UGM dan Monash University
Dua
universitas dari Australia dan Indonesia, Monash University dan Universitas
Gadjah Mada secara resmi setuju bekerjasama membantu pengembangan pendidikan
masa depan yang menyenangkan dan manusiawi.
Diwakili oleh
Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna dan Profesor John
Lougran, Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, kedua universitas
meresmikan kerjasama riset untuk mendukung pengembangan pendidikan masa depan
yang menyenangkan dan manusiawi yang digagas oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan
hari Senin (30/5/2016) di Auditorium MM UGM Yogyakarta.
Selain
penandatanganan kerjasama, acara yang dihadiri ratusan peserta berasal dari
kalangan pendidik, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, akademisi serta
perwakilan pemerintah dilanjukan oleh seminar yang bertema “Revolusi Mental
melalui Transformasi Sekolah untuk Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi”.
Dalam
keterangan yang disampaikan kepada ABC Australia Plus Indonesia, disebutkan
bahwa dengan penuh antusias, peserta yang memenuhi ruangan menyimak paparan
yang disampaikan oleh Prof J John Loughan dari Monash University, Prof Laksono
dari UGM, Ken Chatterton dari CNPS (Clayton North Primary School) dan Dr.
Muhammad N Rizal sebagai Ketua GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang dipandu
oleh Prof. Tina Afiatin dan Novi Candra, keduanya dosen Psikologi UGM.
Suara keempat
pembicara dengan pandangannya masing-masing sama yakni menegaskan bahwa esensi
pendidikan itu untuk membangun manusia bukan mengajar untuk mendapatkan nilai
tinggi, yang lebih mencerminkan kemampuan anak menghapal isi buku ataupun
catatan dari guru.
Hal itu dapat
tercapai ketika anak dilatih untuk dapat “memprediksi”, “mengamati” sekaligus
“menjelaskan” fenomena yang terjadi melalui pengetahuan yang dimilikinya.
“Sehingga anak akan memiliki kemampuan “mencipta’ dari sekedar “mengeja”, kata
Professor Lougran”.
Sedangkan,
Professor Laksono menyarankan agar pengajaran sekolah tidak boleh tercerabut
dari akarnya agar muncul konsep pendidikan yang “reflektif partisipatoris.
Ilmu yang
dipelajari digunakan untuk mengidentifikasi masalah di sekelilingnya, sekaligus
mengidentifikasi diri untuk membangun kesejarahan baru.
Ken
Chatterton juga mengungkapkan efek negatif testing dan testing yang
menceritakan hilangnya keceriaan dan inisiatif anak didiknya mendadak menjadi
pendiam dan susah bergaul sekembalinya sekolah di negara asalnya.
“Kemana
hakekat keguruan ketika mengajar hanya berorientasi pada nilai ujian nasional
tinggi namun lupa mengajarkan anak-anak “critical thinking” dan kreativitas? “,
Rizal melanjutkan pertanyaannya, “Untuk siapa Bapak-Ibu mengajar? Memenuhi
target dinas pendidikan, tuntutan orang tua atau ingin mengajar anak-anak?”.
Anak-anak kita adalah manusia bukan obyek atau robot yang selalu harus diukur dengan ujian dan PR seabrek ketika materi selesai diajarkan.
Anak-anak kita adalah manusia bukan obyek atau robot yang selalu harus diukur dengan ujian dan PR seabrek ketika materi selesai diajarkan.
Mereka butuh
ruang bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mengeksplorasi
apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga ilmu dan pengetahuan yang
diperolehnya di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sederhana
dalam kehidupan sehari-harinya.
Sekolah harus
mengajarkan kemandirian dengan mendekatkan ilmu pada realitas sosialnya.
Sekolah harus menjadi pusat saling belajar bagaimana memanusiakan anak-anak
dilakukan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menumbuhkan
sikap disiplin dan karakter positif untuk bekal ketrampilan hidupnya kelak.
Rizal
menambahkan bahwa “sekolah menyenangkan itu bukan sekolah senang-senang saja,
melainkan tempat yang membuat anak bahagia untuk mengembangkan diri dengan pola
pembelajaran nyata serta mengakomodasi setiap jengkal potensi anak anak dalam
iklim belajar yang positif dan saling menghargai.”
“Ujian boleh
dilakukan namun bukan ukuran keberhasilan, melainkan salah satu cara mengukur
kesungguhan anak dalam belajar. Yang terpenting adalah pengukuran proses
belajar bukan hasil akhir. Sehingga kemampuan komunikasi, kolaborasi (teamwork)
dan ketrampilan problem solver” (menyelesaikan masalah) anak dapat tergali
optimal.” Muhammad Nur Rizal
Rizal
menambahkan bahwa launching kerjasama riset ini merupakan lanjutan kegiatan
workshop seminggu untuk peningkatan kualitas guru-guru.
Lebih dari
dua puluh sekolah lolos seleksi untuk menjadi sekolah model sekolah
menyenangkan di Propinsi Yogyakarta dan sekitarnya.
Guru-guru ini
dilatih oleh GSM bersama tiga guru dari Clayton North Primary School, yakni Ken
Chatterton, Joane Weston dan Josie Burt yang datang ke Indonesia dengan biaya
sendiri.
Materi pelatihannya
dari merubah mindset hingga skill praktis dari membuat visi sekolah yang
terukur dan dapat diimplementasikan secara nyata menjadi kebijakan sekolah,
iklim belajar positif hingga model dan evaluasi (assessment) pembelajaran yang
menyenangkan dan manusiawi.
Guru-guru itu
bahkan diharuskan untuk mempraktikkan seluruh materi yang diwujudkan dalam
rencana belajar kepada murid-murid sekaligus mendapatkan “feedback” langsung
dari anak-anak tersebut.
Dan yang
perlu bapak-ibu ketahui, “bahwa seluruh pembiayaan operasional workshop
ditanggung bersama melalui iuran guru-guru tersebut”, ujar Rizal.
“GSM
bertujuan untuk mengisi gap antara konsep dan praktis yang justru minim
dikembangkan oleh pemerintah “, lanjut Rizal.
Dari
pendekatan gorong royong serta materi pengembangan guru-guru ala GSM kemudian
diriset oleh peneliti dari UGM dan Monash untuk mendapatkan data akurat yang
dapat digunakan sebagai acuan pengembangan selanjutnya.
Sehingga
pengembangan ke depan didasarkan suara akar rumput dari guru-guru serta
feedback langsung anak-anak dan komunitas orang tua yang terlibat.
Kami
menamakan kolaborasi ini “an educational partnership with a grass root approach
to innovative school transformation” (kemitraan pendidikan dengan pendekatan
akar rumput bagi tranformasi sekolah yang inovatif)
“UGM akan
selalu terdepan memfasilitasi inovasi riset yang diprakarsai oleh GSM ini.
Selain kegiatan ini digagas oleh dosen UGM juga memiliki dampak nyata dan
positif yang tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, malainkan bagi
pengabdian dan pengembangan masyarakat. Sesuai dengan visi dan cita-cita di
statuta kampus kami,” tegas Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr
Paripurna di akhir sambutannya.
Comments
Post a Comment
Terima Kasih telah berkunjung ke Blog saya, silahkan tinggalkan komentar anda dengan sopan.