ngaku saja.” Puteri nyengir, balas berseru tidak sopan.
“Bukan itu
poinnya.” Aku mengelak.
“Ayo ngaku saja,
Na” Puteri memonyongkan bibirnya, “Kasihan Nana, gebetannya ternyata naksir
aku.”
“Siapa yang naksir
kamu, Put? Rio? Aduh, jangan GR deh.” Aku balas memonyongkan bibir.
“Itu buktinya!
Komen wall di facebook. ‘Selamat ulang tahun, Put. Semoga Puteri selalu cantik
dan baik hati seperti seorang Puteri’” Puteri mana mau kalah.
Sari lupa kalau
dia harusnya melerai, sekarang malah tertawa lebar melihat kami saling berseru.
Aku berdiri kesal,
membawa buku tebal tentang desain. Baiklah, malam ini mending aku menyelesaikan
pesanan kue dari teman-teman. Masak di dapur. Daripada belajar di ruang tengah
mendengarkan celoteh Puteri yang semakin galau se-semesta. Coba bayangkan,
sejakkapan Puteri suka basket dan sepakbola? Gara-gara Rio pasang status soal
itu, dia buru-buru ikut pasang status suka klub bola favorit Rio. Sejak kapan
Puteri suka band rock? Gara-gara Rio pasang foto anggota band cadas itu, Puteri
bergegas mendeklarasikan dia paling suka dengan band itu. Menunggu-nunggu Rio
like atau komen statusnya, lantas semangat bercerita. Apanya yang spesial?
Bahkan kalau Rio nulis status dia suka ngupil atau kentut sembarangan, maka
Puteri akan menjadi orang pertama yang ikut-ikutan nulis status ngaku suka
ngupil dan kentut sembarangan juga, lantas semalaman menunggu kapan Rio akan
mengunjungi profilenya.
Aku justeru sedang
berbuat baik pada Puteri, mencoba menasehati, mengingatkan, sudah berapa kali
coba dia galau semalaman gara-gara nungguin like atau komen Rio? Ucapan selamat
ulang tahun itu biasa, Rio selalu bilang kalimat itu di wall teman-temannya
yang tersambung, dan selalu rajin yang pertama. Aku sering periksa kok, aku
tahu sekali.
“Idih, Nana
marah.” Puteri berseru di atas sofa, “Kalau marah, berarti benar, dong, Nana
juga naksir Rio?”
Sari nyengir
menatap punggungku hilang di balik pintu dapur. Tidak berkomentar, masih dengan
sisa tawanya melihat aku dan Puteri bertengkar barusan.
Puh, aku tidak
akan menghabiskan waktu mendengar lantas bertengkar soal ‘pertemanan’ akrab
mereka di facebook. Apa tadi Puteri bilang? Kasihan Nana, gebetannya naksir
aku. Omong kosong. Baik, aku akui saja, aku juga suka dengan Rio, siapa sih
yang tidak suka? Dia ideal dalam banyak hal. Aku juga suka memeriksa
timeline-nya, meski tidak berani nge-add. Karena aku tidak akan menanggapi
cowok manapun kalau hanya untuk teman dekat, kecuali teman hidup, serius.
Baiklah, bikin kue selalu berhasil mengusir sebalku selama ini.
***
Rumah kontrakanku yang selama ini selalu damai dan tenteram
jadi berantakan gara-gara dunia maya Puteri. Aku sebenarnya memutuskan berhenti
menanggapi apapun update Puteri tentang dunia itu—meski Sari tidak, Sari malah
seperti mendapat bahan hiburan baru, menggoda Puteri. Sialnya, yang namanya
tinggal satu atap, kami tetap bertemu satu sama lain, berpapasan menuju kamar
mandi, duduk di depan televisi, dan sebagainya. Kami tidak bertengkar serius
sih, namanya juga sahabat baik, tapi ‘perang dingin’ ini menjengkelkan. Apalagi
kalau Puteri sambil berpapasan, sengaja ber-cie-cie, meledek, bilang masih
cemburu nih ye, atau ehem, katanya alim, nggak mau pacaran, kenapa sekarang
malah naksir cowok? Aku rasa-rasanya mau menjitak jidat lebar dan lucu milik
Puteri.
Beruntung,
belakangan Sari lebih banyak lurus menengahi bukan tertawa melihat muka masam
kami satu sama lain. Seperti malam ini, Sari mengajak aku dan Puteri makan
bareng. Sari yang akan mentraktir, dompetnya lagi tebal, barusan dapat kiriman
dari Nyokap.
“Janji ya, tidak
ada pembahasan tentang Rio, facebook dan sebagainya.” Sari mendaftar peraturan.
Aku dan Puteri,
demi makan malam gratis di salah satu kedai fast food dekat kampus mengangguk
kompak.
“Bahkan tidak
boleh saling sindir, menyindir.” Sari melotot, memastikan.
“Siap, bos.” Aku
dan Puteri menjawab kompak.
Sayangnya, jika
aku dan Puteri sepakat untuk tidak membahas soal itu, yang bersangkutan, Rio,
justeru kebetulan sedang makan bersama teman-temannya di sana.
Aduh, aku mengeluh
dalam hati, bakal runyamlah makan malam bersama kami. Pihat, baru juga melihat
sekilas, Puteri sudah mesem-mesem terlihat riang, menyikut Sari, maksudnya,
kita bergabung ke meja mereka saja. Aku mendengus, nggak usah, jangan genit.
Puteri melotot, cuek bebek.
“Hei, kalian mau
makan di sini juga, ya?” Rio yang melihat kami saling sikut masuk kedai fast
food, justeru melambaikan tangan, berdiri, lantas menyapa, “Gabung, yuk.” Rio
seperti biasa selalu keren dan ramah, memberikan tawaran. Mata Puteri langsung
menyala seratus watt. Aku menghembuskan nafas, puh, dasar centil.
Tapi setidaknya,
saat aku mencemaskan harus menyaksikan Puteri yang terus pecicilan, ternyata
ketidaksengajaan ini memiliki manfaat tersendiri. Apa yang aku bilang selama
ini benar, kan? Lihat tuh, di dunia maya saja Puteri merasa dia dan Rio dekat
satu sama lain, lantas berseru-seru antusias di kontrakan kami. Di dunia nyata?
Kebalikannya, 180 derajat. Tidak sekalipun mereka saling bicara meski satu
meja. Rio lebih banyak ngobrol bareng temannya, sekali-dua mengajak Sari
bicara—kebetulan mereka sama-sama pengurus organisasi kemahasiswaan. Puteri?
Hanya kebanyakan senyum manis, sampai kering tuh gigi.
Dan puncaknya,
taraaa, persis makanan pesanan kami tandas masuk ke dalam perut, Rio tiba-tiba
justeru mengajakku bicara, “Eh, Nana kan, ya?”
Aku yang barusaja
duduk, habis mencuci tangan dari wastafel, mengangguk. Ada apa?
“Eh, maaf, walaupun
sering ketemu kita jarang bicara, ya.” Rio nyengir.
Aku mengangkat
bahu. Tidak masalah.
“Nana punya akun
facebook nggak sih?”
Aku mengangguk.
“Bagi dong
namanya. Nanti aku add.”
Senyum manis lima
senti Puteri yang duduk di sebeahku langsung padam.
***
Sari terpingkal
melihat wajah masam milik Puteri sepanjang perjalanan pulang naik angkot.
Terus terang saja,
aku senang sekali diajak bicara oleh Rio barusan. Bahkan hatiku seperti hendak
meletus saat Rio bertanya akun facebook. Sesaat, aku paham kenapa dulu Puteri
senang dan bertingkah aneh banget berteman dengan Rio di facebook.
“Tuh, sudah di
add, Sar.” Aku nyeletuk, memperlihatkan layar telepon genggam, kami bertiga
duduk berderet, “Kira-kira aku approve nggak sih?” Pura-pura bertanya bloon.
Di sebelah Sari,
Puteri melotot, tapi tidak bicara.
Sari tertawa, mengangguk, “Di approve dong, Na.”
“Tuh, ada komen
Rio, Sar.” Tiga puluh detik berlalu, aku lagi-lagi memperlihatkan layar telepon
genggam, sepertinya Rio yang pulang ke kostan, sedang online juga di
perjalanan.
“Dia komen apa?”
“’Wah, ternyata
bisnis kue-kue Nana sudah besar, ya. Padahal aku baru tahu tadi siang.’” Aku
sengaja membaca komen Rio seperti sedang berdeklamasi puisi. Facebook-ku memang
tidak seperti profile kebanyakan, aku tidak memakai nama asli, foto asli,
facebook-ku hanya tempat jualan kue.
Sari tertawa.
Puteri semakin melotot, tetap tidak bicara.
“Kayaknya ada yang
profile facebooknya nggak sempat dilihat sama gebetannya lagi, nih. Sejak tadi
gebetannya komen mulu di profileku sih.” Aku nyengir.
Sari berusaha
menahan tawa. Kasihan melihat tampang Puteri yang seperti hendak menangis. Aku
santai-santai saja, makanya, siapa suruh dia GR? Terbukti, kan? Saat kebenaran
itu datang, maka bagai embun yang terkena cahaya matahari, debu disiram air,
musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah
siapa? Mau menyalahkanku? Salah Rio?
“Ya ampun, dia
barusaja pasang status baru, Sar.” Kali ini aku benar-benar tidak berniat
membuat hiperbolik seruanku. Kali ini aku benar-benar deg-degan, berseru
sedikit di luar kendali.
“Memangnya status
apa?” Kepala Sari mendekat, berusaha melihat layar telepon genggam.
“‘Wanita yang bisa
membuat kue adalah wanita yang cantik dan baik hatinya. Karena kue yang enak,
selalu dihasilkan dari proses ketelatenan, kesabaran dan penuh perasaan. Itu
kata Mama.’”
Bahkan Puteri yang
sejak tadi berusaha menahan jengkel, karena digoda terus sepanjang jalan ikut
terdiam, menelan ludah. Astaga? Itu status yang menarik sekali, bukan? Aku dan
Rio baru saja saling komen soal makan malam barusan, dan bisnis kue-kue-ku yang
baru dia tahu tadi siang dan sekarang lewat facebook, tiba-tiba Rio menulis
status seperti itu. Wajahku memerah entah oleh perasaan apa. Rio?
***
Seminggu berlalu
lagi.
Rasa-rasanya aku
mulai kasihan dengan Puteri. Dia jadi lebih pendiam sekarang. Dia tidak sesebal
atau hendak menangis waktu di angkot, tapi dia tetap menghindar bicara apapun
soal facebook. Itulah kenapa aku dulu menasehatinya agar tidak GR. Rio itu memang
ramah ke semua orang. Dia memang rajin me-like, komen di profile orang lain,
tanpa maksud apapun. Lepas dari kejadian di kedai fast food, sebenarnya Rio
tetap rajin me-like dan komen di profile Puteri, tidak berubah, hanya karena
Puteri saja yang sekarang punya sudut pandang baru jadi tidak antusias lagi.
Malah semakin jarang update sesuatu.
Nah, kalau kalau
like dan komen Rio di profileku? Eh, aku berusaha untuk tidak GR, kok. Meskipun
ya, aku senang. Siapa sih tidak senang diperhatikan Rio? Tapi aku tidak GR, itu
sungguhan memang demikian. Bukan cuma sekali Rio update status soal masak,
memuji-mujiku yang pintar masak, peduli sekali dengan hal-hal kecil di timeline
facebookku, sampai setiap postingan jenis kue baru, dia ikut berkomentar
detail, bergurau, melucu.
Termasuk malam
ini, ketika Rio menulis di wallku, “Nana, kalau besok aku mau membicarakan hal
penting, kamu punya waktu nggak?”
Aku gemetar
menulis komen, “Iya, bisa, besok nggak ada jadwal kuliah. Memangnya mau
ngomongin apaan?”
Ditunggu satu jam
tetap belum direply Rio. Aku sudah galau se-semesta galaksi. Harap-harap cemas
menunggu balasan Rio—jadi paham bagaimana dulu Puteri yang semalaman susah
tidur hanya demi reply wall nggak jelas. Sedangkan wall dari Rio untukku ini
jelas-jelas amat jelas, bagaimana aku nggak galau.
“Maaf baru reply,
tadi main basket bareng teman. Ada deh, rahasia, biar surprise. Nanti Mama sama
Papa juga ikut, kok.”
Ya ampun? Rio?
Aku semaput di
dalam kamar.
Ini sungguhan?
Serius? Meski memiliki prinsip tidak mau memiliki teman cowok dekat kecuali
memang serius, aku belum siap bertemu orang tua Rio. Aduh, aku masih dua tahun
lagi kuliah—meskipun Rio sudah tinggal ujian sidang skripsi. Aku berkali-kali
bingung menulis reply komen Rio, dihapus lagi. Ditulis lagi, dihapus lagi.
Bahkan aku nyaris menelepon orang tuaku di kota lain. Hendak berkonsultasi.
Rio serius?
***
“Selamat ya, Na.”
Puteri berkata pelan.
Besok pagi-pagi,
kami berdua berpapasan di depan kamar mandi. Puteri hendak mandi, aku sudah selesai.
“Selamat apanya,
Put?”
“Facebook.” Puteri
berkata lirih, menunduk.
Aku mengangguk,
paham. Tentu saja Puteri melihat wall-ku, dia seminggu terakhir pasti terus
memonitor wall-ku dan wall Rio. Hal yang dulu kulakukan saat Puteri merasa Rio
naksir dengannya.
“Aku ikut senang,
kok.” Puteri menatapku lamat-lamat, “Nana jauh lebih baik buat Rio dibanding
aku.”
Aku tersenyum.
Puteri adalah teman sejak SMA, aku dekat dengannya lebih dari enam tahun, jadi
aku hafal tatapan matanya, dia sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku memeluk
Puteri, berbisik, terimakasih ya, Put. Kami berdamai. Puteri sudah bisa
menerima kalau selama ini dia hanya GR doang.
Sudah pukul delapan, aku harus bergegas. Rio bilang dia
menunggu di mulut gang jam delapan lewat tiga puluh. Kami akan langsung menuju
rumahnya, menumpang taksi. Ini benar-benar gila sebenarnya, aku bahkan sejak
semalam pusing memikirkan harus mengenakan pakaian apa. Cemas dengan percakapan
yang akan terjadi. Rio akan memperkenalkanku dengan orang tuanya. Ya Tuhan, aku
ngos-ngosan bahkan sekadar membayangkannya.
Rio sudah menunggu
saat aku tiba di mulut gang, dia tersenyum, aku menelan ludah, melihat
penampilannya, alangkah rapinya. Sejak kapan Rio memakai kemeja dan ikat
pinggang? Kami naik taksi, yang langsung membelah jalanan.
“Aku grogi, Rio.”
Aku berkata pelan.
Rio tertawa,
“Santai saja, Na. Orang tuaku nggak akan menggigit. Mereka menyenangkan malah.”
Aku tersenyum
simpul, tetap gugup, meremas jari.
“Aku nggak
malu-maluin, kan?”
“Kamu cantik, Na.
Apanya yang malu-maluin.”
Wajahku bersemu
merah.
“Rileks saja ya,
Na.” Rio menatapku, mengangguk.
Aku ikut
mengangguk patah-patah.
***
Rumah orang tua
Rio tidak jauh dari kampus, di sisi lain kota kami. Rio nge-kost hanya agar
bisa fleksibel ke kampus. Rumah itu luas, halamannya luas, beberapa mobil box
terparkir rapi, beberapa karyawan dengan celemek rapi, terlihat membawa
nampan-nampan kue terbungkus plastik. Juga kotak-kotak kue. Aroma kue lezat
mengambang di udara. Rio mengajakku melintasi halaman, menuju pintu depan.
Aku tiba-tiba
merasa ada yang keliru sekali.
Hiks, apa yang
pernah kubilang pada Puteri? Makanya, siapa suruh GR? Saat kebenaran itu
datang, maka bagai embun yang terkena cahaya matahari, debu disiram air, musnah
sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau
menyalahkan orang lain?
Hiks, ternyata kita senasib, Put.
Comments
Post a Comment
Terima Kasih telah berkunjung ke Blog saya, silahkan tinggalkan komentar anda dengan sopan.